Mendag dorong UKM jadi bagian rantai nilai global

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mendorong UKM menjadi bagian dari rantai nilai global (global value chain) diantaranya dengan terus memperluas akses pasar ke seluruh dunia.

"Secara khusus UKM Indonesia memiliki potensi besar untuk jadi bagian dari rantai nilai global," katanya dalam "4th Side Event G20, Stakeholders Consultation: SMEs Opportunity on Global Value Chain and Logistic Solution" yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat malam.

Kementerian Perdagangan (Kemendag), lanjut Zulkifli, juga terus berupaya untuk mempermudah dan memperluas akses pasar UKM diantaranya melalui perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah negara atau kawasan.

"Peningkatan akses pasar dengan membuka jalan, toll way, berupa perjanjian perdagangan bebas seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), ada RCEP, dengan UAE, Korsel dan lainnya," katanya.

Zulkifli juga mengungkapkan pihaknya terus memberi peluang keterlibatan UKM dalam rantai nilai global. Selain itu, Kemendag juga turut serta dalam upaya meningkatkan kapasitas SDM UKM melalui berbagai pelatihan dan pendampingan agar mereka lebih andal dan berdaya saing.

Melalui Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center) yang tersebar di 40 negara, Kemendag juga tutur mempromosikan produk UKM indonesia ke seluruh dunia.

Meski demikian, Mendag mengakui, UKM Indonesia masih memiliki tantangan untuk naik kelas dan menjadi bagian dari rantai nilai global.

Berdasarkan catatan Kemendag, kontribusi UKM pada produk ekspor Indonesia tahun 2020 baru mencapai 15,69 persen, lebih kecil dibandingkan kontribusi UKM di negara-negara ASEAN yang rata-rata sudah mencapai 20 persen.

Demikian pula rasio partisipasi UKM Indonesia terhadap rantai nilai global yang masih di bawah angka 4,1 persen.

Mengutip data Asian Development Bank Institute pada tahun 2020, Zulkifli mengemukakan beberapa kendala yang dihadapi UKM Indoneisia untuk bisa naik kelas dan masuk rantai nilai global diantaranya karena produk ekspor masih didominasi oleh produk intermediate goods, bukan produk jadi atau produk manufaktur yang punya nilai tambah tinggi.

"Adanya keterbatasan infrastruktur dan mahalnya logistik juga menghambat pertumbuhan bisnis secara keseluruhan di tanah air," ungkapnya.

Belum lagi penguasaan tekno, pemenuhan standar dan kepemilikan sertifikasi yang belum tersebar luas. Serta, faktor eksternal lainnya yang menyebabkan penurunan partisipasi seperti permodalan, akses pasar, kondisi makro ekonomi, termasuk pandemi COVID-19.

"Tidak dipungkiri, masih banyak kendala lain yang harus diselesaikan bersama untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UKM. Maka, UKM sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan cikal bakal usaha yang besar harus didukung dengan kebijakan dan fasilitas yang tepat," tutup Zulkifli.

Baca juga: CIPS: Digitalisasi buka peluang usaha kecil masuk rantai pasok global

Baca juga: KEIN: keterlibatan sektor UKM dalam rantai nilai global rendah