Mendadak Kehilangan Kesaktian Mencetak Gol di PSG, Benarkah Lionel Messi Hanya Terlahir dan Cucok buat Barcelona?

·Bacaan 5 menit

Bola.com, Jakarta - Saat rivalnya Cristiano Ronaldo langsung tancap gas bersama klub barunya Manchester United, Lionel Messi terlihat loyo di PSG.

Di dua laga bersama United, Ronaldo sudah mencetak tiga gol. Dua di pentas Premier League melawan Newcastle, sebiji lainnya ke gawang Young Boys di pentas Liga Champions.

Di sisi lainmasih ngos-ngosan, ia belum juga mencetak gol perdana di PSG. Sorotan diarahkan ke sang penyerang asal Argentina saat klubnya hanya mampu bermain imbang melawan klub semenjana Club Bruggedi Stadion Jan Breydel, Bruges, Belgia, Kamis (16/9/2021) dini hari WIB.

Tampil dengan trio maut lini depan, Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe, PSG mandul gol. Sebiji gol mereka justru lahir dari gelandang berkarakter bertahan, Ander Herrera.

Dalam laga tersebut, Pelatih PSG Mauricio Pochettino untuk pertama kali menurunkan Messi-Neymar-Mbappe atau trio MNM sejak menit awal.

Ketiga pemain itu diletakkan sebagai trio penyerang dalam formasi 4-3-3 yang diterapkan oleh Pochettino.

Trio tersebut digadang-gadang akan menjadi mesin gol bagi PSG, apalagi Club Brugge memang tergolong klub medioker dan kurang diunggulkan dalam laga tersebut.

Messi adalah pemilik rekor enam Ballon d'Or, Neymar pemegang rekor transfer termahal di dunia dunia, dan Mbappe adalah juara dunia dan paling bernilai (most valued) saat ini.

Ketika trio itu bermain bersama hingga Mbappe ditarik keluar pada menit ke-51, mereka hanya mampu mencetak 2 tembakan.

Secara keseluruhan, PSG hanya mampu mencatatkan 9 kali tembakan, 4 di antaranya mengarah ke gawang.

Statistik itu lebih buruk ketimbang Club Brugge yang mencetak 16 kali tembakan, 7 di antaranya mengarah ke gawang.

Sepanjang laga Lionel Messi minim peluang emas. Ia seperti tak bisa berbuat apa-apa menghadapi ketatnya pertahanan lawan yang justru tampil lebih oke dengan skema serangan balik.

Statistik Sih Oke, Tapi Tetap Tanpa Gol!

Pemain Paris Saint-Germain Lionel Messi (kanan) berebut bola dengan pemain Club Brugge Eder Alvarez Balanta pada pertandingan Grup A Liga Champions di Stadion Jan Breydel, Bruges, Belgia, Rabu (15/9/2021). Pertandingan berakhir imbang 1-1. (JOHN THYS/AFP)
Pemain Paris Saint-Germain Lionel Messi (kanan) berebut bola dengan pemain Club Brugge Eder Alvarez Balanta pada pertandingan Grup A Liga Champions di Stadion Jan Breydel, Bruges, Belgia, Rabu (15/9/2021). Pertandingan berakhir imbang 1-1. (JOHN THYS/AFP)

Mbappe cuma melepaskan satu tembakan dalam penampilan debutnya bersama trio MNM. Meski minim ancaman, dia berkontribusi assist untuk gol PSG yang dicetak oleh Ander Herrera.

Dibanding Mbappe, statistik ofensif Neymar lebih buruk. Bintang timnas Brasil itu tak melepaskan satu pun tembakan.

Dia juga empat kali kehilangan bola, jumlah terbanyak dari seluruh pemain yang terlibat dalam duel Brugge vs PSG.

Messi menjadi anggota MNM dengan performa paling kece di kandang Brugge.

Megabintang timnas Argentina itu melepaskan tiga tembakan atau jumlah terbanyak dari seluruh pemain Les Parisiens.

Catatan lainnya, La Pulga mensuplai tiga operan kunci, lagi-lagi angka tertinggi di kubu PSG. Tapi tetap saja, poinnya keran gol penyerang asal Argentina itu mampet.

Mandulnya Lionel Messi agak mengherankan, mengingat skuat PSG bertabur bintang. Ia didukung pemain-pemain dengan nama besar.

Skuat PSG bisa dibilang jauh mentereng dibanding komposisi tim Barcelona musim lalu saat Lionel Messi masih bermain di sana.

Musim lalu, di Barcelona yang hanya meraih satu gelar (Copa Del Rey), Messi mencetak 30 gol di berbagai ajang.

Di level domestik, Messi baru tercatat tampil di satu laga bersama PSG. Ia main 24 menit sebagai pemain pengganti saat PSG bersua Stade de Reims. Saat itu timnya menang 2-0, namun tak ada gol-gol yang lahir dari kaki dan kepala La Pulga.

Padahal di saat berdekatan, pemain berusia 34 tahun itu tampil menggila bersama Timnas Argentina. Ia mencetak hattrick saat Tim Tango membantai Bolivia 3-0 dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Banjir Kritik

Lionel Messi kembali memiliki peluang di menit ke79. Usai menerima umpan Nuno Mendes yang merangsek dari kiri pertahanan Brugge, sepakan La Pulga masih melambung di atas mistar gawang. (Foto: AFP/John Thys)
Lionel Messi kembali memiliki peluang di menit ke79. Usai menerima umpan Nuno Mendes yang merangsek dari kiri pertahanan Brugge, sepakan La Pulga masih melambung di atas mistar gawang. (Foto: AFP/John Thys)

Lionel Messi memulai debutnya bersama PSG saat melawan Reims, Senin (30/8/2021) dini hari WIB. Meski tidak mencetak gol, La Pugla tetap mendapat pujian dari pelatih PSG, Mauricio Pochettino.

PSG menang 2-0 lewat gol Kylian Mbappe. Namun Pochettino mengaku puas dengan penampilan Messi. Dia mengatakan bahwa pemain Argentina itu cepat beradaptasi dengan skuadnya.

Messi masuk pada menit ke-66 untuk menggantikan peran Neymar. Menurut pengamatan Pochettino, pemain asal Argentina tersebut langsung bisa menyesuaikan permainan dan mau bekerja keras untuk tim.

“Lionel Messi? Ia juga senang dengan skuad dan dengan rekan satu timnya. Ia ingin terus bekerja, dan saya yakin kami akan lebih baik lagi,” kata Pochettino dilansir dari laman resmi PSG, Senin (30/8/2021).

Legenda Liverpool Michael Owen melontarkan kritik. Ia melihat PSG menjadi lebih lemah setelah Lionel Messi datang ke Paris menyusul hasil imbang melawan Club Brugge di Liga Champions.

Trio MNM jadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir karena dianggap sebagai salah satu kombinasi paling berbahaya di dunia. Namun, Owen menilai keberadaan Messi, Neymar, Mbappe tak lantas membuat PSG jadi favorit Liga Champions.

"Tapi penampilan ketiga pemain bersamaan membuat PSG jadi tim lebih lemah dan saya benar-benar tak mengerti mengapa mereka disebut salah satu favorit juara Liga Champions," kata Owen dikutip Daily Mail.

"Saya rasa tim-tim Inggris seperti Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United jauh lebih unggul dari PSG," tambah mantan pemain Real Madrid dan Man Utd.

Tak hanya mendatangkan Messi, PSG sebelumnya juga sukses memboyong kiper Gianluigi Donnarumma dari AC Milan, Sergio Ramos dari Real Madrid, dan Giorginio Wijnaldum dari Liverpool.

Saling Membutuhkan

Tampil dengan formasi terbaiknya, termasuk menurunkan trio MMN, Lionel Messi, Kylian Mbappe dan Neymar, Paris Saint-Germain (PSG) hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tuan rumah Brugge dalam matchday pertama Grup A Liga Champions 2021/2022, Rabu (15/9/2021). (Foto: AFP/Kenzo Tribouillard)
Tampil dengan formasi terbaiknya, termasuk menurunkan trio MMN, Lionel Messi, Kylian Mbappe dan Neymar, Paris Saint-Germain (PSG) hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tuan rumah Brugge dalam matchday pertama Grup A Liga Champions 2021/2022, Rabu (15/9/2021). (Foto: AFP/Kenzo Tribouillard)

Memang terlalu dini untuk memvonis Messi kehilangan ketajaman. Ia butuh waktu beradaptasi dengan klub barunya.

Sistem permainan di Barcelona dengan PSG amat berbeda. Kalau di Blaugrana, Messi menjadi sosok utama di timnya. Semua bola diarahkan kepada dirinya. Di PSG situasinya berbeda.

Selain Messi, mereka punya Mbappe dan Neymar, yang rekor golnya bersama klub luar biasa.

Ada kemungkinan sang superstar kesulitan beradaptasi dengan gaya bermain klub-klub Liga Prancis yang tipikal permainannya lebih direct. Di Barcelona dan Liga Spanyol pada umumnya intensitas permainan tak terlalu cepat.

Seorang pemain punya kesempatan berlama-lama menahan bola. PSG era Pochettino tidak demikian. Ia ingin timnya bermain dalam strategi menyerang cepat. Bola harus cepat didistribusikan. Di sini terlihat Messi masih gagap.

Uniknya, klub yang ditinggalkan Messi, Barcelona juga seperti kehilangan nyawa. Performa mereka di awal musim La Liga dan Liga Champions melempem.

Legendaris sepak bola Jerman, Karl-Heinz Rummenigge menilai Barcelona telah kehilangan roh permainan setelah melepas Lionel Messi. Menurut mantan Presiden Bayern Munchen itu, tanpa Messi, Barcelona ibarat kehilangan jiwa dan menghadapi masa-masa sulit.

“Jika melihat skuat inti Barcelona terkini, mereka bermain sesuai dengan taktik. Tanpa Messi, Barcelona bagai kehilangan jiwanya dan menghadapi masa-masa sulit. Melepas Messi adalah langkah penting. Liga Spanyol dan juga Barcelona bagai membuat gol bunuh diri,” ujar Karl-Heinz Rummenigge.

Benarkah Lionel Messi sejatinya adalah belahan jiwa Barcelona. Ia hanya cucok (Bahasa gaul berarti cocok) Keduanya saling membutuhkan, ketika terpisahkan potensi terbaik mereka tidak bisa keluar?

Hanya waktu yang akan menjawabnya. Pastinya, keduanya harus move on, karena kenyataannya keduanya sudah ada di dua dunia berbeda.

Sumber: Berbagai sumber

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel