Mencairnya Gletser 'Kiamat' Thwaites Mengancam Tinggi Permukaan Laut Dunia

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Antarktika - Gletser-gletser di Antarktika mungkin sedang mencair sekarang, tetapi hanya satu yang paling dikhawatirkan yakni Gletser Kiamat.

Secara resmi gletser itu disebut sebagai Gletser Thwaites, yakni sebuah lapisan es yang terletak di tepi barat Antarktika, di mana gletser tersebut sedang mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Seorang ahli geologi di Amherst College bernama Nick Holschuh mengatakan bahwa peta pencairan es di kawasan itu menguatkan kekhawatiran tersebut.

"Jika Anda memperkecil dan melihat keseluruhan gambar, hanya ada titik merah terang di tepi Lapisan Es Antarktika Barat tempat Thwaites dan Pulau Pine (gletser lain yang berdekatan) sedang menipis," katanya.

Dikutip dari Discover Magazine, Rabu (18/11/2020), Thwaites yang mulai mencair dan berkontribusi pada kenaikan permukaan laut hanyalah setengah kekhawatiran para peneliti. Di belakang Thwaites terdapat bongkahan es yang lebih besar, yang selama Thwaites masih utuh, bongkah itu akan terlindung dari kontak dengan air yang terlalu hangat.

Jika Thwaites mencair, bongkahan es yang jauh lebih besar itu akan menambah air ke lautan kita juga, yang selanjutnya mendorong kenaikan permukaan laut. Peneliti sekarang sedang meneliti kapan peristiwa itu dapat terjadi.

"Kami tahu bahwa Gletser Thwaites cukup penting. Namun, seberapa banyak dan seberapa cepat hal itu akan meningkat dalam beberapa dekade dan abad masih belum pasti," imbuh Atsuhiro Muto, seorang ahli geofisika kutub di Temple University.

Misi Kolaborasi Gletser Thwaites

Foto dari udara yang diabadikan pada 15 Agustus 2020 ini menunjukkan gletser yang terletak di area hulu Sungai Yangtze, Prefektur Otonom Etnis Tibet Yushu, Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Wu Gang)
Foto dari udara yang diabadikan pada 15 Agustus 2020 ini menunjukkan gletser yang terletak di area hulu Sungai Yangtze, Prefektur Otonom Etnis Tibet Yushu, Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Wu Gang)

Kekhawatiran tersebut membentuk sebuah misi pengiriman ilmuwan untuk meninjau gletser tersebut. Misi itu disebut Kolaborasi Gletser Thwaites Internasional, yang terdiri dari para ilmuwan (termasuk Holschuh dan Muto) untuk pergi memeriksa bagaimana gletser itu menyusut.

Proyek ini merupakan kolaborasi antara National Science Foundation dan Dewan Riset Lingkungan Alam Inggris, yang secara independen mengakui bahwa Thwaites adalah gletser yang penting tetapi kurang diperhatikan dalam hal memahami kenaikan permukaan laut di masa depan.

Keprihatinan atas permasalahan ini dimulai pada tahun 1970-an, ketika para ilmuwan menerbitkan beberapa makalah yang menjelaskan bagaimana bentuk Thwaites dan benua yang dihubungkannya menyebabkan pencairan yang berbahaya.

Seperti gletser lainnya, Thwaites memiliki lidah es yang panjang dan tipis yang menjulur ke air laut. Jika Anda menyelam ke dalam air di bawah es yang menonjol dan berenang ke bawah, Anda akan melihat bahwa Thwaites terhubung dengan tanah.

Pemandangan itu disebut garis pentanahan. Seorang ahli geofisika di Georgia Tech bernama Britney Schmidt, sedikit banyak telah turun ke bawah untuk mengamati persimpangan itu dari dekat.

Sebagai bagian dari misi Thwaites internasional, Schmidt dan timnya menavigasi kapal selam robot ke garis landasan untuk mendapatkan pemahaman terperinci tentang bentuk dan kondisi es, karena di sinilah aktivitas pencairan yang penting terjadi.

Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah menghangatkan air laut dan mencairkan gletser lebih cepat. Saat es menghilang, garis landasan mundur dan semakin sedikit Thwaites yang terhubung dengan tanah.

Thwaites Menopang Bongkahan Es Besar agar Tidak Mencair

Sebuah bongkahan es raksasa melewati perairan Ferryland Newfoundland, Kanada, (10/4). Perairan yang disebut Iceberg Alley ini menjadi tempat perlintasan pecahan gletser di Greenland pada setiap awal musim panas. (Paul Daly/The Canadian Press via AP)
Sebuah bongkahan es raksasa melewati perairan Ferryland Newfoundland, Kanada, (10/4). Perairan yang disebut Iceberg Alley ini menjadi tempat perlintasan pecahan gletser di Greenland pada setiap awal musim panas. (Paul Daly/The Canadian Press via AP)

Selama Thwaites terhubung masih terhubung dengan tanah, gletser akan menghalangi air hangat mengalir ke es yang lebih luas dan lebih tebal, yang ada di belakangnya. Tetapi jika Thwaites telah mencair sehingga terangkat, lapisan es akan terjerumus ke lubang di kerak bumi sedalam 1,5 mil (2.41402 km) di bawah permukaan laut.

Schmidt menjelaskan jika bongkahan berada lebih rendah dari air, maka tidak ada yang bisa menghentikan pencairan. Air akan mengalir masuk, es akan menipis dengan cepat dan kemudian semua hal yang telah stabil akan lenyap.

Jika benar-benar mencair, Thwaites akan menaikkan permukaan laut 1,5 hingga 3 kaki. Garis pantai akan menjadi tiga kaki lebih dangkal dari dan gelombang badai selama peristiwa cuaca buruk akan lebih menyeramkan daripada yang sebelumnya.

"Karena tidak pasti, Thwaites berpotensi menjadi Gletser Kiamat. Ini juga berpotensi untuk tidak terlalu buruk, tetapi selama kita masih memiliki potensi untuk menjadi buruk, kita perlu melakukan sesuatu agar kita tidak benar-benar cenderung ke skenario terburuk," imbuh Muto.

Muto mengatakan bahwa dengan "melakukan sesuatu", berarti kita telah menangani perubahan iklim serta kekuatan yang mendorong pencairan Thwaites. Tapi kita juga harus bersiap untuk beberapa kenaikan permukaan laut yang tak terhindarkan di masa yang akan datang, seperti memasang tembok laut atau berpindah dari daerah dataran rendah ke dataran tinggi.

Hampir tidak mungkin untuk memprediksi berapa banyak kenaikan permukaan laut secara tepat. Tetapi para peneliti terus mengawasi apa yang terjadi pada gletser, yang akan memberi mereka kesempatan dalam memberikan indikasi spesifik tentang ke mana arah situasi tersebut.

Reporter: Ruben Irwandi

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: