Menanti Ratu Badak Melahirkan di Way Kambas  

TEMPO.CO, Way Kambas - Kesibukan luar biasa kini mewarnai Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Ratu, salah satu induk badak di lokasi penangkaran itu, sedang menghadapi proses melahirkan. Peristiwa langka itu bakal terjadi pada akhir Juni ini.

»Proses melahirkannya bisa maju atau mundur waktunya karena sedikitnya referensi tentang kehamilan badak Sumatera. SRS akan mencatat sejarah sendiri jika kelahiran dapat berjalan sesuai harapan kita,” kata juru bicara Balai Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko, Kamis, 21 Juni 2012.

Ratu merupakan satu dari empat ekor penghuni SRS. Badak betina liar itu sukses dikawinkan dengan badak pejantan bernama Andalas. Juni ini, usia kehamilan Ratu telah mencapai 15 bulan. Berdasarkan referensi dari Cincinnati Zoo, masa kehamilan badak Sumatera berkisar 475 hari (15 hingga 16 bulan). Dengan demikian, Ratu diprediksi melahirkan pada minggu ke-4 Juni.

Menurut Sukatmoko, saat ini detak atau denyut jantung calon ibu baru itu terlihat jelas dan normal yang berarti kondisi kehamilan yang baik. »Hanya saja bagian tubuh janin sulit dilihat dengan alat karena sudah besar sehingga hanya bisa melihat bagian per bagian saja, seperti kaki, pusar, tulang belakang dan beberapa organ tubuh lainnya,” ujarnya sembari senyum semringah.

Dalam menangani kehamilan, keselamatan induk badak menjadi prioritas utama. Karena itu untuk menjaga keamanan dan ketenangan Ratu yang sedang hamil tua, sejak bulan lalu pengunjung dilarang masuk ke penangkaran. »Dia butuh ketenangan dan agar kondisi terbaik bisa terjaga,” kata Sukatmoko.

Ratu saat ini di tempatkan di sebuah paddock di depan kantor SRS. Dengan fasilitas melahirkan berupa stall seluas 6 x 8 meter di lokasi 100 meter dari pinggir jalan yang didesain sedemikian rupa agar induk dan anak badak aman dan nyaman ketika proses melahirkan.

Paddock dilengkapi empat kamera pengintai atau circuit closed television (CCTV) untuk mengontrol perilaku Ratu selama mengandung hingga hamil. Pengunjung hanya dibolehkan melihat polah Ratu melalui kamera CCTV. »Ratu sangat sensitif dan kami khawatir akan membuat Ratu stres,” ucap Sukatmoko.

Tim juga telah menyiapkan peralatan darurat yang diperlukan sesuai dengan skenario kelahiran badak, dari yang terbaik sampai yang terburuk. Di antaranya obat-obatan, termasuk bius dan infus, peralatan bedah caesar yang menjadi pilihan terakhir tim, dan peralatan fetotomy (apabila anak badak mati di dalam kandungan dan perlu segera dikeluarkan agar induk selamat).

Sukatmoko berharap proses kelahiran Ratu dapat berjalan lancar. Menurut dia, populasi badak Sumatera yang merupakan spesies badak terkecil di dunia dengan tinggi bahu 120 hingga 145 sentimeter itu terus menurun.

Hingga saat ini, spesies badak Sumatera diperkirakan hanya tersisa kurang dari 200 ekor yang berada di habitat alami seperti di Taman Nasional Way Kambas. »Kami saat ini hanya merawat empat ekor. Satu jantan dan tiga betina. Betapa gembiranya kami jika proses kelahiran berhasil,” katanya.

Belasan ahli badak saat ini juga sudah berkumpul di SRS Taman Nasional Way Kambas. Mereka memantau perkembangan kehamilan Ratu. Di antaranya Benn Bryan dari Tarongan WPZ Australia, Scott Citino dari White Oak Conservation Centre Amerika. Ada pula sejumlah pawang dari Cincinnati Zoo Amerika, Paul Reinhart, juga Susie Ellis dari International Rhino Fondation (IRF), Bibhab K Talukdar dari IRF Asia dan Asian Rhino Specialis Group IUCN.

Mereka diketuai oleh Dedi Chandra dari Taman Safari Bogor. Mereka akan bekerja penuh kehati-hatian untuk membantu proses kelahiran yang sangat langka di dunia. "Kami sudah siap menanti kelahiran Ratu, bahkan sejak awal Juni para ahli hewan telah datang ke Suaka Rhino Sumatera," kata Dedi Candra yang juga menjadi ketua tim dokter yang akan membantu proses persalinan Si Ratu Badak.

Dedi mengatakan tim secara rutin melakukan USG satu sampai empat minggu sekali. Namun sejak tanggal 10 Juni lalu, pemeriksaan USG diintensifkan tiga menjadi  hari sekali. »Tidak hanya itu. Sejak awal bulan lalu Ratu mendapat penjagaan dan dipantau selama 24 jam oleh petugas. Pengamanan di lokasi juga diperketat dengan melibatkan empat orang polisi hutan dan petugas keamanan dari SRS,” tuturnya.

Pengelola Taman Nasional Way Kambas memang tampak begitu sibuk. Mereka diliputi rasa kecemasan menanti kelahiran anak pertama dari rahim Ratu.

NUROCHMAN ARRAZIE

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.