Mendulang Manfaat dari Budidaya Tanaman Hias

Syahdan Nurdin, rizkysulaimansalim-289
·Bacaan 5 menit

VIVA – Gut Windarsih, salah satu dosen dari Program Studi Biologi Fakultas Sains UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengajak kedua mahasiswanya, Hendriyawan dan Ubaidilah untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat mengenai sosialisasi pemanfaatan pekarangan rumah dengan budidaya tanaman hias.

Kegiatan tersebut dilakukannya pada hari Jumat lalu (29/01). Sosialisasi pemanfaatan tanaman hiasa tersebut berlangsung di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, Banten.

Pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu bentuk dari pelaksanaan tugas Tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dijalankan bagi setiap dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi.

Hal tersebut ditujukan agar dosen dapat meningkatkan perannya dalam menerapkan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni) dalam masyarakat, sehingga masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari IPTEKS hasil karya Perguruan Tinggi.

Pada kegiatan ini, dilakukan sosialisasi mengenai pemanfaatan pekarangan rumah dengan budidaya tanaman hias kepada perwakilan warga. Berhubung masih dalam situasi pandemi, sosialisasi dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua PKK (Pemerdayaan Kesejahteraan Keluarga) Elis Herawati, ketua RT (Mahjumi), dan 6 perwakilan ibu rumah tangga dan remaja putri dari kampung setempat. Kegiatan ini tidak dihadiri oleh terlalu banyak peserta untuk menghindari kerumunan.

Di awal sosialisasi, Gut memaparkan mengenai beberapa jenis tanaman yang dapat ditanam di pekarangan rumah. Di masa pandemi ini, instruksi dari pemerintah untuk membatasi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar rumah serta penerapan WFH (work from home) memberikan dampak di berbagai aspek, di antaranya aspek psikologis masyarakat yang menciptakan kejenuhan beraktivitas di rumah.

Oleh karena itu, perlu adanya aktivitas tambahan yang lebih produktif untuk mengatasi kejenuhan, diantaranya dengan memanfaatkan pekarangan rumah dengan budidaya tanaman. Tanaman yang dibudidayakan di pekarangan rumah dapat bermacam-macam, diantaranya tanaman buah, sayuran, tanaman obat, atau tanaman hias.

Kegiatan pengabdian masyarakat di salah satu rumah warga di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kec. Gunungsari, Banten (Dok.Pribadi)
Kegiatan pengabdian masyarakat di salah satu rumah warga di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kec. Gunungsari, Banten (Dok.Pribadi)

Kegiatan pengabdian masyarakat di salah satu rumah warga di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kec. Gunungsari, Banten (Dok.Pribadi)

Tanaman hias memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat. Selain sekadar sebagai hobi, budidaya tanaman hias di pekarangan memiliki berbagai manfaat.

Selain dapat menambah keindahan taman, budidaya tanaman hias juga dapat mengurangi stres sehingga dapat membantu menjaga imunitas tubuh selama pandemi. Namun, tidak setiap orang memiliki pengetahuan yang memadai untuk membudidayakan tanaman hias.

Banyak masyarakat yang menanam sekadarnya, tanpa memahami betul teknik pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan dengan benar. Selain itu, masyarakat juga cenderung mengikuti trend an biasanya menanam tanaman apa yang sedang tren saat itu saja. Padahal, banyak berbagai jenis tanaman yang indah dan potensial untuk menghiasi taman rumah.

Kegiatan sosialisasi ini dilakukan dengan metode demonstrasi dan diskusi (problem-solving) tentang permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam budidaya tanaman hias.

Materi sosialisasi terdiri dari 3 subtopik, yaitu jenis-jenis tanaman hias dan teknik budidayanya, pemanfaatan barang-barang bekas untuk penanaman tanaman hias, serta penyerahan bantuan bibit beberapa jenis tanaman hias.

Pada akhir kegiatan, dilakukan kegiatan diskusi yang membahas tentang masalah apa saja yang dihadapi masyarakat selama menanam tanaman hias di pekarangan rumah.

Pada tahap pertama, dipaparkan jenis-jenis tanaman hias yang sering ditanam masyarakat dan tren saat ini. Kebetulan, saat ini masyarakat sedang demam budidaya tanaman hias janda bolong, sehingga masyarakat berbondong-bondong menanamnya.

Selain itu dipaparkan juga mengenai teknik budidayanya. Setiap tanaman umumnya memiliki teknik budidaya yang berbeda-beda, mulai dari media tanam, teknik pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan.

Pada kegiatan ini didemonstrasikan teknik budidaya tanaman lavender dan krokot. Pada bagian ini, dijelaskan bagaimana menyediakan bibit tanaman, salah satunya melalui stek.

Dilakukan demonstrasi pemotongan batang tanaman lavender untuk bahan stek dan cara membibitnya. Selain itu, dijelaskan pula jenis media dan komposisinya yang umum digunakan untuk pembibitan, seperti sekam, tanah, dan pupuk kandang/kompos.

Setelah stek berhasil menghasilkan akar, stek dipindah ke polibag yang berisi media tanam. Media tanam untuk setiap jenis tanaman dapat berbeda-beda komposisinya antara sekam, tanah, dan pupuk kandang/kompos. Setelah bibit tumbuh sesuai ukuran yang diinginkan, bibit siap dipindah ke pot yang ukurannya menyesuaikan ukuran tanaman.

Untuk pemeliharaan tanaman, diantaranya dipaparkan mengenai pemupukan dan pengendalian hama, diantaranya serangga seperti semut. Untuk tanaman yang masih pada fase vegetatif (menghasilkan daun), dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak tersedia di toko-toko pertanian.

Adapun untuk tanaman yang sudah pada fase menghasilkan bunga (fase generatif), dapat diberikan pupuk khusus fase berbunga, misalnya NPK-16-16-16. Narasumber pun menjelaskan cara memberikan pupuk tersebut pada tanaman, baik disemprot atau disiramkan ke tanah. Adapun pengendalian hama diantaranya dapat diatasi secara herbal, seperti penggunaan air rendaman tembakau, atau dengan pestisida baik kimia maupun nabati seperti yang tersedia di toko-toko pertanian.

Selain itu, dipaparkan juga contoh penggunaan barang bekas seperti gelas mineral bekas sebagai pengganti polibag untuk wadah pembibitan tanaman. Hal ini tentu sangat bermanfaat, karena selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah gelas mineral, dapat juga mengurangi pengeluaran biaya untuk polibag.

Selain itu, dipraktikkan juga penggunaan botol mineral sebagai pengganti pot bunga yang dapat diletakkan dengan digantung di dinding tembok.

Pada akhir kegiatan, dilakukan penyerahan bantuan bibit beberapa jenis tanaman hias kepada perwakilan masyarakat setempat. Bantuan bibit tanaman hias yang diberikan diantaranya berupa tanaman adam hawa (Rhoeo discolor) sebanyak 26 polibag, semacam lavender jenis Angelonia angustifolia sebanyak 73 polibag, krokot/mossrose jenis Portulaca grandiflora beraneka warna bunga yang bermahkota tumpuk sebanyak 21 polibag, dan krokot jenis duna Portulaca umbraticola sebanyak 10 polibag.

Selain itu, ada juga bahan stek batang tanaman lavender Angelonia angustifolia sebanyak 96 batang, 61 bahan stek batang krokot Portulaca grandiflora, dan 12 bahan stek batang krokot Portulaca umbraticola. Dengan bahan stek ini diharapkan peserta dapat praktik sendiri menanam tanaman hias di pekarangan rumah masing-masing.

Bantuan bibit tanaman hias kepada masyarakat di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, Banten (Dok.Pribadi)
Bantuan bibit tanaman hias kepada masyarakat di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, Banten (Dok.Pribadi)

Bantuan bibit tanaman hias kepada masyarakat di Kampung Simenjangan RT 10 RW 04 Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, Banten (Dok.Pribadi)

Dari kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin tertarik memanfaatkan pekarangan rumah untuk aneka tanaman hias, khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri.

Narasumber juga memaparkan bahwa tanaman hias ini tidak hanya untuk dinikmati keindahannya saja dalam mempercantik taman, akan tetapi juga dilihat dari nilai ekonominya.

Saat kondisi ekonomi terbatas, masyarakat dapat menjual tanaman hias ke toko bunga atau secara daring melalui media sosial atau online marketplace. Setidaknya, hal tersebut dapat mempertahankan ekonomi keluarga khususnya di masa pandemi ini.

(Penulis: Gut Windarsih, M.Si., Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)