Menelusuri Bagaimana Selama Ini Pejabat Israel Bisa Terbang Diam-Diam ke Saudi

Merdeka.com - Merdeka.com - Titik penting lawatan Presiden Amerika Serikat (AS) ke Timur Tengah pekan lalu adalah mempererat hubungan antara Arab Saudi dan Israel khususnya bidang keamanan dan diplomasi. Sebelum terbang ke Riyadh, Arab Saudi, Biden lebih dulu mengunjungi Israel dan Palestina.

Saudi belum secara resmi dan terbuka menormalisasi hubungannya dengan Israel. Namun Saudi mengatakan akan membuka wilayah udaranya untuk semua maskapai penerbangan, termasuk dari Israel. Biden pun menyambut baik keputusan negara kerajaan tersebut.

Kendati sebelumnya ruang udara Saudi tertutup untuk pesawat Israel, namun sejumlah pejabat Israel kerap diam-diam terbang ke negara tersebut. Menurut laporan Haaretz, sampai saat ini tercatat berbagai tokoh Israel telah berkunjung ke Saudi di antaranya Benny Gantz ketika dia menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Israel dan Tamir Pardo ketika dia menjabat Kepala Mossad atau Badan Intelijen Israel.

Mantan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu juga pernah berkunjung ke Saudi pada November 2020 dan bertemu putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman atau MBS. Namun pertemuan Netanyahu-MBS ini terungkap saat itu.

Mengapa kunjungan diplomatik yang langka ini bisa terjadi walaupun tidak ada hubungan resmi Saudi-Israel? Pesawat Israel dilarang mendarat di Saudi, dan pesawat asing dilarang melakukan penerbangan langsung antara kedua negara. Dan bagaimana sejumlah pengusaha Israel yang aktif berada di Saudi bisa mendarat di Riyadh dengan pesawat pribadi mereka?

Begini jawabannya, seperti dikutip dari laman Haaretz, Senin (18/7).

Awalnya, penerbangan tidak menggunakan pesawat yang terdaftar di Israel. Untuk sampai di Saudi dengan diam-diam, penumpang yang berangkat dari Bandara Ben Gurion Israel harus menaiki pesawat pribadi yang terdaftar di negara ketiga. Beberapa pesawat pribadi terdaftar di luar negeri dan beroperasi secara resmi di Bandara Ben Gurion. Pesawat-pesawat ini milik miliarder Israel untuk urusan bisnis dan penerbangan pribadi. Beberapa pesawat bisa disewa oleh siapa saja yang memiliki kemampuan finansial yang ingin mencapai tujuan mereka dengan pesawat pribadi.

Karena pesawat asing tidak bisa terbang langsung dari Tel Aviv ke Riyadh, maka perlu transit atau "persinggahan diplomatik" singkat di negara tetangga, misalnya di Amman, Yordania. Dari Amman, pesawat tersebut lalu terbang ke Riyadh, dengan rute Amman-Riyadh, tanpa menyebut Israel. Dalam 90 menit, pesawat itu tiba di ibukota Saudi. Manuver serupa dapat dilakukan melalui Aqaba dan Sharm el Sheikh, Mesir.

Trik "persinggahan diplomatik" ini juga dilakukan oleh semua pengusaha serta personel diplomatik dan pertahanan yang terbang ke Qatar, yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Satu pesawat eksekutif Israel juga pernah terbang ke Pakistan menggunakan cara yang sama, melakukan "persinggahan diplomatik" di Amman, lalu terbang ke Saudi, dan dari Saudi menuju Islamabad.

Beberapa pertemuan rahasia terlacak di ujung bandara Larnaca di Siprus. Pesawat eksekutif yang diidentifikasi dengan penerbangan diplomatik Israel mendarat di Siprus bersamaan dengan penerbangan pesawat pribadi milik pemerintah Saudi. Pesawat tersebut terparkir berdekatan di sela-sela ujung timur laut bandara. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel