Mendebat Sang Guru Masalah Rezeki, Inilah Kisah Imam Syafi’i dan Imam Malik

Syahdan Nurdin, kisahteldan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bagi kita umat Islam yang manganut 4 Madzhab pasti sudah mengenal dua nama Imam dalam kisah kali ini, nama Imam tersebut ialah Imam Malik dan Imam Syafi’i. Imam malik merupakan guru dari Imam Syafi’i, Keduanya adalah ulama fiqih besar yang sangat berjasa dalam perkembangan agama Islam di seluruh penjuru dunia.

Imam Malik dan Imam Syafi’I sangat akrab. Layaknya guru dan murid mereka kerap duduk bersama, tidak jarang keduanya berdebat tentang sebuah ilmu.

Pada suatu hari, Imam Malik dan Imam Syafi’i berada dalam satu majelis ilmu. Pada kesempatan tersebut Imam Malik menerangkan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah, Bisa datang tanpa sebab dan manusia cukup bertawakal dengan benar, maka Allah akan memberikannya rezeki.

Imam Malik berkata, “Lakukanlah yang menjadi bagianmu, selanjutnya biar Allah mengurus lainnya.” Apa yang diterangkan oleh Imam Malik tersebut beliau menukil sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang artinya: “Andai kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

Mendengar apa yang diterangkatan oleh sang guru, Imam Syafi’i langsung menyampaikan pendapat yang mana pendapat tersebut berseberangan dengan yang disampaikan oleh sang guru. Beliau berpendapat bahwa rezeki tentu harus dicari sebagaimana burung tadi yang harus keluar dari sarangnya.

Imam Syafi’i berkata, “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” Setelah itu, Imam Malik dan Imam Syafi’i tetap berpegang pada pendapat masing-masing.

Hingga dalam kesempatan yang lain, Imam Syafi’i yang tengah jalan-jalan melewati sejumlah petani anggur yang tengah memanen anggurnya. Karena Imam Syafi’i merupakan seorang yang alim, meski tanpa diminta bantuan Imam Syafi’i membantu para petani tersebut memanen anggur.

Setelah selesai memanen kemudian beliau diberi imbalan berupa beberapa ikat anggur. Atas kejadian tersebut, Imam Syafi’i semakin senang dan yakin bahwa pada dasarnya rezeki mesti dicari seperti apa yang baru saja ia kerjakan.

Imam Syafi’i pun berniat menemui Imam Malik untuk membuktikan bahwa rezeki itu harus dicari. Sesampainya di pondok, Imam Malik tengah duduk santai di serambi pondok. Imam Syafi’i lantas berkata, “Kalau saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu panen anggur), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Imam Malik yang mendengar perkataan muridnya itu tersenyum dan kembali menimpali pendapat Imam Syafi’i. “Seharian ini memang aku tidak keluar pondok hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit membayangkan alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sembari membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?

Cukup dengan tawakal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya,” terang Imam Malik yang kemudian membuat keduanya saling tertawa.

Begitulah sejatinya perbedaan yang dicontohkan oleh para alim dalam menyikapi perbedaan, berbeda pandangan tidak perlu diperdebatkan mati-matian, apalagi saling menyalahkan. Wallahu a’lam.