Mencari Rezeki dengan Berjualan Keliling

Dian Lestari Ningsih, linaherlinalho
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setiap saya melihat seorang ibu separuh baya (usianya mungkin sekitar lima puluh tahun), berkeliling sambil membawa dua keranjang dagangan. Saya pun sering bergumam, “Pasti banyak yang tidak tahu Mbak itu adalah pribadi yang hebat, sangat inspiratif.”

Di keranjang dagangannya itu ada berbagai gorengan, donat, lontong, bala-bala alias bakwan, agar-agar, dan lain sebagainya. Dia mempunyai lima orang anak, terbesar sudah menikah dan sudah pisah rumah.

Anak keduanya baru kelas VIII SMP dan terkecil kelas 1 SD. Suaminya sekitar enam tahun lalu meninggal di perantauan. Hidup dengan empat orang anak yang masih kecil di rumah kontrakan yang kecil, tentu saja tidak gampang.

Jangankan untuk menjalaninya, untuk sekadar yakin saja bahwa hidup bisa dilalui, perlu suatu ketabahan luar biasa. “Karena keadaan saya begini, sejak suami meninggal dan saya tidak bekerja, banyak yang menyarankan untuk pulang ke orangtua. Tapi orangtua saya pun keadaannya tidak lebih baik,” kisahnya sekali waktu.

“Saya tidak punya banyak waktu untuk bersedih, merenung, atau diam tidak bergerak. Beberapa hari setelah suami meninggal, saat pagi sedang menyapu halaman, tiba-tiba terbersit untuk berjualan gorengan. Sebelumnya saya belum pernah bikin gorengan, berjualan, atau berdagang lainnya.”

Tentu saja terbayangkan, bagaimana susahnya mengawali berjualan dengan keadaan seperti itu. Selain kerjanya, perasaannya juga.

“Saat tiba-tiba turun hujan besar, setiap ibu menyuruh anak-anaknya masuk ke rumah, saya justru menyuruh kedua anak saya berjualan. Bagaimana hancurnya hati saya saat melihat kedua anak saya pergi berjualan diguyur hujan. Mereka masih SD waktu itu,” kisahnya.

Waktu berjualan Mbak sekeluarga biasanya dua kali. Pagi Mbak berkeliling perumahan. Kadang ada anaknya juga yang membawa ke sekolah. Sore anak-anaknya yang berkeliling. Ke tempat ngaji di masjid juga membawa dagangan

Sepanjang berkisah tentang kesedihan, Mbak itu selalu tertawa. Itu juga yang membuat saya ikut tertawa dalam haru. Saya rutin datang ke rumahnya karena ada teman yang menitipkan zakat dan sedekah untuk anak-anak yatim.

“Saya selalu bilang kepada anak-anak, kita jangan meminta-minta. Tapi bila ada yang memberi, alhamdulillah itu berarti Tuhan mengirim rejeki buat kita dengan perantaraan orang lain,” katanya waktu awal saya memberikan titipan itu. “Hidup itu ajaib, asal kita sudah bekerja rejeki itu bisa datang dari mana saja.”: