Mendag: Harga Wajar Telur Ayam Rp28.000 per Kilogram

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa harga wajar untuk telur berkisar Rp27.000-Rp28.000 per Kilogram. Harga tersebut berdasarkan kalkulasi kebutuhan pakan dan faktor yang menopang peternakan ayam.

Dia menegaskan, harga yang ada di pasaran merupakan kesepakatan bersama antar pihak terkait melingkupi Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Asosiasi Peternak, dan pihak-pihak lainnya yang berkaitan erat dengan ekosistem telur dan ayam.

"Harga itu bukan ditetapkan sepihak, ini kesepakatan, mereka menghitung biayanya kalau enggak salah telur biayanya Rp22.000-Rp23.000 jadi jualnya Rp27.000-Rp28.000 jadi harganya kira-kira begitu," kata Zulkifli saat meninjau distribusi telur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (2/9).

Mendag Zulkifli juga menyampaikan, saat rapat kabinet dengan Presiden Joko Widodo, jika kenaikan harga pangan, khususnya telur melebihi 10 persen, pemerintah daerah diminta untuk memberi subsidi transportasi angkutan pangan. Subsidi dapat diberikan melalui dana cadangan daerah masing-masing.

"Kalau tidak terkendali harganya lebih dari 10 persen naik, bupati wali kota boleh mempergunakan dana cadangan untuk membantu transpornya," ucapnya.

Kontribusi Kepala Daerah

Sebelumnya, Zulkifli menyampaikan kepala daerah sepatutnya turut berkontribusi dalam pengendalian harga-harga kebutuhan pokok. Hal itu dia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR.

Zulkifli mengatakan, pengendalian harga agar tetap stabil sejatinya tidak hanya tanggung jawab pemerintah pusat. Dia mengatakan, jika pemerintah daerah dan pemerintah pusat memiliki satu persepsi dan pemahaman, pengendalian harga akan lebih mudah dilakukan.

"Tentunya kalau tugas antar pemerintah pusat, Gubernur Bupati itu satu pengertian itu lebih mudah," ujar Zulkifli, Selasa (30/8).

Dia berujar, kenaikan harga bisa disebabkan berbagai faktor seperti musim, keperluan besar yang mendadak seperti pandemi, acara besar, dan sebagainya. Namun dari sejumlah faktor itu, menurut Zulkifli pemerintah daerah bisa menentukan langkah-langkah agar harga tidak terus menerus melonjak.

Lonjakan harga, imbuh dia, akan berdampak terhadap terjadinya inflasi. Kondisi ini menurut Zulkifli akan menurunkan kepuasan masyarakat dan menimbulkan kemarahan. Sebagai mitigasinya, Zulkifli mengimbau kepala daerah agar sering turun ke lapangan memantau kondisi sebenarnya.

"Pak menko juga Pak Menteri Dalam Negeri menyampaikan bahwa ini tugasnya pemerintah daerah karena menteri perdagangan punya Kadis (kepala dinas) yaitu kepala daerah," imbuhnya.

"Oleh karena itu kalau ada bergolak harga mestinya pemerintah daerah juga bisa mengambil langkah-langkah tidak hanya pusat," sambungnya.

Langkah Patut Dilakukan Pemeirntah

Ada beberapa langkah yang menurut Zulkifli patut dilakukan pemerintah daerah seperti memberi subsidi pakan, subsidi transportasi pengangkut bahan pokok. Nantinya anggaran untuk subsidi dapat diambil dari dana cadangan.

"Seharusnya tidak hanya Kementerian Perdagangan tapi ini menyangkut pemerintahan mulai dari bupati dan wali kota," katanya.

Dia juga pernah membeberkan penyebab mahalnya harga telur ayam di pasaran yaitu tindakan afkir dini atau upaya mengurangi produksi indukan yang dilakukan peternak.

Selain itu, ada program bantuan sosial (bansos) yang memengaruhi stok di pedagang sehingga harga telur ayam ras terus naik.

Merujuk situs data harga pangan nasional di Kementerian Perdagangan, harga telur ayam ras per kg pada 31 Agustus sebesar Rp31.600 kemudian pada 1 September menjadi Rp31.500 atau turun 0,32 persen.

Harga cabai merah pada 26 Agustus Rp58.600 per kg menjadi Rp59.600 per kg pada 29 Agustus atau naik 1,71 persen. Harga tepung terigu dari Rp12.500 per kg menjadi Rp12.600 per kg. [idr]