Mendag Sebut Ada Missed Market Bagi Produk RI di Pasar Arab Saudi

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menyayangkan adanya missed market bagi produk-produk Indonesia, khususnya produk dari segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di pasar Arab Saudi.

Sebab, menurutnya terdapat potensi pasar yang sangat besar bagi produk-produk UMKM tersebut, dengan lebih dari dua juta orang Indonesia yang pergi haji dan umrah ke Tanah Suci setiap tahunnya.

"Kita bisa melihat adanya missed market dengan perkiraan sekitar dua juta orang yang setiap tahunnya pergi ke Tanah Suci, yang memerlukan asupan makanan dan kebutuhan terhadap produk Indonesia," kata Lutfi dalam telekonferensi, Rabu 13 Januari 2021.

Untuk itu, dengan ditandatanganinya MoU antara pemerintah dan Kadin Indonesia terkait upaya optimalisasi peran UMKM dalam memenuhi kebutuhan bagi para jemaah haji dan umrah di Tanah Suci, Lutfi berharap produk-produk UMKM Indonesia itu nantinya bisa menjadi subjek utama dari ekspor non-migas nasional.

"Terutama (ekspor non-migas) oleh para pelaku usaha kecil menengah," ujarnya.

Lutfi memastikan bahwa jenis barang atau produk UMKM yang nantinya akan di ekspor ke Arab Saudi itu, adalah barang-barang yang penting dan menjadi kebutuhan yang akan dicari khususnya oleh para jemaah haji dan umrah asal Indonesia.

Dia berharap, nantinya para pelaku UMKM beserta produk-produk hasil produksinya itu, tidak hanya mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri tapi juga bisa menjadi pemain di tataran regional bahkan global.

Sebab, lanjut Lutfi, potensi penggunaan produk-produk UMKM asli Indonesia oleh para jemaah haji dan umrah asal Indonesia di Tanah Suci, selama ini memang sangat besar.

Dengan demikian, hal itu akan menjadi pasar tersendiri bagi produk-produk UMKM tersebut, yang selama ini belum terlalu optimal dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia khususnya dari kaca mata ekspor.

"Setidaknya para jemaah haji selama menjalankan ibadah haji itu mereka akan makan sebanyak 85 kali. Dan mudah-mudahan, makanan tersebut yang setidaknya seharga US$3,5 atau sekitar Rp50 ribu sekali makan, bisa didominasi oleh makanan dari produk-produk asal Indonesia," ujarnya.