Mendag Ungkap Beda Konsumen di Indonesia dengan Negara Maju

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi menginginkan, agar konsumen di Indonesia tidak hanya menjadi objek saja. Akan tetapi bisa menjadi 'raja' yang mestinya dilayani dengan baik.

Dia menyadari sebagian besar konsumen di Indonesia masih tidak memikirkan bagaimana hak dari perlindungan mereka. Hal ini berbanding terbalik jika dbandingkan dengan negara maju.

Di mana sebagian besar negara-neagra maju jika ada komplen atas barang atau pembelian tidak sesuai bisa menuntut hingga yang lainnya. Namun kebanyakan di Indonesia justru menerimanya dengan lapang dada, dengan harapan tidak mendapatkan sesuatu hal yang sama buruknya dengan yang hari ini.

"Nah ini yang sebenarnya kita ingin perbaiki. Kita ingin memberikan pengertian ingin kita memastikan bahwa konsumen kita ini bukan hanya sebagai objek tetapi mustinya sebagai raja. Sebagai raja itu mestinya dilayani," ujarnya dalam acara dialog 'Konsumen Berdaya Pulihkan Ekonomi Bangsa', secara virtual, Selasa (20/4/2021).

Mendag Lufi menambahkan, dengan konsumen yang kuat, maka pergerakan ekonomi akan dapat berjalan dengan mudah. Apalagi konsumsi sendiri menjadi kontribusi terbesar dalam pembentukan ekonomi nasional.

"Kata kuncinya sore ini adalah kita ingin menggerakkan konsumen nasional ini menjadi konsumen yang mendapatkan pencerahan yang baik untuk memperjuangkan haknya bukan hanya kewajibannya membayar sebagai konsumen," tegasnya.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

Harga Daging Ayam Naik di Ramadan, Mendag Maklum

Pedagang menata ayam potong yang dijual di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (14/4/2021). Memasuki bulan Ramadan, harga daging ayam alami kenaikan dari Rp 39 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pedagang menata ayam potong yang dijual di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (14/4/2021). Memasuki bulan Ramadan, harga daging ayam alami kenaikan dari Rp 39 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memaklumi kenaikan harga daging ayam pada saat Ramadan, hal ini terjadi karena harga pakan ayam cenderung naik, sama seperti kedelai yang di dunia mengalami kenaikan.

"Harga daging ayam itu naik karena pakannya yaitu jagung hari ini tinggi sekali, jadi sangat bisa ditolerir. Jadi itu semua sudah saya hitung terkait kenaikan tersebut," kata Lutfi dikutip dari Antara, Selasa (20/4/2021).

Namun demikian, Lutfi menyebut, harga daging ayam di Jawa Timur masih jauh lebih rendah atau lebih murah dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Indonesia.

"Contohnya di Bandung, kemarin harga ayam itu sudah mendekati Rp40 ribu. Di sini harga masih berada di kisaran Rp36 ribu - Rp37 ribu. Jadi saya menganggap ini salah satu harga yang paling baik di Indonesia dan saya ucapkan selamat," kata Lutfi.

Ia mengatakan, secara umum stok untuk bulan Ramadan di seluruh Indonesia cukup, hal ini membuat harga-harganya bahan pokok stabil dan terjangkau.

"Karena terjangkau saya mohon bapak Ibu semuanya juga ikut berbelanja, karena untuk memacu konsumsi nasional dan memastikan pertumbuhan ekonomi ini berjalan dengan baik," katanya.

Sebab, kata dia, salah satunya untuk memastikan bahwa konsumsi berjalan dengan baik untuk menggerakkan ekonomi nasional yakni dengan berbelanja.

Sebelumnya, kenaikan harga daging ayam terjadi di beberapa wilayah di Jawa Timur, seperti di pasar tradisional Kabupaten Tulungagung, yang mengalami kenaikan drastis sejak menjelang hingga awal puasa, semula di kisaran Rp30 ribuan per kilogram kini menjadi Rp40 ribu dengan ukuran dan volume yang sama.

Selain itu, juga di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Jember, yang melonjak hingga Rp42 ribu per kilogram menjelang sehari datangnya Ramadan 1442 Hijriah, padahal sebelumnya pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Kemudian di wilayah Kota Madiun, yakni dari harga daging ayam sebelumnya Rp28.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp40.000 per kilogram.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: