Mencari Jejak Ismail Bolong, 'Menghilang' usai Ungkap Aliran Uang Tambang Ilegal

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus aliran uang dari bisnis tambang batu bara di Kalimantan Timur terus mengemuka. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Purnomo memerintahkan Ismail Bolong, mantan personel Polresta Samarinda, untuk ditangkap. Lantas di mana keberadaan Ismail Bolong?

Belum lama ini, merdeka.com menengok rumah Ismail Bolong yang cukup mewah di kawasan Jalan Rajawali Dalam, RT 10 kelurahan Sungai Pinang Dalam, Samarinda, Kalimantan Timur.

Rumah berkelir putih tersebut terlihat kontras dari kediaman tetangganya. Mewah, itulah kesan pertama kali ketika melihatnya. Di teras rumahnya, berjajar kendaraan. Ada dua sepeda motor, mobil Fortuner serta sedan Lexus.

Terlihat ada satu kamera pengawas CCTV terpasang mengarah ke pagar. Di siang itu, sejumlah warga berlalu lalang, termasuk sejumlah pria bertato tanpa mengenakan helm yang turut mendokumentasikan kedatangan merdeka.com bersama dua wartawan lainnya menggunakan ponsel dari kejauhan.

Dari keterangan warga sekitar, Ismail Bolong dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Meski rumah dia kategori paling mewah di banding rumah tetangganya di sekitar, dia pun kerap disapa tetangganya dengan sebutan 'bos' atau 'Pak Bos'.

Tidak ada yang tahu persis di mana keberadaan Ismail Bolong. Dikabarkan dia ada di rumah lainnya di kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara. Meski kabar itu juga belum bisa dipastikan.

Informasi yang dihimpun merdeka.com, diduga rumah dihuni keluarga termasuk empat anak Ismail dan asisten rumah tangga (ART).

Terkait persoalan aliran uang tambang ilegal, mantan Karopaminal Divpropam Polri Brigjen Hendra Kurniawan membenarkan dokumen hasil penyelidikan terhadap Ismail Bolong, terkait aliran dana tambang ilegal di Kalimantan Timur mengalir ke sejumlah pejabat Polri termasuk mantan Kapolda Kalimantan Timur, Irjen Pol Herry Rudolf Nahak.

Dalam dokumen Laporan Hasil penyelidikan (LHP) yang beredar ditandatangani Hendra Kurniawan, Irjen Herry Rudolf Nahak menerima setoran Rp5 miliar dari tambang ilegal di Kaltim pada periode Juli 2020 hingga September 2021.

LHP nomor R/ND-137/III/WAS.2.4./2022/Ropaminal tertanggal 18 Maret 2022 itu ditandatangani Hendra Kurniawan ditujukan kepada Mantan Kadiv Propam Ferdy Sambo.

"Tanya pejabat yang berwenang saja. (Aliran uang) Itu kan ada semua bukti-bukti (di dalam LHP)," kata Hendra menjawab pertanyaan awak media perihal aliran dana Rp5 miliar ke Irjen Herry Rudolf Nahak di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (24/11). [cob]