Mendikbud Nadiem Ungkap Dampak Negatif PJJ

Lutfi Dwi Puji Astuti, Reza Fajri , Sumiyati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengevaluasi sistem pembelajaran jarak jauh atau PJJ yang telah berlangsung selama masa pandemi ini. Saat ini di seluruh Indonesia, 87 persen sekolah masih melakukan belajar dari rumah atau secara daring.

Bahkan, di zona kuning dan hijau yang sudah boleh melakukan belajar tatap muka juga belum berani membuka sekolahnya. Meskipun demikian, Mendikbud Nadiem Makariem mengakui banyak daerah yang kesulitan melakukan belajar secara daring.

"Setelah kita mengevaluasi belajar jarak jauh ini, dampak negatifnya pada anak adalah sesuatu yang nyata," kata Nadiem secara virtual, Jumat 20 November 2020.

Jika sistem PJJ ini terus dilakukan, maka menurutnya risiko pada anak akan semakin meningkat atau bisa permanen. Risiko pertama adalah banyak anak bisa putus sekolah karena banyak orang tua yang memaksa anaknya ikut bekerja selama masa pandemi ini.

"Banyak anak yang dipaksa bekerja. Banyak orang tua yang tidak melihat peranan sekolah selama belajar daring. Risiko ini bisa meningkat," ujar Nadiem.

Risiko selanjutnya adalah kesenjangan antar daerah atau sekolah yang akan terus meningkat. Nadiem mengakui ada kesenjangan antara daerah yang kesulitan melakukan PJJ dengan daerah atau kota yang memiliki infrastruktur penunjang yang baik.

Kemudian, risiko selanjutnya adalah kata dia adalah pertumbuhan anak-anak. Menurut Nadiem, ada risiko satu generasi yang 'hilang' karena banyak tertinggal pembelajarannya.

"Satu generasi hilang pembelajarannya dan harus mengejar. Di luar itu tidak kalah pentingnya adalah dampak stress," kata Nadiem.