Menanti Tabir Kasus Kematian Brigadir J Terungkap

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) masih mengusut kasus kematian Brigadir Nopriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J, lewat tiga Laporan Polisi (LP) yakni dugaan pelecehan, dugaan pengancaman disertai kekerasan dan dugaan pembunuhan berencana.

Ketiga laporan tersebut berkaitan dalam peristiwa 'polisi tembak polisi' yang terjadi di rumah dinas Kadiv Propam Polri Nonaktif Irjen Ferdy Sambo. Serta turut menyeret nama istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi dan ajudan Bharada E.

Dalam kasus dugaan pembunuhan berencana, pihak kuasa hukum keluarga Brigadir J yang melaporkan LP tersebut telah dimintai keterangan pada Selasa (2/8). Kesempatan itu pun digunakan untuk membeberkan informasi terkait hasil autopsi ulang yang telah dilakukan terhadap jasad almarhum.

"Jadi intinya adalah merubah berita acara menjadi berita acara pemeriksaan pelapor atau saksi atau menjadi pro justitia, kemudian kita ada keterangan tambahan di luar daripada yang sudah ditanyakan kepada pemeriksaan dahulu, yaitu bahwa kita ada menemukan pertama itu soal hasil daripada autopsi ulang atau visum et repertum ulang yang sudah dijelaskan tadi," kata Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

"Di mana berdasarkan hasil autopsi ulang yang dilihat oleh duta kita atau wakil kita yang berprofesi dokter dan magister kesehatan, ternyata ditemukan luka itu luka tembak dari belakang nembus hidung, itu saja tambahannya," sambungnya.

Kamarudin mengatakan, tiga temuan luka tembak lainnya ada dari leher ke bibir bawah kiri, dari dada kiri ke belakang dengan tegak lurus, juga ada di tangan sebelah kanan. Dia pun mengungkit keterangan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan yang menyatakan ada empat dari lima peluru yang diduga menembus tubuh.

"Tetapi di luar daripada empat peluru ini atau diduga tembus karena peluru ini kan banyak lagi luka lain, yaitu luka di bawah mata beberapa sayatan, kemudian di atas, kemudian luka terbuka di apa namanya, di bahu, kemudian memar lebam di kanan kiri tulang rusuk, kemudian tangan patah, jari-jari dipatah-patahin, sama luka terbuka di jari manis, kemudian di kaki, di lipatan kaki ini, kemudian di bawah pergelangan kaki, kemudian di kanan," ujarnya.

"Kemudian ada juga pankreas diduga hilang atau tidak ditemukan, demikian juga kantung kemih diduga hilang atau tidak ditemukan, itu saja. Kemudian otak pindah dari atas ke dalam apa namanya, dada, itu saja yang kita jelaskan," lanjut Kamarudin.

Di hadapan penyidik, dia mengaku turut membahas keberadaan ponsel Brigadir J. Menurutnya, soal ada tidaknya atau pun jumlah sebenarnya dari ponsel tersebut pun masih menjadi misteri.

"Mereka semua tidak ada yang berani menjawab. Lalu saya tanya apakah saya harus berkirim surat untuk menanyakan itu sudah dikuasai penyidik handphonenya, yaitu tiga handphone dengan empat nomor, karena saya menggunakan metode aplikasi ternyata semua isi handphone itu sudah dihapus saya bilang, mereka tidak berani menjawab. Lalu mereka bilang biar sebaiknya saya bersurat ke Kabareskrim atau kepada Dirtipidum," terangnya.

Selain itu, Kamarudin juga mempertanyakan keberadaan pakaian milik Brigadir J saat insiden adu tembak hingga meninggal dunia, baik baju, celana hingga kaos kaki. Kembali menurutnya penyidik tidak bisa menjawab hal tersebut dan keseluruhannya kini masuk dalam BAP.

"Kenapa tanya soal baju, kalau ditembak berati bajunya bolong dan berdarah. Kalau ditembak dari belakang, otaknya, darahnya, bercucuran kena ke baju. Kemudian dilukai di pundak kanan, tentu bajunya juga rusak karena sampai luka terbuka, apakah itu karena golok atau sayatan, kita belum tahu. Dengan ada bajunya akan ketahuan. Karena dia luka terbuka akan berdarah," tukas Kamarudin.

Dia pun masih sangat meyakini adanya penyiksaan yang dialami Brigadir J sebelum akhirnya meninggal dunia. Sebab, terdapat luka-luka selain hasil empat butir timah panas yang menembus tubuh almarhum.

"Sudah pasti, sudah pasti (penganiayaan), karena penjelasan Karo Penmas yang pertama, berdasarkan autopsi yang pertama kan hanya empat tembakan yang kena dari lima tembakan. Tadi sudah kita urai, tembakan pertama di kepala bagian belakang, tembakan kedua di leher tembus ke bibir bawah kiri, tembakan ke tiga dada kiri ke belakang, tembakan ke empat lengan kiri bawah. Nah di luar ini banyak luka," tuturnya.

"Ini akibat apa, kan harus ada penjelasan ilmiah. Coba dijelaskan secara ilmiah nanti oleh dokter foresik apa penyebabnya," ujar Kamarudin.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pun diminta lebih awas dalam meneliti barang bukti elektronik, terutama temuan CCTV dalam peristiwa adu tembak ajudan Irjen Ferdy Sambo. Pasalnya, dunia siber tentu rawan praktik duplikasi atau pun pemalsuan.

"Kalau belum diuji bisa saja itu editan. Bisa saja CCTV yang lalu dibuat seolah-olah pada hari itu, apalagi kalau kita lihat konstruksi percakapan keluarga itu kan dibaca 16.25 tanggal 8 Juli masih ada percakapan, tapi Kapolres Jaksel sudah menemukan mayat jam 17.00, artinya cuma 35 menit," jelas Kamarudin.

"Pertanyaannya, kapan pelecehannya, jam berapa, kapan tembak-tembakannya, kapan atau berapa menit Bu Putri telepon suaminya, kapan atau berapa menit suaminya datang ke TKP, kapan atau berapa menit bapak Ferdy datang ke TKP dan menelpon Kapolres, dan Kapolres Jaksel ada di mana sehingga dalam waktu singkat jam 17.00 sudah menemukan mayat di rumah dinas dalam waktu 35 menit kita hitung dari sejak membaca percakapan keluarga. Apa ya mungkin semua peristiwa sebanyak itu hanya dalam 35 menit, ini kan pakai logika," tandasnya.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyebut jika Putri Candrawathi menjadi salah satu saksi kunci dalam mengungkap kasus dugaan pelecehan yang diduga dilakukan Brigadir J.

"Dugaan pelecehan seksual yang ada siapa? Hanya ibu Putri yang bisa memberikan keterangan," ucap Taufan kepada wartawan, Selasa (2/8).

Alasan itu, lanjut Taufan, cukup logis apabila ingin mengungkap adanya dugaan tindakan pelecehan sebagaimana laporan yang saat ini telah naik penyidikan dan ditangani Bareskrim Polri.

Menurutnya, kejadian pelecehan yang menjadi pemicu terjadi baku tembak berujung tewasnya Brigadir J, tidak disaksikan dua ajudan Ferdy Sambo yakni Bripka Ricky dan Bharada E. Alhasil, satu-satunya orang yang dapat dimintai keterangan terkait kejadian itu hanya Putri.

"Kan Ricky dan Bharada E tidak menyaksikan. Dia hanya mendengar teriakan dari ibu itu. Tidak tahu kenapa teriakan terjadi. Berarti saksi hidup yang ada hanyalah Ibu Putri," kata dia.

Namun demikian, Taufan mengatakan bila proses pemeriksaan terhadap Istri Irjen Ferdy Sambo itu belum dijadwalkan. Mengingat kondisi psikisnya masih trauma.

"Itu pun kita belum ketemu dia. Karena masalah psikologis. Dengan LPSK juga belum menyelesaikan prosedurnya. Maka bagaimana kita menyimpulkannya. Belum bisa. Apakah itu benar terjadi atau tidak," ungkap Taufan.

Atas hal tersebut, Taufan mengatakan jika Putri adalah salah satu kunci sebagai saksi mata yang melihat rentetan peristiwa mulai dari pelecehan sampai insiden baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E di rumah dinas, Kompleks Perumahan Polri Duren Tiga, Jaksel.

"Padahal, seluruh peristiwa ini titik krusialnya tumpunya ada di Bu Putri menjawab apakah tembak menembak, siapa yang melakukannya, pelecehan seksual ini benar ada atau tidak. Saya kira itu," ucapnya.

"Jadi kita enggak perlu berspekulasi macam-macam. Komnas tidak mau berspekulasi sebelum semua fakta-fakta itu bisa kami kumpulkan," tambah dia.

Komisoner Komnas HAM Choirul Anam mengungkapkan, pihaknya kembali mendapatkan fakta baru dalam penyelidikan kasus baku tembak sesama polisi yang menewaskan Brigadir J atau Nofriansyah Yoshua Hutabarat.

Dia menyampaikan, temuan pertama adalah dokumentasi foto di Magelang, Jawa Tengah. Di mana titik keberangkatan rombongan Putri Chandrawathi, Bharada E dan Brigadir J untuk menuju Jakarta.

"Terkait apa yang terjadi di Magelang. Kami ditunjukkan dokumen foto," kata Anam kepada wartawan, Senin (1/8).

Kendati demikian terkait foto dokumentasi di Magelang siapa saja dan momennya yang terpotret seperti apa, Anam belum bisa menjelaskannya, karena perlu didalami lebih lanjut. Pasalnya dia mengatakan jika temuan itu masih harus dikonfirmasi ulang.

"Tidak bisa kamu tampilkan, karena itu harus kami verifikasi. Terus kami juga diperkaya dengan cerita-cerita yang terkait di Magelang," kata Anam.

Namun demikian, fakta dokumentasi disebutkan usai memeriksa terhadap asisten rumah tangga (ART) dan satu ajudan Ferdy Sambo yang sebelumnya tidak memenuhi agenda pemeriksaan.

Sementara untuk temuan baru lainnya, Anam mengatakan pihaknya telah berhasil mengantongi hasil PCR. Diketahui proses PCR itu dilakukan sebelum baku tembak yang terjadi pada Jumat 8 Juli 2022 sore.

"Memang kami mendapatkan hasil PCR walaupun petugas PCR-nya pada kesempatan tadi belum sempat untuk datang. Kami hubungi memang dia swasta, bukan anggota kepolisian," kata Anam.

Layanan tes PCR Covid-19 yang dipakai oleh istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Brigadir J, Bharada E serta ART di lakukan di rumah pribadi Jalan Saguling, yang masih berada di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tes PCR mereka lakukan, usai perjalanan mereka dari Magelang.

Adapun Hasil PCR tersebut dianggap penting karena diklaim menguatkan waktu demi waktu konstruksi peristiwa yang telah didapat Komnas HAM.

"Yang pasti membuktikan semua sekuel-sekuel yang ada dalam konstruksi peristiwa, konstruksi peristiwa dalam kasus ini salah satunya muncul juga terkait ada tidaknya PCR, dan kita memang atensi publik juga ngomong soal itu, dan kita memang melacak sampai situ," jelas Anam.

Akan tetapi saat dicecar pertanyaan terkait hasil tes PCR apakah termasuk dengan yang dimiliki Irjen Ferdy Sambo, Anam enggan menjawab. Dia meminta segala hal yang berkaitan dengan Jenderal Bintang Dua itu bakal dijelaskan usai Komnas HAM memeriksanya.

"Soal Pak Ferdy Sambo nanti ketika pemeriksaan Pak Ferdy sambo," kata Anam.

Diketahui bahwa Irjen Ferdy Sambo disebut tengah melangsungkan tes PCR ketika terjadinya insiden baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E di rumah dinasnya atau tempat kejadian perkara (TKP) di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jaksel.

Tim Khusus (Timsus) Polri telah menyambangi TKP kasus kematian Brigadir J dalam peristiwa adu tembak ajudan Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, untuk melaksanakan pendalaman uji balistik.

"Baru kali pertama untuk uji balistik, dari hasil labfor kemudian didalami di TKP dengan melibatkan dari Inafis, dari kedokteran forensik, dan penyidik gabungan dari Polda Metro dan Bareskrim," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (1/8).

Menurut Dedi, timsus melakukan proses pendalaman uji balistik secara menyeluruh tanpa ada ketinggalan fakta apapun dalam kasus kematian Brigadir Yoshua. Termasuk menggali secara akurat sudut dan jarak tembakan.

Lebih lanjut, Dedi memastikan seluruh hasil dari pendalaman uji balistik akan disampaikan secara transaparan dan komprehensif. Untuk itu, dia meminta publik dapat bersabar menunggu informasi penanganan kasus secara utuh.

"Karena timsus bekerja tetap mengedepankan ketelitian, kecermatan, juga kehati-hatian. Karena kerja timsus nanti akan disampaikan secara komprehensif dan memiliki konsekuensi yuridis," kata jenderal bintang dua Polri ini menandaskan.

Bareskrim Polri sendiri resmi menarik seluruh kasus yang terkait dengan kematian Brigadir J dalam peristiwa adu tembak ajudan Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Diketahui, dua Laporan Polisi (LP) lainnya ditangani Polda Metro Jaya dengan perkara dugaan pelecehan dan dugaan pengancaman disertai kekerasan terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

"Dijadikan satu agar efektif dan efisien dalam manajemen sidiknya," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Minggu (31/7).

Bareskrim Polri awalnya menangani LP kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Adapun kini, seluruh laporan tersebut telah disatukan dan nantinya penyidik Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Selatan tetap akan dilibatkan dalam penyidikan perkara tersebut.

Reporter: Nanda Perdana Putra [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel