Menelusuri Aliran Uang Toilet SPBU Pertamina

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Video Menteri BUMN Erick Thohir ketika sidak di SPBU Pertamina yang terletak di Kecamatan Malasan, Probolinggo tengah viral. Di sana, Erick Thohir mengeluhkan adanya tarif bagi siapa saja yang akan menggunakan toilet.

Baginya, Toilet adalah fasilitas umum dan tidak semestinya dipungut tarif. Terlebihm pengelola SPBU juga sudah mendapat keuntungan dari jualan bansin.

Tak habis fikir dengan hal ini, di lokasi yang sama, Erick Thohir langsung menegur Direksi Pertamina untuk memperbaiki semua pelayanan di SPBU, termasuk soal Toilet ini.

Berangkat dari hal ini, merdeka.com mencoba menelusuri mengenai kemana uang hasil setoran pengunjung toilet SPBU Pertamina ini.

Nanang bukan nama sebenarnya. Sejak 2016, dia bekerja sebagai operator di SPBU Pertamina milik swasta. Lokasinya berada di Jalan Haji Mulyadi Joyomartono, Margahayu, Kota Bekasi. Sementara pemiliknya adalah orang Yogyakarta.

Selain sebagai operator SPBU, belakangan dia juga merangkap sebagai petugas kebersihan. Di luar jam kerja, dia menyibukkan diri membersihkan fasilitas umum seperti mushola dan toilet.

Di tempatnya bekerja, memang tidak ada petugas khusus dipekerjakan untuk membersihkan toilet. Itulah yang kemudian membuat dirinya mengambil alih. Dan tentu, sudah mendapatkan izin langsung dari pengawas SPBU.

Secara kasat mata tidak ada tulisan maupun tarif dikenakan untuk penggunaan toilet tersebut. Hanya saja terdapat kotak amal besar. Di atasnya ada wadah kotak plastik berisikan pecahan logam Rp1.000 dan uang kertas Rp2.000. Pesan ini tersirat. Seakan menunjukan siapapun telah menggunakan toilet harus mengeluarkan uang 'kebersihan'.

Nanang tidak mematok. Apalagi, meminta uang secara langsung kepada para konsumen menggunakan fasilitas umum tersebut. Jika ada dikasih, diterima. Namun jika tidak, bukan tanpa masalah. Mengingat, dia juga tidak selalu menunggu di toilet tersebut.

Hanya saja, uang 'sukarela' terkumpul dari toilet menjadi tanggung jawab Nanang. Secara keseluruhan semua dikelola. Dalam satu hari paling banyak bisa mencapai sekitar Rp100.000 lebih.

Jika diasumsikan. Dalam satu hari pemasukan uang 'sukarela' sebesar Rp100.000. Maka jika dikalikan 30 hari atau satu bulan bisa mencapai Rp3.000.000. Namun, hang tersebut tidak sepenuhnya masuk kantong pribadi. 80-90 persen dipergunakan untuk alat-alat kebersihan.

"Uangnya untuk beli kaya pewangi, rinso, sabun. Selebihnya buat kopi," katanya bercerita kepada merdeka.com, Selasa (23/11).

Uang-uang tersebut tidak dikelola dalam satu bulan. Biasanya, pemasukan per hari itulah yang setiap harinya digunakan untuk keperluan kebersihan dan uang makan. Misal, jika dalam satu hari ada pemasukan Rp100.000, maka Rp80.000 akan digunakan untuk alat kebersihan. Sisanya, baru masuk ke kantong.

"Paling ada lebihnya Rp10.000 atau Rp20.000 di kantongin," ujarnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Janji Pertamina: Toilet di SPBU Gratis dan Bersih

Menteri BUMN Erick Thohir menegur Direksi Pertamina soal layanan toilet di SPBU
Menteri BUMN Erick Thohir menegur Direksi Pertamina soal layanan toilet di SPBU

PT Pertamina (Persero) berjanji untuk tidak hanya menggratiskan toilet di seluruh SPBU yang dikelolanya, tapi juga bakal menjaga kebersihannya.

Komitmen ini keluar setelah menerima arahan dari Menteri BUMN, Erick Thohir yang ingin operasional seluruh toilet di SPBU tidak berbayar alias gratis.

Corporate Secretaty Subholding Commercial And Trading PT Pertamina (Persero), Irto Ginting, menyatakan pengelolaan toilet gratis merupakan salah satu bentuk layanan yang ada di SPBU.

Namun, toilet di SPBU kedapatan kerap bertarif karena Pertamina pun bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengelola stasiun pengisian bahan bakar.

"Kami sosialisasikan kembali ke para pemilik SPBU untuk meningkatkan layanan ke masyarakat, tidak hanya layanan BBM namun juga termasuk memastikan ketersediaan toilet secara gratis dan memperhatikan kebersihan dan kenyamanannya," kata Irto kepada Liputan6.com, Selasa (23/11/2021).

Irto menekankan, kebersihan merupakan bagian dari pelayanan yang diusung Pertamina. Sehingga bila suatu toilet kotor, maka yang rugi adalah pengelola SPBU itu sendiri.

Menindaklanjuti arahan Erick Thohir, Pertamina ke depan pun akan terus memantau seluruh SPBU yang berada di bawah kendalinya agar bisa memberikan layanan terbaik sesuai arahan pemerintah.

"Makanya kami himbau agar para pemilik SPBU juga ikut menjaga kebersihan di SPBU-nya. Kami akan melakukan pemeriksaan secara periodik," ujar Irto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel