Mendag Lutfi Ungkap Pemicu Harga Kedelai Naik

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, akhirnya angkat suara terkait kenaikan harga tahu tempe yang terjadi sejak akhir tahun lalu. Dia mengakui bahwa harga tersebut naik karena mayoritas harga bahan bakunya naik, yaitu kacang kedelai.

Lutfi menyatakan, dia telah memprediksi bahwa harga komoditas itu akan mengalami kenaikan cepat atau lambat. Sebab, tahu dan tempe menjadi salah satu makanan penting di Indonesia yang memiliki kadar gizi tinggi.

"Seperti saya prediksi bahwa kacang kedelai jadi permasalahan yang tidak mudah, karena ini barang penting bagi makanan, dan ketersediaan gizi bangsa Indonesia. Tapi pada saat yang sama lebih dari 90 persen kebutuhan kacang kedelai itu impor," tutur dia, Senin, 11 Januari 2021.

Karena sifatnya barang impor, dia menegaskan, gejolak harga barang-barang akan dipengaruhi oleh situasi eksternal atau dinamika kondisi internasional, termasuk cuaca, terutama di negara-negara yang menjadi penghasil utama komoditas kacang kedelai.

"Jadi sekarang ini harga kedelai itu US$13 dolar per rumpunnya dan ini harga tertinggi dalam 6 tahun terakhir karena gangguan cuaca El Nina di Latin Amerika yang sebabkan basah di Brasil dan Argentina," kata Lutfi.

Baca juga: Kisah Paulus Lolos dari Kecelakaan Sriwijaya Air SJ182

Kondisi itu diperparah dengan adanya gerakan mogok kerja di sektor distribusi Argentina. Hal ini menyebabkan terganggunya rantai distribusi kedelai dari sungai-sungai Argentina untuk kemudian masuk ke proses pengapalan di Brasil.

Adapun permasalahan kedua, dia melanjutkan, dipicu oleh meningkatnya permintaan kedelai oleh China. Kondisi itu dipicu oleh mulai naiknya geliat peternakan babi di China yang sempat mati akibat flu babi yang melanda negara tersebut pada 2019-2020.

"Seluruh anak babi di China dimusnahkan, jadi hari ini mereka baru mulai ternak babi lagi dengan jumlah sekitar 470 juta, yang tadinya makannya tidak diatur hari ini diatur. Karena makanannya diatur tiba-tiba ternak babi yang besar ini permintaan kedelai hampir dua kali," tuturnya.

Geliat ternak babi itu menyebabkan permintaan terhadap pakannya meningkat yaitu kedelai. Biasanya, dia mengungkapkan, permintaan kedelai untuk pakan ternak babi di China terhadap Amerika Serikat adalah 15 juta ton menjadi 28 juta ton.

Meski demikian, Lutfi memastikan, ketersediaan kedelai di pasar Indonesia masih akan mencukupi untuk memasok kebutuhan perajin tahu dan tempe. Namun ditegaskannya, ketersediaan itu cukup tiga sampai empat bulan ke depan.