Mencegah "stunting" dengan konsumsi makanan tambahan bergizi

Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ali Khomsan mengatakan pencegahan stunting harus dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan mengonsumsi makanan tambahan bergizi yang cukup.

“Melihat pola konsumsi di Indonesia saat ini, masyarakat harus meningkatkan konsumsi protein hewani, kacang-kacangan, umbi-umbian, buah dan sayur, sedangkan yang harus diturunkan adalah konsumsi beras dan terigu," kata Ali dalam webinar "Edukasi Gizi Untuk Keluarga Berkualitas: Pemenuhan Gizi Seimbang Melalui Sarapan Untuk Mendukung Kualitas Gizi", dikutip dari siaran resmi, Sabtu.

Baca juga: Cerita Wynne Frederica tertampar gara-gara stunting

Dalam webinar yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Nestle Indonesia, ia mengatakan menanam aneka tanaman seperti umbi juga memiliki keunggulan dalam budidaya, yakni mudah ditanam dan adaptif pada berbagai lingkungan dan terhadap perubahan iklim. Selain itu, ia menyarankan untuk mengonsumsi jus kacang hijau yang dapat meningkatkan berat badan balita, sedangkan tempe meningkatkan berat badan pada balita umur 12-18 bulan.

Data Survei Status Gizi Balita Indonesia tahun 2021 menunjukkan, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen; turun 3,3 persen dari 27,7 persen pada tahun 2019. Momentum ini perlu terus dilanjutkan melalui kolaborasi antar sektor untuk mengurangi risiko kejadian stunting di masa yang akan datang.

Stunting dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, di mana di atas 70 persen kejadiannya disebabkan oleh pola hidup, seperti konsumsi pangan dan aktivitas fisik. Untuk mengatasi memenuhi gizi seimbang, konsumsi aneka ragam bahan pangan yang diolah jadi menu menarik bisa menjadi solusi memenuhi gizi keluarga.

Baca juga: Dampak buruk pada bayi akibat bumil terlalu gemuk

Sarapan juga berkontribusi 30 persen dari kebutuhan gizi. Sarapan bergizi seimbang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, serta sayur dan buah dapat meningkatkan asupan gizi seimbang.

Presiden Direktur Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk mendukung keluarga Indonesia untuk menjalani hidup yang lebih sehat dan lebih bahagia.

"Salah satu wujud nyata kontribusi kami adalah mendukung peningkatan status gizi keluarga Indonesia melalui program Nestlé Dukung Anak Lebih Sehat, atau yang secara global dikenal sebagai Nestlé for Healthier Kids. Dukungan ini dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman dengan BKKBN pada Desember tahun lalu, dan kegiatan kita hari ini merupakan kelanjutan dari kerja sama tersebut.”

Baca juga: Waspada stunting jika berat badan anak naik tapi tak adekuat

Melalui program Nestlé Dukung Anak Lebih Sehat, Nestlé Indonesia mendukung keluarga Indonesia menanamkan kebiasaan untuk memiliki pola hidup sehat sejak dini. Untuk mengatasi masalah stunting dan memenuhi kebutuhan gizi anak, Nestlé telah melakukan fortifikasi gizi dalam produk makanan dan minumannya. Pada 2020, Nestlé menyediakan 4 miliar sajian produk yang telah difortifikasi dengan zat-zat gizi penting, seperti zat besi, zink, vitamin A dan vitamin D.

“Selaras dengan tujuan Nestlé dalam menggunakan potensi makanan untuk meningkatkan kualitas hidup setiap individu saat ini dan untuk generasi mendatang, Nestlé berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat, terutama di tingkat keluarga, mengenai stunting, terutama upaya pencegahan dan penanggulangannya,” tutup Ganesan.


Baca juga: Nestle luncurkan Nutren Fibre untuk bantu penuhi kebutuhan serat

Baca juga: Menkes ingatkan pentingnya asupan protein demi cegah anak stunting

Baca juga: Kemarin, Ramadhan momen perokok berhenti merokok dan transisi endemi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel