Menegok Desa Tenganan Bali, Penghasil Tenun Gringsing yang Jadi Buruan Wisatawan Dunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pulau Dewata dikenal oleh para wisatawan asing maupun domestik karena keindahan alam dan budaya. Maka tak heran jika Bali menjadi destinasi nomor wahid di Indonesia.

Di Desa Tenganan, yang merupakan sebuah desa adat di sebelah timur pulau Bali siap membuai wisatawan karena mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur. Salah satunya tercermin dalam balutan kerajinan tenun tradisional kain Gringsing (Geringsing).

Geringsing merupakan kain tenun ikat ganda yang kerap digunakan untuk berbagai upacara adat Bali, sekaligus memiliki nilai ekonomis tinggi karena keunikan motif, pewarnaannya masih alami dan proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Ni Putu Nesya Agus Tini (39) seorang pengrajin setempat mengungkapkan, untuk sehelai kain Gringsing dihargai berkisar antara Rp 300 ribu hingga puluhan juta. Tergantung kerumitan motif dan lamanya proses pengerjaan.

"Proses pembuatan kain Gringsing tenun ikat ganda ini bisa memakan waktu yang lama. Lima tahun juga ada tergantung keunikan motifnya ada Wayang Kebo, Wayang Putri, Cempaka, Pepare dan lainnya. Untuk warna merah berasal dari akar sunti Nusa Penida. Sedangkan warna kuning berasal dari minyak kemiri. Itu tadi yang buat harganya tinggi bisa puluhan juta kan," ujar wanita asli Bali yang akrab dipanggil Ayu kepada Merdeka.com di Bali, Jumat (13/11).

Ayu menambahkan, penenun biasanya memintal sendiri kapas yang akan dijadikan kain. Sehingga bisa dipastikan 100 persen murni dibuat oleh tangan pengrajin.

Teknik Rumit

Kerajinan tenun tradisional kain Gringsing (Geringsing). Sebuah kain tenun ikat ganda yang kerap digunakan untuk berbagai upacara adat di Bali.
Kerajinan tenun tradisional kain Gringsing (Geringsing). Sebuah kain tenun ikat ganda yang kerap digunakan untuk berbagai upacara adat di Bali.

Selain itu, teknik pewarnaannya juga terhitung rumit. Khususnya warna kuning yang baru terlihat setelah diproses lebih dari satu bulan. Sementara warna merah bisa diproses lebih singkat.

"Ini kan tujuannya agar benar-benar menyerap sampai ke serat-seratnya. Makanya dijamin tidak akan luntur walau pakai bahan alami. Jadi, tetap bagus kan awet," terangnya.

Oleh karena keistimewaannya, kata Ayu, kain Gringsing telah menjadi buruan para wisatawan dunia yang sengaja berkunjung ke Desa Tenganan. Mengingat agungnya nilai seni yang direpresentasikan oleh kain tenun lokal Bali.

"Terutama dari Amerika, Australia, Belanda, dan beberapa negara di Eropa lainnya. Mereka biasanya bisa borong sampai 40 kain sekaligus untuk dibawah ke negaranya," tukasnya.