Mendag Blak-blakan Penyebab Harga Ayam di Peternak Anjlok

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Perdagangan Zulkifli terkait bertemu dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), dan perwakilan peternak dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah sentra lainnya untuk membahas upaya peningkatan harga ayam di kandang. Dalam pertemuan tersebut, Mendag Zulkifli menyampaikan anjloknya harga ayam akibat ketidakmerataan distribusi.

"Gejolak harga tersebut disinyalir terjadi akibat kendala distribusi yang kurang merata serta kondisi supply-demand, yaitu produksi lebih besar dibandingkan permintaan," ungkap Mendag Zulkifli Hasan, dikutip pada Jumat (2/9).

Di hadapan para asosiasi, Mendag Zulkifli memastikan bahwa Kementerian Perdagangan tengah berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memobilisasi daging ayam ras dari wilayah surplus yang mengalami harga rendah, ke wilayah defisit dengan harga ayam tinggi.

Upaya Kementerian Perdagangan untuk mengendalikan harga ayam di antaranya memberikan subsidi untuk transportasi angkutan pangan melalui tol laut. Selain itu, upaya lainnya yaitu mendorong, penerapan rantai pasok dingin yang diawali dengan perdagangan ayam tanpa bulu di wilayah DKI Jakarta.

"Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 66 tahun 2021 tentang Badan Pangan Nasional, Bapanas kini memegang kewenangan terkait distribusi dan stabilisasi pangan harga pokok," imbuhnya.

Per 30 Agustus 2022 harga nasional daging ayam ras di tingkat eceran tercatat sebesar Rp35.000/kg, atau turun 0,28 persen dibandingkan minggu lalu pekan laluu Rp35.100/kg, dan turun 2,78 persen dibandingkan bulan lalu Rp36.000/kg.

Sementara harga ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp18.670/kg, atau turun 10,3 persen dibandingkan minggu lalu Rp20.820/kg, dan turun 8,8 persen dibandingkan bulan lalu Rp20.480/kg.

Harga Ayam Turun Diduga Akibat Kelebihan Pasokan

turun diduga akibat kelebihan pasokan rev1
turun diduga akibat kelebihan pasokan rev1.jpg

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengatakan, harga ayam di pasaran saat ini mengalami penurunan karena terjadi kelebihan pasokan (over supply). Kondisi ini akan merugikan peternak ayam.

Sebab, para peternak menjual ayam-ayam mereka ke grosir besar sekitar Rp16.000 per ekor, sementara menurut Zulkifli harga minimal peternak untuk menjual yaitu Rp19.000.

"Saya enggak senang, kasian peternak ayam. Kalau Rp26.000 di pasar, berarti grosir besar beli Rp20.000, grosir besar beli di peternak ayam Rp15.000, rugi dong karena pedagang ayam itu paling murah tuh Rp19.000," kata Zulkifli di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, Kamis (18/8).

Untuk itu, pihaknya akan menyetop impor induk ayam, dan akan mengekspor induk ayam untuk mengendalikan harga ayam di pasaran. "Ayam memang kita akan coba mengimpor ibunya petelur ayam itu kita kurangi karena over supply itu," imbuhnya.

Selain upaya ekspor, pihaknya juga akan memusnahkan beberapa telur yang akan menetas sebagai upaya pengendalian harga ayam. Hal ini agar ketersediaan ayam tidak lebih banyak dibandingkan kebutuhan pasar.

Mengutip data dari sistem pemantauan pasar dan kebutuhan pokok Kementerian Perdagangan, harga daging ayam ras pada 15 Agustus Rp34.200, pada 16 Agustus harga ayam naik menjadi Rp34.500. [bim]