Mencetak sejarah, wapres terpilih Kamala Harris bilang pada kaum wanita dia tak akan jadi yang terakhir

·Bacaan 2 menit

Wilmington (AFP) - Kamala Harris pada Sabtu memecahkan hambatan untuk menjadi wakil presiden wanita pertama dan dalam pidato kemenangan yang sarat simbolisme itu berbicara kepada para gadis bahwa dia tak akan menjadi yang terakhir.

Memperkenalkan Presiden terpilih Joe Biden dalam rapat umum luar ruangan yang dipicu oleh optimisme, Harris -juga wanita kulit hitam dan sekaligus wakil presiden keturunan India-Amerika pertama- mengenakan setelan putih sebagai pengakuan atas gerakan wanita AS agar diberi hak pilih yang diperjuangkan seabad silam.

"Selain saya mungkin wanita pertama di jabatan ini, saya tidak akan menjadi yang terakhir," kata dia disambut sorak-sorai dan klakson dari kerumunan yang berkumpul di mobil-mobil yang menjaga jarak sosial.

"Karena setiap gadis kecil yang menyaksikan malam ini melihat bahwa ini adalah negara serba mungkin."

Harris bersumpah akan berjuang "membasmi rasisme sistematis" tetapi, seperti Biden, menyampaikan ajakan luas untuk persatuan, dengan mengatakan bahwa rakyat Amerika "telah memilih presiden yang mewakili yang terbaik dalam diri kita."

Pidato senator California itu sendiri merupakan petunjuk atas peran penting yang telah diberikan Biden kepada dia, karena para presiden baru terpilih sebelumnya biasanya menjaga sorotan tetap tertuju kepada mereka sendiri ketimbang berbagi mimbar dengan pasangan nomor dua mereka.

Harris yang berseri-seri mengangkat tangannya untuk merayakan saat dia mengikuti ketukan energik dari lagu Mary J. Blige, "Work That", yang merupakan kidung pepujian untuk kepercayaan diri wanita kulit hitam.

Dia segera membuka dengan menyanjung John Lewis, ikon hak-hak sipil yang berkiprah menjadi anggota kongres yang meninggal dunia Juli lalu, dan negara bagian Georgia di mana dia berasal mengejutkan para pakar karena dalam Pemilu Selasa bergeser tajam ke arah Partai Demokrat mereka.

Harris juga menyampaikan penghormatan kepada ibunya, Shyamala Gopalan Harris, yang beremigrasi dari India ketika dia berusia 19 tahun dan meninggal dunia pada 2009.

"Mungkin dia tidak membayangkan momen ini," kata Harris.

"Tetapi dia percaya sekali kepada Amerika di mana momen seperti ini mungkin terjadi.

"Jadi saya memikirkan dia dan generasi wanita - Wanita Kulit Hitam, Asia, Putih, Latin, dan wanita Pribumi Amerika sepanjang sejarah bangsa kita yang telah membuka jalan kepada momen malam ini."


mlm-sct/ec