Mendag Soroti Transformasi Digital Holding BUMN Klaster Pangan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Holding BUMN klaster pangan telah mengoperasikan aplikasi Warung Pangan yang saat ini telah mencapai 47 ribu pengguna. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memandang transformasi digital yang dilakukan Warung Pangan tersebut perlu jadi perhatian.

Ia mengatakan, langkah ini merupakan terobosan dari perusahaan BUMN dalam holding BUMN klaster pangan yang perlu didukung. Pasalnya, ia menilai dengan transformasi yang dilakukan, tak hanya membawa keuntungan bagi pembeli, tapi juga penjual dan sektor pendukung di bagian hulu lainnya.

“Yang ditolong ini bukan cuma customer tapi penjual, ini memberikan nilai tambah ke petani, pengusaha, yang dari beberapa aspek tercatat lebih banyak ruginya. Ini terobosan bisa jadi opsi untuk petani bisa menjual dalam close look circuit itu,” katanya dalam Launching Bersama Produk Warung Pangan, Kamis (16/9/2021).

Sebelumnya Mendag Lutfi mengaku mengikuti sidang ASEAN selama empat hari tentang ekonomi digital. Mengutip riset ADB, kata dia, ekonomi digital akan mengikis jarak antara yang ‘punya’ dan ‘tidak punya’ serta mengurangi gap antara yang kaya dan yang miskin.

Dengan begitu, hal tersebut jadi alasan bahwa transformasi digital yang dilakukan Warung Pangan dan sektor lainnya perlu terus didukung.

Inovasi pertanian, sidang asean lebih dari empat hari, berbicara sial ekonomi digital. ADB bilang ekonomi digital akan terkikis yang punya dan tidak punya, gap kaya miskin,

ini terobosan yang mesti kita dukung. Namun tak hanya sampai sini, karena berbasis teknologi anda harus bersandar pada inovasi. Kita harus bangun inovasi agar warna oranye ini bisa kalahkan oranye yang lain (di ekonomi digital Indonesia). Jadi saya ingin inovasi teknologi itu memastikan kita pemenangnya,” tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ekspor Beras

Pedagang beras menunggu pembeli di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Jumat (11/6/2021). Kementerian Keuangan menyatakan kebijakan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), termasuk soal penerapannya pada sembilan bahan pokok (sembako), masih menunggu pembahasan lebih lanjut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pedagang beras menunggu pembeli di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Jumat (11/6/2021). Kementerian Keuangan menyatakan kebijakan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), termasuk soal penerapannya pada sembilan bahan pokok (sembako), masih menunggu pembahasan lebih lanjut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lebih lanjut Mendag Lutfi mengatakan, dengan salah satu inovasi dari holding BUMN klaster pangan adalah kustomisasi, hal itu jadi keunggulan. Pasalnya, salah satu yang pihaknya pikirkan adalah terkait cara menjual beras premium milik Indonesia bisa di ekspor.

“Paket bermerek dan berlabel, ini menjadi yang premium, dipastikan keamanannya dipastikan kesehatannya, dan yang terpenting ini customize untuk konsumennya. Kita ini kemarin lagi pikir bagaimana bisa exercise menjual beras ke luar negeri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam sistem proses yang dijalaninya, masih banyak kendala, baik dari sisi proses penggilingan maupun pada hasil pun memiliki masalahnya tersendiri. Dengan adanya inovasi ini, jadi penjualan beras bisa dibuat menjadi lebih terjamin.

Transformasi BUMN Klaster Pangan

Holding BUMN Klaster pangan telah meluncurkan aplikasi warung pangan yang telah menjangkau sekitar 47.000 anggota dengan tujuan keseimbangan biaya pangan yang terjangkau. Menteri BUMN Erick Thohir menilai, setiap transformasi dalam sektor klaster pangan harus terjadi.

Tujuannya, kata dia, guna adanya keseimbangan dalam ekosistem pangan, misalnya dalam sektor-sektor yang harus impor atau yang bisa dihasilkan di dalam negeri.

“Transformasi di pangan harus jadi keharusan, harus seimbangkan berapa banyak yang bisa dihasilkan dalam negeri dan berapa impor, makanya sejak awal saya dengan Mendag, perlu ada ekosistem baru (yang menunjang),” katanya.

Dengan demikian ia mengatakan, data yang dimiliki perlu sesuai dengan semangat tujuan menyeimbangkan ekosistem pangan. Pada sektor ini, ia berharap segera bisa merasakan manfaat dari pembentukan Badan Pangan Nasional.

“Saya tau Mendag Lutfi adalah pribadi yang gak suka impor tapi data harus disamakan, alhamdulillah presiden sudah mengeluarkan Badan Pangan Nasional, kita harap ini bisa jadi kenyataan secepat mungkin,” katanya.

Terkait Holding BUMN klaster pangan, kata Menteri Erick, ada dua peran penting yang perlu dilakukan. Pertama, holding klaster pangan perlu menjadi stabilisator. Dengan adanya supply chain yang bisa diakses dengan mudah dan murah.

Hal ini juga akan terwujud dengan adanya ekosistem dari hulu hingga hilir, jadi biaya yang dibutuhkan pun akan semakin murah dan mudah. Dengan begitu, harga di pasaran menjadi lebih stabil.

“Yang kedua adalah yang tadi sudah disampaikan, friendly kepada market,” katanya.

Pada aspek ini, Direktur Utama PT RNI, Arif Prasetyo Adi mengatakan bahwa dalam menjawab tantangan permintaan pasar, ia mengedepankan sarana pasarnya terlebih dahulu.

“Kami agak terbalik, cutom base, marketnya dulu kita siapkan baru produksinya kita siapkan (sesuai pasar),” katanya.

Dengan begitu, tujuan holding BUMN klaster pangan yang ingin bisa mencapai sektor ritel bisa tercapai, tentunya dengan dukungan bagian ekosistem lainnya seperti grower on-farm, processing, baru sektor ritel.

“Kalau tujuan kita salah satunya adalah menjaga harga di level end customers, kita coba sampai kesana, jadi tingkat inklusivitas petani dan nelayan bisa ditingkatkan,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel