Menelisik Pandemi dan Gairah Bersastra Anak Muda

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Demak - Perubahan yang menandai masa disrupsi terlihat jelas pada metode belajar atau bekerja. Semula aktivitas luring menjadi daring. Tak terkecuali di dunia pendidikan, pembelajaran dilakukan dari rumah menggunakan perangkat digital secara daring (online).

Kondisi ini dimanfaatkan Rylen Farrel Kusnanto (15) di dunia literasi. Siswa kelas 9 SMP PL Domenico Savio Semarang ini secara mengejutkan mampu menulis sebuah novel remaja berbahasa Inggris hanya dalam waktu sekitar 4 minggu.

Cerita fiksi berjudul The Bounty Hunter and Other Short Stories berkisah tentang tokoh bernama Jack. Ia tak diasuh orang tua karena si ibu meninggal saat melahirkannya. Ayahnya berada di penjara karena berburu secara illegal.

Jack hidup di sebuah kerajaan yang rajanya tak mempedulikan rakyat. Rakyat seringkali dibiarkan kelaparan sehingga sering melanggar peraturan dengan tetap berburu. Jack yang sejak kecil sudah dilatih memanah pun sangat mahir berburu dan selalu mampu melepaskan diri dari jebakan prajurit yang akan menangkapnya.

Raja gusar karena Jack tak kunjung tertangkap, maka dibuatlah semacam tipu muslihat. Raja yang melihat potensi Jack dalam berburu dan memanah ingin memanfaatkannya. Maka, dengan ia dijanjikan akan bahwa sanga ayah akan dikeluarkan dari penjara jika Jack bisa menangkap seorang pembunuh bernama London Butcher.

Tetapi Raja hanya hanya memberi waktu untuk 1 x 24 jam untuk menangkap penjahat sadis yang membunuh hampir setiap hari tersebut. Bagaimana endingnya, bisa dilihat lebih lanjut di dalam buku berisi 15 bagian cerita ini.

Menulis untuk Bersenang-senang

Rylen Farrel Kusnanto memamerkan karyanya. (foto: Liputan6.com/Kusfitriya Marstyasih)
Rylen Farrel Kusnanto memamerkan karyanya. (foto: Liputan6.com/Kusfitriya Marstyasih)

Kepiawaian Rylen dalam mengolah kata berbahasa Inggris tersebut bahkan mencengangkan sang editor, Stella Christiani Ekaputri.

“Bahasa Inggris Rylen sangat bagus. Tulisannya khas remaja. Jadi kita membaca rasanya seru dan memang untuk bersenang senang," kata Stella.

Cerita The Bounty Hunter and Other Short Stories mengantarkan Rylen Farrel Kusnanto menerima anugerah Museum Rekor Indonesia (MURI). Penyerahan penghargaan secara simbolis dilakukan oleh Jaya Suprana sang pendiri melalui video sambungan jarak jauh.

Saat berbincang virtual antara sang promotor Harsono Enggalharjo di Demak Jawa Tengah dengan Jaya Suprana di Jakarta, mereka mengapresiasi karya remaja ini. Para pengusaha gaek ini juga memberi bocoran informasi bahwa cerita fantasi petualangan ini akan diikuti oleh seri-seri lanjutan yang akan diterbitkan oleh sebuah penerbit terkenal di Indonesia.

Sementara itu Rylen sang penulis menyampaikan bahwa semua karyanya adalah buah dari ketekunan, support dari keluarga dan para sahabatnya. Tentunya anak anak berprestasi tak akan lepas juga dari dukungan orang tua. Ibu Rylen, Mevilia Enggalharjo mengatakan dalam mengasuh anak anak, ia memberikan kebebasan berekspresi kepada mereka agar mendalami bakat dan minat tanpa paksaan supaya mereka total dalam berkarya.

"Buat anak-anak Indonesia yang punya bakat menulis, jangan putus asa. Menulis saja, sesuai kata hati. Jangan dipaksakan karena kalau dipaksa menulis nanti tulisannya jelek,” kata Rylen.

Rylen berharap, karyanya bisa menginspirasi anak anak Indonesia agar mereka bisa berkarya dan melakukan hal hal positif.

"Di masa pandemi covid 19 justru malah banyak waktu untuk menulis. Ilhamnya datang tiba tiba. Bisa juga melihat dari lingkungan sekitar atau terinspirasi dari orang orang dekat," katanya.

Simak video pilihan berikut