Mendag Sebut Surplus Perdagangan 2020 Menghawatirkan, Kok Begitu?

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVAMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi menilai, surplusnya neraca perdagangan Indonesia pada 2020 merupakan bukti nyata bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Padahal, surplus itu baru terjadi lagi sejak catatan 2012.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca ekspor impor Indonesia pada tahun itu surplus sebesar US$21,74 miliar. Tertinggi sejak 9 tahun terakhir karena pada 2011 NPI tercatat sebesar US$26,06 miliar.

Lutfi menjelaskan, mengkhawatirkannya surplus neraca perdagangan ini disebabkan turun tajamnya kinerja ekspor dan impor Indonesia. Bahkan, dikatakannya, kinerja impor yang untuk mendukung geliat industri dalam negeri turunnya jauh lebih tajam.

"Menurut hemat saya sangat mengkhawatirkan, karena kalau kita lihat di situ ekspornya turun 2,6 persen meski nonmigas hanya turun setengah persen tapi impornya turun lebih jauh menjadi 17,3 persen," kata Lutfi di acara Bisnis Indonesia Business Challenges 2021, Selasa, 26 Januari 2021.

Baca juga: Duduk Perkara Gugatan Rp10 Miliar Sri Bintang Pamungkas ke BCA

Menurut Lutfi, penurunan itu disebabkan barang impor berupa bahan baku atau penolong yang porsinya terhadap keseluruhan impor mencapai 70,2 persen terjadi penurunan drastis. Artinya terjadi pelemahan terhadap sektor produksi dalam hal penyerapan barang modal.

"Karena barang impor kita itu 70,2 persen adalah bahan baku dan bahan penolong, jadi artinya kalau turun 17,3 persen impornya saya takut terjadi juga pelemahan-pelemahan terhadap sektor produksi yang dikonsumsi di dalam negeri," ucap Lutfi.

Melemahnya aktivitas perdagangan itu, menurut Lutfi, lebih disebabkan efek samping dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditujukan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.

"Ini efek samping PSBB. Jadi kalau kita lihat di situ sektor perdagangan turun 5,3 persen kuartal III year on year, transportasi dan perdagangan turun 16,7 persen, artinya perdagangan tergantung stok terganggu," ujar dia.

Jika aktivitas perdagangan terganggu, dimulai dari konsumsi masyarakat yang melemah dan produksi industri menjadi terganggu, Lutfi memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 akan terdampak secara langsung.

Oleh sebab itu, Lutfi memastikan, demi menjaga agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tetap optimal atau lebih baik dari kondisi 2020, seluruh arus barang yang masuk ke Indonesia akan kembali normal atau lebih baik dari tahun lalu.

"Apa yang saya kerjakan pada 2021 itu memastikan seluruh arus barang yang masuk ke Indonesia kembali normal atau lebih baik dari tahun sebelumnya. Saya akan perbaiki tata kelola di Kemendag dan memastikan 70,3 persen dari barang impor kita itu siap masuk ke industri," tuturnya.