Menatap masa depan warga Seko setelah terlepas dari wilayah terisolir

·Bacaan 5 menit

Warga Kecamatan Seko, Luwu Utara saat ini bisa dibilang sebagai penduduk yang paling bahagia saat ini. Pasalnya, daerah tersebut kini tidak lagi terisolir, karena akses jalan menuju daerah itu sudah terbuka.

Jalan beraspal di sebagian besar ruas jalan poros Sabbang-Seko Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan itu kini membangkitkan asa warga setempat, yang dipastikan ikut menggeliatkan ekonomi masyarakat.

Seko, merupakan dataran tinggi berbukit-bukit terletak sekitar 1200–1800 meter di atas permukaan laut di segitiga perbatasan antara Propinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Daerah ini memiliki luas wilayah 2.109,19 Km2, merupakan kecamatan terluas dan terjauh dengan jarak sekitar 120 km dari ibu kota Kabupaten Luwu Utara.

Sebelum infrastruktur jalan ini terbuka seperti sekarang, kondisi jalanan berbatu, berlumpur, dan berkubang. Hanya kendaraan roda dua yang telah dimodifikasi bisa melintasi jalur tersebut.

Untuk menuju Masamba sebagai Ibukota Kabupaten Luwu Utara misalnya, penduduk harus mengeluarkan biaya hingga Rp1 juta menyewa ojek dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 2 hari. Biaya sebesar itu sangat memberatkan penduduk yang umumnya bekerja sebagai petani.

Dengan tarif sebesar itu, bahkan ojek di daerah ini sempat dijuluki sebagai tarif ojek termahal di dunia. Tarif yang dipasang dirasakan sesuai dengan beratnya medan yang ditempuh untuk menuju Kecamatan Seko yang harus melalui perbukitan, naik turun bahkan harus melewati kubangan berlumpur sepinggang orang dewasa.

Kini, sejak adanya pembangunan jalan, waktu tempuh menuju ibu kota kabupaten hanya sekitar jam lamanya. Akses jalan juga sudah bisa dilalui kendaraan roda empat sehingga menjadi lebih efisien dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Dulu kita naik ojek karena akses jalan hanya ini. Sekarang sudah lebih bagus dibanding tahun-tahun lalu. Bisa tiga hari perjalanan baru sampai di Seko, sekarang satu hari bisa tembus, bahkan bisa pulang balik. Kita sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jalan,” kata salah satu warga Seko, Lutra bernama Arsyad.

Puluhan tahun hidup di jorong terisolir, warga Sabbang-Seko akhirnya bisa menikmati jalan mulus beraspal.

Dari Tugu Durian Kecamatan Sabbang, kini waktu tempuh perjalanan lebih dari 1 jam 30 menit menyusuri perbukitan yang beraspal. Jalanan menanjak ke atas dengan sisi kiri tampak Sungai Rongkong yang mengalir deras dan di sisi kanannya hutan tropis dengan tebing yang terjal.

Memasuki Kecamatan Rongkong, sejumlah alat berat mulai tampak melakukan pengerasan jalan, yang memang masih menyajikan kondisi jalanan belum beraspal dan kian berkelok. Sehingga pengaspalan jalan sudah sampai pada wilayah perbatasan antara Rongkong dengan Seko.

Jalan beraspal Seko-Rakkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. ANTARA Foto/HO
Jalan beraspal Seko-Rakkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. ANTARA Foto/HO

Perhatian khusus

Pembangunan infrastruktur daerah terisolir Seko, Luwu Utara memang mendapat perhatian khusus Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada masa kepemimpinan Gubernur Sulsel nonaktif Prof HM Nurdin Abdullah.

Seorang warga Kota Masamba bernama Nurbaeti mengapresiasi langkah Pemprov Sulsel, khususnya bagi Nurdin Abdullah yang memberikan kemudahan akses menuju Seko.

Manfaatnya sangat terasa, apalagi aktivitasnya yang rutin ke wilayah perbatasan Rongkong-Seko membeli hasil pertanian untuk kemudian dijual.

“Pak Gubernur-lah (Nurdin Abdullah) satu-satunya yang memberikan akses jalan di sini,” ujarnya.

Seorang mahasiswa Unanda Palopo Muhammad Aksa Afandi, ikut mengapresiasi pembangunan infrastruktur di Luwu Utara, khususnya pengaspalan jalan dari Sabbang-Rongkong-Seko sebagai peningkatan besar di daerah terisolir.

Menurutnya, pembangunan itu tidak terlepas dari peran Nurdin Abdullah. Ia berharap, jalan ke Kecamatan Seko bisa segera dituntaskan.

"Saya sebagai warga Lutra sangat berterima kasih kepada Bapak NA yang telah melakukan pembangunan di Tanah Rongkong ini. Kami berharap, NA tetap sehat dan diberi samangat dalam menjalani proses hukum," ujar pria berumur 22 tahun itu.


Semakin produktif

Seiring dengan pembangunan infrastruktur yang diinisiasi oleh Nurdin Abdullah (NA), listrik PLN juga mulai masuk dan kian dinikmati warga di Kecamatan Tanah Rongkong hingga Seko.

Olehnya, warga semakin produktif, bahkan mobilitas warga untuk menjual hasil perkebunan ke daerah kota semakin meningkat.

Apalagi, daerah tersebut dikenal sebagai penghasil cokelat, kopi, beras, kain tenun, dan tanaman holtikultura lainnya.

Kepala Urusan Umum (Kaur) Desa Rinding Allo Kec Rongkong Saing merasa sangat bersyukur. Baginya, Nurdin Abdullah sangat berjasa telah membangun jalan di daerah pegunungan.

Menjadi kesyukuran bagi warga setempat karena memudahkan akses penjualan hasil tani kepada pembeli, sehingga roda perekonomian terus berputar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan masyarakat banyak yang bercocok tanam. Jika dulu petani harus berjuang membawa hasil kebun ke Sabbang dengan jarak tempuh berhari-hari, kini pembeli sudah masuk ke Rongkong hingga Seko.

"Dahulu, berapapun harganya pasti akan kami jual,” kata dia.

Sementara itu, Kepala UPT Penyelenggaran Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Wilayah I Luwu Utara, Makmur optimistis pembangunan ruas jalan Sabbang-Seko bisa memacu sumber perekonomian baru masyarakat.

Apalagi, menurut dia, efek dominonya sudah mulai terasa. Kehadiran infrastruktur mulai berdampak di berbagai sektor.

Jadi harga komoditas juga, karena dahulu barang-barang memerlukan biaya yang tinggi untuk sampai ke Seko, sekarang harga barang cenderung turun semua.

Aktivitas warga Seko yang dulunya terisolir dan telah bisa menikmati jalan beraspal Seko-Rakkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. ANTARA Foto/HO
Aktivitas warga Seko yang dulunya terisolir dan telah bisa menikmati jalan beraspal Seko-Rakkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. ANTARA Foto/HO


Akses internet

Selain itu, internet juga sudah bisa dinikmati oleh warga, Wireless Fidelity (WiFi) terpasang.

Dari sini, wisatawan domestik mulai menjamah wilayah Seko-Rongkong. Pola pikir masyarakat pun mulai maju dengan adanya teknologi dan pembangunan infrastruktur yang mumpuni.

“Sekarang wisatawan juga sudah banyak yang ke sini. Berdagang dan bertani sudah sangat maju dengan bantuan informasi dari internet,” sebut Saing.

Keindahan Kecamatan Rongkong sangat memanjakan mata, berada di puncak perbukitan. Dari desa tersebut, tampak pemandangan barisan pegunungan hutan tropis yang indah.

Mahasiswa di Luwu Utara diketahui sering melakukan kunjungan wisata ke destinasi yang ada di perbatasan Rongkong-Seko. Seperti yang dilakukan oleh rombongan Mahasiswa Unanda Palopo ke Buntu Lemo.

Kepala UPT Penyelenggaran Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Wilayah I Luwu Utara, Makmur menambahkan pembangunan ruas jalan Sabbang-Seko diharapkan bisa selesai dalam waktu dekat. Paling lambat, tahun 2022.

Mudah-mudahan perhatian pemerintah tetap besar terhadap ruas jalan ini dan bisa berlanjut sampai ke Seko, sehingga harapan masyarakat untuk bangkitnya ekonomi wiiyah itu bisa menjadi kenyataan.
Baca juga: Presiden Jokowi bakal resmikan 2 infrastruktur di Sulsel September
Baca juga: Wagub beberkan pembukaan jalan terisolasi Kabupaten Bone
Baca juga: Jokowi janji tingkatkan infrastruktur di Sulawesi Selatan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel