Menanti Peran Konkret Kemenpora dan BOPI untuk Membangkitkan Kegiatan Olahraga Profesional di Tengah Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) diharapkan bisa lebih aktif lagi dalam merespons kondisi terkini olahraga di Tanah Air. Hal itu disampaikan oleh pengamat sepak bola nasional, Kesit B. Handoyo.

Saat ini, olahraga di Indonesia tengah dalam situasi mati suri lantaran imbas dari pandemi COVID-19. Hal itu pula yang membuat cabang olahraga kesulitan mendapatkan izin kegiatan dari pihak kepolisian.

Sejumlah event level nasional, seperti Pro Liga, IBL dan kompetisi sepak bola Shopee Liga 1 dan Liga 2, tidak bisa berjalan. Ada yang memang menghentikan kegiatan karena kebijakan organisasi, ada pula yang tidak berjalan karena tidak mendapatkan izin, seperti yang dialami PSSI.

Menurut Kesit, yang kerap menjadi komentator pertandingan sepak bola, sejak ada pandemi COVID-19 belum ada peran konkret dari Kemenpora dalam memberikan solusi bagi dunia olahraga Indonesia yang terdampak karena tidak dapat menjalankan aktivitasnya.

"Khususnya terkait olahraga profesional, seperti sepak bola, bola basket, dan bola voli. Praktis mereka benar-benar terpuruk karena tidak bisa melanjutkan atau menjalankan pertandingan atau kompetisi," ujar Kesit B. Handoyo kepada Bola.com, Jumat (6/11/2020).

Setali tiga uang, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), pun kata Kesit, hilang bak ditelan bumi. Sebagai lembaga yang mengurus olahraga profesional di bawah Kemenpora, sejatinya BOPI bisa memperlihatkan perannya dalam mencari solusi.

"Sejatinya BOPI tidak tinggal diam. Mereka harus pro-aktif mendengar keluhan para pelaku olahraga profesional pada masa pandemi ini. Memberikan jalan keluar seyogyanya bisa diberikan badan ini," ujarnya.

Kesit menambahkan pandemi COVID-19 sangat menghantam dunia olahraga Indonesia. Menurutnya, para pelaku olahraga profesional jangan dibiarkan berjalan sendiri. Ketika daya upaya untuk dapat menggelar pertandingan tak membuahkan hasil, maka sandaran terakhir mereka adalah pemerintah.

"Kepada siapa lagi mereka mengadu dan berkeluh kesah, kalau bukan kepada pemerintah? Sayangnya pemerintah juga tidak bisa memberikan jalan keluar. Pemerintah terkesan pasrah dan tak mampu memberikan solusi," ungkapnya.

Sepak Bola Terdampak Besar

Duel antara pemain muda Arema FC, Feby Eka Putra, dan bek senior Persib Bandung, Supardi Nasir, kala kedua tim bertemu di pekan kedua Shopee Liga 1 2020 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (8/3/2020). (Bola.com/Iwan Setiawan)
Duel antara pemain muda Arema FC, Feby Eka Putra, dan bek senior Persib Bandung, Supardi Nasir, kala kedua tim bertemu di pekan kedua Shopee Liga 1 2020 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (8/3/2020). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Menurut Kesit, dibandingkan cabang olahraga lainnya, sepak bola adalah cabang yang paling menderita di tengah pandemi ini. Harapan meneruskan kompetisi pada Oktober lalu kandas, pun demikian pada November karena tak juga mendapat izin dari kepolisian.

Padahal, cabang olahraga paling populer ini banyak berharap kepada peran pemerintah, khususnya Kemenpora, untuk ikut membantu meyakinkan pihak kepolisian bahwa liga bisa dijalankan dengan penerapan protokol kesehatan yang super ketat.

"Sayangnya, pihak Kemenpora juga seperti tak mampu berbuat banyak dalam ikut 'merayu' aparat kepolisian. Akibatnya bisa ditebak. Liga pun tak bisa berjalan sesuai harapan. Dampaknya tentu makin terasa. Klub-klub yan sudah babak belur, kini semakin tidak karuan nasibnya," ujar Kesit.

"Begitu pun dengan para pemain, pelatih, dan osifial lainnya. Mereka benar-benar dipaksa menerima keadaan ini tanpa ada solusi yang ditawarkan pemerintah dalam mengatasi kondisi di tengah pandemi," Kesit B Handoyo mengakhiri pembicaraan.

Video