Mendag Agus Cari Akal agar Bulog Tak Musnahkan 20 Ribu Ton Beras

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto akan segera mencari solusi untuk menanggulangi 20 ribu ton beras Bulog yang turun mutu dan terancam busuk.

Sebelumnya, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tersebut diketahui telah disimpan selama 4 bulan. Agus akan segera merapatkan perihal masalah ini dalam waktu dekat.

"Jadi 20 ribu ton itu (beras) sudah agak lama, kita akan evaluasi kemungkinan hari ini kita rapatkan, supaya ada solusinya," ungkapnya di Jakarta, Rabu (2/12/2019).

Terkait dengan hal ini, Perum Bulog dikabarkan akan melelang beras turun mutu tersebut. Namun, Agus masih belum bisa menanggapinya.

"Nanti, belum diputuskan kebijakannya. Kita kan tidak kerja sendiri, kita harus bekerja sama tim, dengan kementerian lain," imbuhnya.

Wacana pelelangan ini mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian nomor 38 Tahun 2018 tentang pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah. Adapun lelang tersebut guna menghindari pemusnahan beras yang mengalami penurunan mutu.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan, mekanisme di atas dapat dilakukan pertama dengan lelang. Nantinya, pemenang lelang yang akan memproses pengalihan fungsi tersebut.

“Akan dilelang terserah mau jadi apa nanti. Misalnya dia lelang mau jadi tepung, ya tapi harus jadi tepung. Lelang jadi pakan ya harus jadi pakan,” kata Buwas beberapa waktu lalu.

Asosiasi Pedagang Pasar Tolak Pemusnahan 20.000 Ton Beras Bulog

Pekerja memanggul karung Beras milik Badan Urusan Logistik (Bulog) di Gudang Bulog kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (7/6). Bulog memiliki stok beras sebanyak 2,1 juta ton. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, rencana pemusnahan 20.000 ton beras yang hendak dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) menuai kritik dari masyarakat. Salah satunya dari Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

Ketua Umum APPSI, Ferry Juliantono menegaskan para pedagang menolak rencana pemusnahan beras yang hendak dilakukan Bulog. Pemusnahan beras yang telah tertimbun selama setahun belakangan itu sangat mubazir.

Mengingat keberadaan beras yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya kalangan pra sejahtera saat ini. "Kenapa dimusnahkan kalau masih bisa dimakan?," ungkap dia, Senin (2/12/2019). 

Dia mengaku, pedagang bersedia menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemerintah diharapkan dapat menghibahkan beras yang dinilai rusak dan tidak layak konsumsi itu kepada APPSI.

Selanjutnya, beras tersebut akan diolah kembali agar dapat dikonsumsi untuk segera didistribusikan kepada masyarakat tidak mampu. "Hibahkan saja beras ke APPSI nanti kami yang akan mengolah dan mendistribusikannya. Karena masih banyak rakyat yang membutuhkan daripada dimusnahkan," tegas dia.

Selain itu, hibah atas beras tersebut katanya dapat menekan pengeluaran negara. Sebab diketahui biaya pemusnahan beras membutuhkan anggaran yang cukup besar. "Apalagi proses pemusnahan 20.000 ton beras juga perlu anggaran negara yang besar," tambah dia.

Menurut dia, fenomena penimbunan beras harus dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pihak, khususnya Bulog. Sistem penyimpanan beras Bulog harus diubah menyesuaikan musim panen dan jumlah pasokan beras.

Penyimpanan beras tidak melulu dalam bentuk beras butir. Namun dapat berupa gabah yang memiki waktu penyimpanan yang lebih lama dibandingkan dengan beras butir.

"Bulog seharusnya bisa alert (waspada) manakala stok beras di gudang ada yang sampai setahun. Bulog sebaiknya sekarang menyimpan gabah kering giling di gudang yang lebih tahan lama," jelas Ferry.

Terkait usulan APPSI tersebut, pihaknya kini akan bertemu dengan Bulog guna membahas pemanfaatan beras, termasuk kemungkinan hibah beras.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: