Mendag: Pertemuan G20-TIIMM tak capai konsensus karena isu geopolitik

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyampaikan Pertemuan G20 Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIM) yang digelar di Nusa Dua, Jumat tidak mencapai konsensus karena isu geopolitik terkait konflik Rusia-Ukraina.

"Dari 27 paragraf, 26 disetujui, satu tidak, yang tidak disetujui yaitu mengenai isu geopolitik. Jadi memang tidak terjadi konsensus," kata Mendag di Nusa Dua, Bali, Jumat.

Mendag menyampaikan, pada pembahasan substansi, negara-negara anggota G7 yakni Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris menentang bahkan mengutuk atas perang yang terjadi.

Namun, negara anggota lainnya tidak menyepakati hal itu, sehingga tidak terjadi kesepakatan bersama atau tidak mencapai konsensus.

"Geopolitik itu posisinya jelas. Ada kubu sini atau sana. Isu geopolitik yang tidak dapat disepakati. G7 itu kan menentang keras, minta di-condem," tukas Zulkifli.

Baca juga: Mendag: G20 TIIMM hasilkan capaian konkret

Kendati demikian, Zulkifli mengatakan bahwa seluruh delegasi negara G20 pada TIIMM mengapresiasi Indonesia sebagai tuan rumah di tengah kondisi yang tidak mudah.

"Semua delegasi mengucapkan selamat kepada kita, mereka datang kepada saya dan mengapresiasi Indonesia sebagai tuan rumah di tengah keadaan yang tidak mudah. Ya, memang itu berat," ujar Mendag.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan isu geopolitik Rusia-Ukraina bukan rekomendasi Indonesia untuk dibahas dalam forum TIIMM.

Hal tersebut karena Indonesia ingin lebih fokus untuk membahas soal perdagangan, investasi, dan industri untuk bersama-sama bangkit dari dampak pandemi COVID-19.

Baca juga: Mendag apresiasi kontribusi UNESCAP sukseskan TIIMM G20

Namun, negara-negara G7 memandang bahwa perekonomian global bergejolak akibat pandemi COVID-19, yang diperburuk oleh perang antara Rusia-Ukraina.

"Sebagai tuan rumah, Indonesia berupaya untuk mengakomodir masukan tersebut untuk dilakukan pembahasan. Namun, hingga akhir pertemuan, tetap tidak menemui kesepakatan," ujar Djatmiko.

Djatmiko menyampaikan pada perhelatan tersebut Indonesia mengajak seluruh komponen di dunia untuk mengedepankan kebersamaan, sesuai dengan tema Presidensi G20 "Recover Together, Recover Stronger".

Ia mengatakan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah di tengah situasi yang menantang, yakni pandemi COVID-19 yang masih terjadi dan munculnya perang Rusia-Ukraina.

"Oleh karena itu, G20 merupakan satu proses negara di dunia untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi secara global," tukas Djatmiko.

Baca juga: Menperin tekankan transformasi digital sektor industri di TIIMM G20

Menurut dia, terdapat tiga target yang ingin dicapai pada Forum G20, yakni sukses substansi, sukses tuan rumah, dan sukses publikasi.

Pada G20 TIIMM, Djatmiko menyebut bahwa hampir seluruh menteri perdagangan negara anggota hadir, kecuali dari Tiongkok, karena negeri tirai bambu sedang dalam kondisi terkunci akibat pandemi.

Selain itu, tamu undangan yang terdiri dari sembilan organisasi internasional juga hadir dalam pertemuan tersebut.

"Ini berkat kerja sama semua pihak. Soal publikasi, bagaimana kita menyampaikan pesan kepada masyarakat dunia bahwa forum ini mencapai kesepakatan substansi," ujar Djatmiko.

Baca juga: Sektor investasi hasilkan Bali Compendium pada G20 TIIMM

Baca juga: Di Sidang TIIMM, Bahlil tekankan kolaborasi pacu investasi berkualitas