Menelaah dampak krisis geopolitik global terhadap ketahanan pangan

Invasi Rusia ke Ukraina yang dilancarkan sejak 24 Februari 2022 telah memberikan dampak luar biasa terhadap perekonomian banyak negara, terutama terhadap ketahanan pangan global.

Potensi krisis pangan tampak nyata mengingat bahwa kedua negara merupakan pemain utama dalam perdagangan hasil-hasil pertanian.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan bahwa Rusia merupakan penghasil 11 persen gandum dunia. Sementara Ukraina menyumbang 3 persen dalam perdagangan gandum dunia pada 2021.

Banyak negara, terutama di Afrika, Eropa Timur, dan Asia Tengah bergantung pada impor bahan pangan dari kedua negara. Rusia dan Ukraina bahkan memasok sampai 80 persen kebutuhan gandum di Kenya, Somalia, Ethiopia, Armenia, Mongolia, Azerbaijan, dan beberapa negara lainnya.

Perang yang disertai blokade di pelabuhan Ukraina di Laut Hitam juga menyebabkan negara itu tidak mampu mengekspor produk pertaniannya ke negara lain. Sanksi negara Barat ke Rusia turut andil dalam memperparah kondisi pasokan pangan dunia.

Sebagai balasan, Rusia mengurangi atau menghentikan ekspor komoditas yang dibutuhkan banyak negara, di antaranya gas alam ke negara-negara Eropa.

FAO memprediksi harga pangan dan pakan ternak akan naik 8-22 persen serta jumlah orang yang mengalami kekurangan gizi juga bertambah 8 juta hingga 13 juta dibandingkan kondisi saat ini jika konflik tersebut terus berlanjut.

Dalam High Level Seminar G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali, medio Juli Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan bahwa harga pangan global berpotensi meningkat hingga 20 persen menuju akhir 2022.

Harga pangan dunia melonjak hampir 13 persen pada Bulan Maret 2022. Ini juga mencapai level tertinggi baru dan kemungkinan akan naik lebih jauh.

Saat ini seluruh dunia tengah menyaksikan lonjakan yang mengkhawatirkan dalam kelaparan global. Perang di Ukraina dan memburuknya pembatasan ekspor memperparah dampak pandemi COVID-19 sehingga mengakibatkan ketidaksesuaian permintaan pasokan dan gangguan pasokan, yang mendorong harga pangan ke level tertinggi.

Tantangan terhadap ekonomi global juga disebutkan kemungkinan akan terus berlanjut sehingga harga pangan tetap tinggi di masa mendatang.

Situasi global saat ini pada tahun 2022 diproyeksikan akan makin memburuk dan ini bukan kabar baik bagi banyak negara.

Pandemi COVID-19 yang belum terselesaikan serta situasi perang yang terus berlangsung di Ukraina kemungkinan akan memperburuk kerawanan pangan akut yang sudah parah pada 2022.

Selain itu, ancaman krisis pupuk juga berpotensi memperburuk dan memperpanjang krisis pangan, bahkan hingga 2023 dan seterusnya. Dengan begitu, Sri Mulyani menilai ada urgensi untuk segera menangani krisis pangan tersebut.

Pengerahan segera semua mekanisme pembiayaan yang tersedia dianggap perlu untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat stabilitas finansial dan sosial. Hal itu nyata dan mendesak, terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan negara berkembang.

Kebijakan ekonomi makro yang baik juga dipandang masih perlu untuk dipertahankan.

Dampak bagi Indonesia

Meski perang Rusia-Ukraina memberikan dampak besar terhadap ketahanan pangan banyak negara, kondisi pangan Indonesia diperkirakan akan tetap aman pada 2022, meski sebagian kebutuhan harus dipenuhi dari impor.

Impor pangan dan defisit neraca perdagangan diperkirakan akan meningkat dibandingkan 2021. Bila panen padi musim gandum terganggu, harga beras akan naik relatif tinggi mulai Agustus 2022 sampai Januari 2023, kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas dalam sebuah diskusi pada Juli 2022.

Ketahanan pangan Indonesia cukup baik sebagaimana tampak dari indeks ketahanan pangan Indonesia sebesar 59,2 yang menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 113 negara pada 2021.

Produksi padi dalam 20 tahun terakhir juga relatif stabil, sekitar 54 juta ton per tahun.

Pada 2022 produksi beberapa komoditas pangan akan menurun seperti gandum yang turun 1 persen dari 778,3 juta ton pada tahun sebelumnya menjadi 770,3 juta ton akibat kekeringan di Uni Eropa, sementara perang Rusia dan Ukraina membuat distribusinya terganggu.

Produksi serealia juga diperkirakan turun 0,6 persen dari 2,80 miliar ton menjadi 2,79 miliar ton pada 2022. Pada saat yang sama produksi beras dunia diproyeksikan turun 0,4 persen dari 522,5 juta ton menjadi 520,5 juta ton.

Produksi biji-bijian kasar juga akan menurun dari 1,50 miliar ton menjadi 1,50 miliar ton atau turun 0,5 persen pada 2022.

Pada saat yang sama, beberapa komoditas pangan mengalami peningkatan produksi, seperti minyak nabati dan kedelai, yang menyebabkan harga minyak nabati dunia, termasuk minyak sawit, mengalami penurunan harga.

Karena itu pendapatan Indonesia dari ekspor minyak sawit dan produknya akan turun. Ekspor dan surplus pertanian Indonesia pun akan lebih rendah dari 2021.

Akhir krisis

Rusia dan Ukraina pada Jumat (22/7) menandatangani kesepakatan bersejarah untuk membuka kembali pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam bagi ekspor biji-bijian.

Perjanjian tersebut dicapai setelah perundingan berlangsung dua bulan, dan ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Turki.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kesepakatan itu membuka jalan bagi ekspor pangan secara komersial dalam jumlah besar dari tiga pelabuhan utama Ukraina: Odesa, Chernomorsk, dan Yuzhny.

Berdasarkan kesepakatan, pengiriman biji-bijian akan dipulihkan dari tiga pelabuhan yang dibuka kembali dalam jumlah seperti sebelum perang, yakni lima juta ton per bulan.

Semoga krisis pangan global yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina bisa membaik setelah dibukanya kembali ekspor biji-bijian Ukaina.

Baca juga: Moeldoko tekankan pentingnya penelitian sorgum hadapi krisis pangan

Baca juga: Macron: Krisis pangan global adalah senjata perang Rusia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel