Menelurusi Jejak Perkampungan Eropa di Surabaya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya- Kota Surabaya dikenal sebagai kota metropolitan karena kesibukannya yang tak pernah ada habisnya. Rupanya keramaian Kota Surabaya sudah terjadi sejak zaman kolonial.

Ada beberapa kawasan di Surabaya yang mendapatkan julukan Kampung Londo karena dihuni orang-orang Belanda. Peninggalan kampung Eropa di Surabaya itu sampai kini masih bisa disambangi.

Kawasan yang dulu dikenal sebagai permukiman orang Eropa di Surabaya, antara lain:

1. Jalan Rajawali

Pada masa kependudukan Belanda di Surabaya, Jalan Rajawali bernama Heerenstraat atau berarti jalan para tuan. Pada 1905, jalan ini menjadi kawasan pusat kegiatan ekonomi maupun pemerintahan. Banyak bangunan tua yang berfungsi sebagai perkantoran, seperti Gedung Cerutu yang digunakan oleh Algemeen Syndicaat van Suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indië untuk menyimpan persediaan cerutu para petinggi Belanda yang berada di Surabaya.

Selain itu, di jalan ini juga terdapat Gedung Interio yang digunakan oleh Asosiasi Perdagangan dan Kredit Internasional ‘Rotterdam’. Terdapat pula gedung tua dengan banyak pintu dan jendela, gedung tersebut dulunya ditempati oleh Mallaby.

Mallaby merupakan panglima perang Belanda dalam pertempuran 10 November. Gedung bewarna merah dan putih tersebut dulu digunakan Mallaby dan sekutunya untuk menyusun strategi perang melawan masyarakat Surabaya.

Jembatan Merah

2. Kawasan Jembatan Merah

Jembatan Merah menyimpan kisah heroik pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Membujur di tengah gedung-gedung yang sarat akan sejarah, jembatan ini masih terjaga hingga kini. Ketika berjalan di atasnya, seolah diingatkan kembali oleh cerita pilu ribuan nyawa arek-arek Suroboyo yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC.

Sejak saat itu Surabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda. Selain itu jembatan Merah juga sebagai pemisah antara daerah tempat tinggal etnis Belanda dengan etnis pendatang seperti etnis China, Arab dan Melayu.

Jalan Tunjungan

3. Jalan Tunjungan

Kawasan Tunjungan mulai menjadi pusat niaga yang masyhur pada 1923, setelah sebuah perusahaan perdagangan Inggris Whiteaway Laidlaw & Co, membangun toko di kawasan ini. Selain itu terdapat juga toko serba ada yang bernama Aurora yang berganti menjadi gedung bioskop, Toko Mattalitti yang menjual piringan hitam gramaphone dan terdapat Hotel Oranye yang sekarang menjadi Hotel Majapahit.

Seluruh gedung-gedung tersebut memiliki gaya arsitektur khas Belanda, tak lepas dari pengaruh VOC yang berhasil merebut kawasan-kawasan ini pada 1743. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas lain dibangun untuk mendukung pemerintahan seperti benteng, pos jaga, gudang amunisi dan mesiu, pekantoran, pergudangan juga gereja.

Pada 1866, peraturan segregasi etnis (wijkenstelsel) mewajibkan tiap-tiap etnis yang menetap di timur Kalimas membuat perkampungan sendiri, termasuk untuk para pedagang yang berasal dari Eropa.

(Tifani)

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel