Menelisik Fakta Cerita Mistis KKN di Desa Penari Versi Kepala Desa Bayu

Merdeka.com - Merdeka.com - Cerita mistis yang diangkat menjadi film fenomenal KKN di Desa Penari kini terus diperbincangkan publik, mengenai fakta kebenaran dan lokasi asli kejadian di luar nalar tersebut.

Akhir-akhir ini kisah tersebut diungkap oleh Sudirman, seorang penjaga situs Rowo Bayu yang berlokasi di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi melalui akun Instagram Menteri BUMN Erick Thohir.

Dia bercerita di tahun 2008, Desa Bayu telah menerima sekelompok mahasiswa yang berjumlah delapan orang tengah menjalankan tugas kuliah kerja nyata (KKN), namun dua diantaranya masuk areal hutan di utara situs Rowo Bayu.

Mereka berdua mengaku sempat bertemu seseorang dan mampir di sebuah rumah hingga dijamu dengan beberapa suguhan, sepulang dari sana kedua mahasiswa, laki-laki dan perempuan itu dibekali makanan yang dibungkus kertas koran.

Setiba di bawah tiang bendera Rowo Bayu, keduanya menunjukkan bekal dari seseorang yang telah menemui mereka. Sontak mereka kaget, bukan lagi berbentuk bungkus koran, tetapi malah berubah menjadi bingkisan daun talas yang berisi kepala kera.

Dalam video unggahan Erick Thohir tersebut, Sudirman mengaku cerita tersebut bersumber sari Kepala Desa Bayu, Sugito.

Saat ditemui, Sugito lebih menggamblangkan cerita KKN di Desa Penari lebih mendalam. Dia menyebut, keberadaan sebenarnya lokasi Desa Penari memang tidak ada secara pasti, namun dugaan kuat desa misterius itu berada di alam gaib.

"Kalau di sini ngomong Desa Penari tidak ada, tapi kalau secara gaib memang di sini banyak, kalau gaib di Rawa Bayu itu, kalau kita lihat dengan orang-orang yang tahu dengan yang sebenarnya atau alam gaib itu, ada istana dan tempat-tempat gaib di sini banyak," kata Sugito, Jumat (20/5).

Sekelompok mahasiswa yang melaksanakan KKN di Desa Bayu juga tidak sampai tuntas dan hanya berdurasi sekitar satu minggu. Usai kejadian dua mahasiswa membawa kepala kera, keduanya sempat mengalami sakit hingga beberapa hari dan dicoba untuk diobati masyarakat setempat dan tak kunjung sembuh.

"Setelah itu, mereka sakit beberapa hari dan sudah dicoba untuk diobati beberapa orang dan tetap tidak sembuh, akhirnya mereka pulang ke Surabaya, selang beberapa bulan kabarnya kedua mahasiswa itu meninggal," ungkap Kades Bayu.

Kejanggalan tidak selesai di sana, cinderamata yang dulunya diberikan sekelompok mahasiswa KKN dari kota Surabaya tersebut juga hilang, padahal setiap kegiatan semacam ini di Desa Bayu, kenang-kenangan dari mahasiswa pasti tertata rapi dan tersimpan dengan baik.

Mengenai adanya sebuah hutan larangan yang ada dalam cerita viral KKN di Desa Penari, Sugito menyatakan tidak ada.

"Di sini ini termasuk hutan lindung, kalau di sekelilingnya Rowo Bayu hutan produksi. Jadi di Rowo Bayu itu ada tiga hektare lokasi hutan lindung dan ada delapan hektare pendukung, jadi tidak ada hutan larangan," ungkapnya.

Jarak sekitar 3 kilometer dari rowo bayu, terdapat sebuah perkampungan yang tak lagi berpenghasilan. Perkampungan itu disebut Ndarungan yang dulunya merupakan tempat singgah para pekerja perkebunan Bayu Lor. Namun sejak tahun 2000, seluruh pekerja dialihkan ke perkampungan Telepak. Dulunya Ndarungan sempat dihuni sebanyak 18 KK.

Setelah mencoba menelusuri lebih dalam, Sugito menemukan ada dua perkampungan yang sudah hilang sejak tahun 1915 silam, lokasi ada di sekitar Ndarungan.

Meski ada temuan tersebut, Sugito tidak menemukan bekas-bekas bangunan dan perkampungan.

"Kalau soal kampung hilang saya punya data-tatanya, saya mencoba menelusuri namun tidak ketemu bekas bangunnya, saat tepat di lokasi kampung hilang tersebut, GPS saya tiba-tiba mati," cetus Sugito.

"Di sini ini termasuk hutan lindung, kalau di sekelilingnya Rowo Bayu hutan produksi. Jadi di Rowo Bayu itu ada tiga hektare lokasi hutan lindung dan ada delapan hektare pendukung, jadi tidak ada hutan larangan," ungkapnya.

Jarak sekitar 3 kilometer dari rowo bayu, terdapat sebuah perkampungan yang tak lagi berpenghasilan. Perkampungan itu disebut Ndarungan yang dulunya merupakan tempat singgah para pekerja perkebunan Bayu Lor. Namun sejak tahun 2000, seluruh pekerja dialihkan ke perkampungan Telepak. Dulunya Ndarungan sempat dihuni sebanyak 18 KK.

Setelah mencoba menelusuri lebih dalam, Sugito menemukan ada dua perkampungan yang sudah hilang sejak tahun 1915 silam, lokasi ada di sekitar Ndarungan.

Meski ada temuan tersebut, Sugito tidak menemukan bekas-bekas bangunan dan perkampungan.

"Kalau soal kampung hilang saya punya data-tatanya, saya mencoba menelusuri namun tidak ketemu bekas bangunnya, saat tepat di lokasi kampung hilang tersebut, GPS saya tiba-tiba mati," cetus Sugito. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel