Menanti Saat yang Tepat untuk Kehadiran Yamaha MT-09 Turbocharger

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kabar tentang Yamaha yang sedang mengerjakan proyek motor berturbocharger kembali mencuat. Pasalnya ada bukti yang beredar di dunia maya yang menguatkannya. Ya, Yamaha MT-09 bakal pakai turbocharger.

Bukti itu terkuak ketika Yamaha, seperti dilansir Cycle World, kedapatan mangajukan blue print tentang teknologi turbonya. Mesin Yamaha MT-09 akan menjadi prototipenya.

Bila itu direalisasikan, unit itu mampu mengusik eksistensi Kawasaki ZH2 yang lebih dulu hadir.

Kini semua tampak jelas, gambar paten yang tersebar menunjukkan kalau mereka menggunakan mesin tiga silinder dari Yamaha MT-09. Ada perbedaan ukuran bore x stroke jika dibanding versi reguler. Diameternya lebih kecil (73 mm) dan panjang langkahnya menjadi 67,5 mm. Sementara model lama bore 78 mm dan stroke 59,1 mm. Itu dilakukan pabrikan untuk menghasilkan putaran mesin maksimal di putaran rendah dan memfokuskan terhadap torsi.

Cara Memangkas Emisi Yamaha MT-09 Turbocharger

Mesin Yamaha MT-09 menjadi purwarupa penggunaan perangkat turbocharger. (Cycle World)
Mesin Yamaha MT-09 menjadi purwarupa penggunaan perangkat turbocharger. (Cycle World)

Seperti kita ketahui, turbocharger tidak bertanggung jawab atas peningkatan emisi. Makanya Yamaha memberikannya fitur injeksi bahan bakar langsung, menyemprotkan gas langsung ke ruang bakar, bukan ke badan throttle.

Semua ditembak langsung sebelum busi memercikan api untuk mengurangi kemungkinan bahan bakar yang tidak terbakar keluar ke knalpot. Yamaha juga menambahkan variable valve timing ke camshaft intake dan exhaust, teknologi jenis ini meniru yang umum pada mobil modern.

Dengan konsep seperti ini, prototipe Yamaha bisa mendapat tenaga besar sekaligus memangkas emisi secara drastis. Output CO2 sekitar 30 persen lebih rendah daripada mesin konvensional non-turbo dengan tingkat tenaga atau torsi yang sama. Sedang emisi karbon monoksida, NOx, hidrokarbon, dan partikulat semuanya jauh di bawah setengah dari tingkat yang disyaratkan oleh standar emisi Euro 5 terbaru.

Mencari Performa Terbaik

Selain itu, turbo lag selalu membayangi teknologi turbocharger, tapi Yamaha punya jawabannya. Mereka memecahkan problem itu selama pengembangan prototipe. Yamaha menggunakan elektronik kontrol-penguat yang canggih. Sehingga selama pengujian pada 3.000 rpm pada gigi ketiga hanya membutuhkan satu detik untuk mencapai 90 persen torsi puncak.

Motor yang sedang dirancang tampaknya menggunakan sasis MT-10. Rangka Deltabox, swingarm, fork, dan bahkan sebagian besar bodywork-nya, termasuk tangki dan buntutnya serupa dengan MT series tertinggi.

Panel samping menyembunyikan intercooler turbo, dibuat khusus untuk prototipe. Sementara radiator dibuat menggantung tidak nyaman di dekat tanah di bawahnya. Perlu diingat, prototipe ini hanya mengeksplorasi teknologi turbo, bukan desain yang ditujukan untuk produksi dalam bentuk ini, atau semacamnya.

Dengan tenaga sekitar 12,5 persen lebih besar dari MT-10 dan peningkatan 50 persen pada torsi puncak, fakta bahwa prototipe ini lebih berat sekitar 19 kg daripada MT-10 dengan bobot 229 kg. Sasisnya juga dibuat khusus agar sesuai dengan mesin, beberapa kelebihan bobot itu mungkin juga bisa dipangkas.

Menunggu Saat yang Tepat

Kemungkinan besar Yamaha tidak akan mengubah prototipe awal ini langsung menjadi model produksi. Tetapi jelas bahwa perusahaan tersebut tetap percaya pada teknologi yang digunakannya, termasuk turbo, injeksi langsung, dan timing katup variabel. Perlu diingat bahwa Kawasaki sibuk mengajukan aplikasi paten dan mengembangkan prototipe untuk Ninja H2 supercharged lima tahun penuh sebelum model produksinya diluncurkan.

Belum adanya tanggal perkenalan atau persyaratan yang ditetapkan untuk batas emisi Euro 6, kemungkinan besar Yamaha menunggu waktunya sampai tahu di mana targetnya sebelum melanjutkan proyek ini.

Untuk diketahui, Sejak tahun lalu Yamaha dikabarkan tengah merancang motor sport berteknologi turbocharger. Purwarupa yang bocor saat itu memakai platform Yamaha MT-09 berkubikasi 847 cc dengan konfigurasi mesin 3-silinder. Tapi dengan penyematan turbo, jumlah silinder dikurangi satu. Itu dilakukan demi menyisakan ruang untuk meletakkan turbocharger.

Suzuki juga sedang mengerjakan sepeda motor dengan turbocharger saat ini, dengan Recursion parallel twin perlahan menuju produksi. Sementara Honda telah mematenkan desain untuk Africa Twin versi supercharged. Dan tentu saja Kawasaki jelas memimpin dengan rangkaian H2-nya.

Sumber: Oto.com (Bgx/Tom)

Infografis Pilihan:

motor listrik lebih murah dalam perawatan, tapi tidak untuk baterai (liputan6.com/abdillah)
motor listrik lebih murah dalam perawatan, tapi tidak untuk baterai (liputan6.com/abdillah)

Simak Video Pilihan Berikut Ini: