Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus, Ada Senyum Hangat Para Ibu Spesial

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Karolina Br. Ketaren

Setelah lulus kuliah dari salah satu universitas di Kota Bandung, aku pernah bekerja di beberapa lini pekerjaan. Bekerja sebagai pengajar seni rupa di sekolah, sebagai tim di salah satu perusahaan penyelenggara acara, dan ini pekerjaanku yang ketiga yaitu menjadi terapis perilaku untuk anak berkebutuhan khusus di satu yayasan swasta di kotaku.

Sebelumnya, aku tak mempunyai pengetahuan apa pun tentang bagaimana mendidik anak spesial. Jenis pekerjaan yang semula tak pernah terbayangkan sama sekali seperti apa. Bahkan, semasa kuliah dulu profesi ini tak pernah aku tahu ada keberadaannya.

Awalnya terasa berat ketika aku terjun ke dunia anak berkebutuhan khusus. Banyak hal yang harus mulai ku pelajari, tentang gangguan perkembangan pada anak seperti autisme, telat bicara, hingga gangguan pendengaran. Jujur, dari semua pekerjaan yang pernah kugeluti, hanya pekerjaan ini yang membuatku hampir menyerah. Namun, aku bertahan dan ternyata inilah pekerjaan yang mengajariku banyak hal yaitu, tentang ketangguhan yang nyata dari seorang ibu untuk anaknya.

Satu kejadian ini membuatku tersadar penuh akan hal itu. Tahun 2020 lalu, aku dan teman-teman terapis berkujung ke rumah salah satu siswa kami. Salah satu murid kami dengan autisme ternyata masuk ke sebuah kamar tidur dan menemukan obat pereda asam lambung, lalu meminumnya. Tentu sebuah obat sakit maag mengandung kadar gula dan pengawet yang harusnya tidak anak spesial konsumsi. Reaksi dari obat cair yang diteguk ternyata tidak main-main, selama lebih dari 2 jam siswa kami mengamuk, bahkan ingin menggigit orang-orang yang berada di sekitarnya. Kami semua yang terdiri dari 4 orang perempuan cukup kelelahan menahan tangan dan kaki si anak yang terus berusaha menyerang, dia meraung dan sesekali berteriak.

Memahami Ketangguhan Para Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/sutadwatthanakul
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/sutadwatthanakul

Sambil berurai air mata, ibu dari anak tersebut tetap mencoba tenang. Kami semua menunggu hingga anak itu kehabisan energi dan tertidur lelap. Setelah semua kejadian ini usai, sambil mengusap kepala ananda tercinta, ibu dari siswa kami terlihat mencoba tenang kembali dan berusaha kembali tersenyum. Kepada kami, dia mengatakan bahwa saat ini dia tidak lagi seperti dulu, selalu menangisi kondisi dan situasi tak terduga ketika mendidik buah hati dengan autisme. Dia selalu menyampaikan pada diri sendiri untuk kembali kuat, ceria, tersenyum lagi dan lagi, berusaha sekuat tenaga mendukung putranya yang kini berusia 10 tahun untuk tetap belajar.

Dulu, aku tak pernah membayangkan bahwa menjadi ibu merupakan tugas yang seberat itu, terutama untuk anak spesial. Sekarang, aku menyadari bahwa ibu bukanlah sebuah predikat bagi seorang wanita yang sudah mempunyai keturunan saja. Namun, ibu adalah sebuah tanggung jawab seumur hidup. Kini, aku mengerti arti senyuman dari ibu siswa kami itu. Mereka, para ibu tangguh dengan anak spesial akan mempertahankan sebuah senyuman di sudut bibir mereka. Mereka menjaga keyakinan bahwa anak mereka bisa mengejar ketertinggalan dibanding anak seusianya.

Saai ini, bersama para ibu spesial, aku terus mencoba mendidik dan mengajar anak-anak spesial itu. Dari hari ke hari, dengan sabar aku dan teman-teman mengusahakan satu demi persatu bunyi-bunyi yang bisa terucap dari anak spesial kami. Dari bunyi sederhana a, i, u, e, o, hingga terbentuk satu suku kata ba, bi, bu, be, bo, dan suku kata lain, lalu merangkai suku kata menjadi kata bermakna, Mama, Papa, halo dan kata lainnya. Sebuah kata baru dari siswa spesialku sungguh bukan hal yang biasa, tapi akan kembali lagi dan lagi menguatkan senyuman para bunda yang terkadang nyaris redup. Saat ini, motivasiku adalah menjadi teman dari para ibu spesial yang ikut memperjuangkan sebuah senyuman di wajah lelah mereka.

#ElevateWomen