Menelisik polemik sawah di Bunda Tanah Melayu (II)

Erafzon Saptiyulda AS
·Bacaan 5 menit

Di berbagai daerah pertanian padi kerap terjadi gagal panen lantaran tidak ada irigasi. Kondisi sawah tanpa irigasi kerap menyebabkan air dalam skala besar menggenangi sawah, dan juga sawah kering di saat musim kemarau.

Dalam berbagai literasi pertanian di berbagai daerah, jaringan irigasi dibutuhkan. Manajemen air di petakan sawah akan mampu meningkatkan produktivitas pertanian (Abbas dan Abdurrachman, 1985).

Pertengahan Agustus 2020, petani di Desa Tanjung Pauh Mudik, Punai Murindu, Pancuran Tiga, Bukit Pulai dan Sumur Jauh, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kerinci, mengeluhkan lahan pertanian yang tidak memiliki irigasi sehingga sawah yang dikelola petani kerap kebanjiran dan kekeringan.

Petani di Kelurahan Sangiasseri, Kecamatan Sinjai Selatan, pada Agustus 2020 gagal panen. Puluhan hektare sawah mengalami kekeringan.

Petani di Blok Rancakeong, Desa Jelegong, Bandung pada Juli 2020 juga mengalami gagal panen karena sawah yang dikelola kekeringan.

Pertanian di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau berawal dari keinginan Alias Wello saat menjabat sebagai Bupati Lingga. Ia membangun percetakan sawah di berbagai kawasan mulai tahun 2016, awal memimpin Lingga.

Di lokasi persawahan itu tidak memiliki irigasi sehingga petani mengandalkan sumber air alami dan hujan.

Baca juga: Menelisik polemik sawah di Bunda Tanah Melayu (I)

Baca juga: Moeldoko dukung kawasan food estate di Kabupaten Lingga

Jejak Alias Wello

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lingga menyatakan Alias Wello memiliki keberanian ketika memimpin Lingga selama hampir lima tahun.

Keberanian itu terlihat ketika Wello membangun percetakan sawah di sejumlah kawasan sebelum membangun irigasi.

Untuk membangun persawahan itu ada dua kementerian yang menanganinya. Kementan membangun sawah, pembibitan hingga pupuk, sedangkan Kementerian PUPR untuk membangun sarana irigasi.

"Jika menunggu pembangunan irigasi, kemungkinan rencana membuat petakan sawah tidak terlaksana," kata Kepala Seksi Sarana Prasarana Distan dan Ketahanan Pangan Lingga, Ahmad Zahari.

Ia tidak membantah sawah-sawah yang terbentang luas di sejumlah kawasan tidak terurus. Kondisi itu disebabkan para kelompok tani terpaksa meninggalkan pekerjaan itu saat musim hujan dan kemarau panjang.

"Kalau musim hujan, sawah banjir. Kalau kemarau, sawah kering. Ini yang menyebabkan mereka meninggalkan sawah," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Distan dan Ketahanan Pangan Lingga Siswadi mengatakan pertanian padi di daerah tersebut menggunakan anggaran dari Kementan, sementara sarana dan prasarana irigasi akan dibangun Kementerian PUPR. Namun, anggaran untuk pengadaan pupuk dialokasikan Pemkab Lingga dan Kementan.

"Sawah padi ini buah kerja sama Pemkab Lingga, Korem dan Kementan," katanya.

Baca juga: Daik, pulau sunyi di ibu kota negeri

Peran kelompok tani

Siswadi membeberkan sembilan desa di Lingga telah memiliki sawah yang cukup luas, yang dikelola kelompok tani. Di Desa Panggak Darat terdapat empat kelompok tani yakni Tunas Muda, Tunas Jaya, Tunas Karya dan Sumber Rezeki. Masing-masing kelompok tani mengelola sawah seluas 34,5 hektare, kecuali Sumber Rezeki 31,5 hektare. Sawah tersebut dicetak tahun 2017.

Kelompok Tani Usaha Baru, Harapan Baru, Usaha Mandiri dan Karya Tani mengelola sawah di Desa Panggak Laut. Sawah seluas 36-39 hektare dicetak tahun 2017.

Di Desa Nerekeh ada tiga kelompok tani yakni Parit I, Parit II dan Parit III, yang mengelola sawah yang dicetak tahun 2017 seluas 29-30 hektare.

Desa Resang terdapat empat kelompok petani yakni Bestari I, Bestari II, Bestari III dan Bestari IV, yang mengelola sawah yang dicetak sejak 2016-2017 seluas 49-70 hektare.

Di Desa Marok Kecil hanya ada Kelompok Tani Langkap Jaya I, yang mengelola sawah yang dicetak tahun 2017 seluas 70 hektare.

Kelompok Tani Jatayu dan Pangestu di Desa Bukit Langkap mengelola sawah yang dicetak tahun 2016 seluas 45 hektare di Desa Bukit Langkap.

Kelompok Tani Berkah Jaya, Penuh Berkah dan Hijau Berdaun di Desa Sungai Besar mengelola sawah yang dicetak tahun 2018 seluas 87,5 hektare.

Kelompok Tani Jaya dan Makmur di Desa Lanjut mengelola sawah yang dicetak tahun 2018 seluas 32,15 hektare.

Kelompok Tani Suka Damai dan Suka Tani di Desa Kerandin mengelola sawah yang dicetak tahun 2018 seluas 91,3 hektare.

"Total luas sawah di Lingga 978,45 hektare," katanya.

Sawah yang sudah produksi padi tahun 2016-2018 seluas 75,24 hektare, tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 47,01 hektare, dan Januari-Agustus tahun 2020 hanya 29,01 hektare.

Padahal sawah yang sudah ditanam bibit padi tahun 2016-2018 seluas 943, 95 hektare, sedangkan tahun 2019 seluas 85, 5 hektare, dan Januari-Agustus tahun 2020 seluas 44,60 hektare.

Sementara sawah yang sudah memproduksi padi pada 2016-2018 seberat 105,89 ton, tahun 2019 seberat 94,02 ton dan Januari-Agustus 2020 seberat 87,03 hektare.

"Lama produksi atau panen rata-rata empat bulan," ungkapnya.

Baca juga: Kabupaten Lingga berubah status dari zona hijau ke kuning

Ada Moeldoko

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko memberi apresiasi atas semangat dan kegigihan Ketua HKTI Kepri Alias Wello dalam membangun pertanian padi di Lingga.

“Saya yakin di bawah kepemimpinan beliau, pertanian di Lingga akan berkembang dan semakin maju,” kata Moeldoko saat meresmikan Kawasan Food Estate Wiratama di Desa Kuala Raya, Kecamatan Singkep Barat, Lingga.

Program pengembangan Kawasan Food Estate merupakan kerjasama HKTI Kepri dengan PT Wiratama Persada Mandiri di atas lahan seluas 1.800 hektare di wilayah Desa Kuala Raya, Singkep Barat.

Moeldoko berharap kehadirannya di Lingga bisa menjadi penyemangat bagi para petani dan pemangku kepentingan untuk mewujudkan Lingga sebagai kawasan penyangga kebutuhan pangan di Kepri.

Sementara Ketua HKTI Kepulauan Riau, Alias Wello membeberkan pengalamannya memulai pengembangan sektor pertanian di Lingga. Persoalan yang dihadapi yakni masyarakat Lingga mayoritas nelayan, namun memiliki ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.

“Saya punya mimpi, Lingga menjadi sentra industri pangan terbesar di Kepri. Sebab Lingga memiliki potensi lahan produktif dan sumber daya air yang melimpah,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Lingga memiliki potensi lahan pertanian sekitar 10.000 hektar. Sekarang baru tercetak jadi sawah sekitar 900 hektar.*

Baca juga: Panen perdana 10 ton udang vaneme di Kabupaten Lingga