Menelusuri Riwayat Desa di Tengah Kawasan Industri

Syahdan Nurdin, AbdulRosyi123
·Bacaan 11 menit

VIVA – Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Tropodo”? Pas denger yang terpikirkan adalah kabar tak sedap dari salah satu surat kabar ternama New York Time tentang tahu dan plastik. Yang jadi bahan perbincangan warganet 2019 silam To Make This Tofu, Start by Burning Toxic Plastic banyak di medsos yang bertanya.

“Sidoarjo Tropodo ta? ”mungkin yang dekat Juanda,” Oh Tropodo Waru iya”. Masa sih, setahuku pabrik tahu gak ada sih di sana,.. ,”eits “Tapi bukan Tropodo itu iya yang saya maksudkkan.

Walaupun sama-sama Tropodo-nya, tapi tetap beda dari nama kecamatannya aja itu antara Tropodo Krian dengan yang Waru, tidak bermaksud untuk mengungkit masalah yang lalu.

Di Tropodo waru sendiri juga punya masalah sama tapi november 2019 yaitu telur ayam yang terdioksin pembakaran sampah plastik, walah kok bisa kembar mungkin sudah di takdirkan.”hus”

Tropodo pun terbilang juga cukup lama soal kawasan industri tapi bukan UKM seperti di Krian melainkan pabrik- pabrik 1980-an .dan salah satunya di belakang rumah saya ada PT Aneka Plastik yang punya tunnel di perumahan Citra Estate.

Tiap sore banyak tamu pakai showercap berdatangan.tak sangka rumah biasa tenyata bisa tembus.”guman ku.

Sebagai kawasan industri, penggunaan tanah kosong di Tropodo sebagai lahan industri secara bersamaan terpetakan (160,28 ) ha % dari luas persawahan. Terhitung sejak 1993 pabrik sudah cukup banyak di tambah juga tahun 90-an sudah berpenduduk 11.272 itu di periode periode awal (1980-1993).

Hal ini dikarenakan Tropodo sangat terbuka pengaruhnya dengan Kota Surabaya, sebagai ibukota provinsi. Tentu Kecamatan Waru penyebabnya. Karena sebagai kecamatan paling selatan dan berdekatan langsung dengan kota tetangga itulah sebabnya pemerintah Sidoarjo juga mengumumkan Tropodo sebagai desa paling cerdas di kabupatennya.

Di samping itu juga padat penduduknya. Sebab sudah banyak berdiri perumahan-perumahan, seperti Griyo Mapan Sentosa, Tropodo Indah, Tropodo Asri, Citra Tropodo, Wisma Tropodo, Taman Wisata Tropodo, Perum Samudra, Perum P&K.

Tropodo merupakan Desa yang banyak dihuni oleh penduduk yang berstatus pendatang dari berbagai daerah , baik dari dalam provinsi sampai luar provinsi.

Banyaknya Industri Pabrik-Pabrik Besar menarik pendatang untuk tinggal di sekitar pabrik Setiap tahun urbanisasi dan berbagai bentuk perpindahan lainnya yang masuk ke Desa Tropodo kecamatan Waru semakin bertambah. Demi mimpi tersebut pendatang menjadi buruh karena banyaknya industri besar maupun home industri yang ada di Desa Tropodo Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo.

Dalam bidang ekonomi masyarakat Desa Tropodo berbeda-beda. Bagi yang tingal di perumahan yang terdapat di Desa Tropodo bisa dikatakan menengah keatas. Dan mereka yang tinggal di Dusun Tropodo Wetan sampai Kulon, bisa dikatakan warga dengan tingkat ekonomi menengah kebawah.

Wah kemajuan yang pesat .flasback dulu,mungkin menarik...

Kita mulai dari sebuah teka teki yang saya sendiri tidak tahu,ketidaktahuan saya pun juga tidak sendiri seperti yang tulisan Mashuri Melacak Watu Manak dan Kuburan Mumbul di Tropodo .terdengar sangat padat muatan sejarah.tapi juga memberikan sebuah pernyataan yang sekaligus pertanyaan.

“Perlu diketahui, Desa Tropodo, Kecamatan Krian bukan Desa Tropodo, Kecamatan waru. Begitu pun dengan Dusun Klagen bukanlah Dusun Klagen di Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Mungkin ada hubungannya, tetapi hingga kini hubungannya itu masih samar. Sesamar hubungan asmara dua sejoli yang ingin mojok sambil menggunakan bahasa isyarat atau kode rahasima, eh rahasia. Ups! Yang jelas, hubungan nama-nama dusun yang sama itu masih sesamar sebagian besar sejarah desa-desa lainnya di Indonesia Raya “.kata(dia).

Mari kita pecahkan Desa Tropodo Waru ini. Langkah Pertama: saya mencoba untuk mencari entry “ Tropodo” di pencarian google dan hasilnya nihil. Malah ketemunya berita kriminal dan banjir.

Coba pikirkan cara yang lain. Apa yang sebetulnya mau aku cari. Mungkin bagaimana jika Tropodo masa kolonial. oke.Langkah Kedua: sekarang ketik alamat http://www.delpher.nl/ kalo beruntung bisa menemukan data-data lengkap tentang Tropodo.

Salah satunya alamat Tropodo secara lengkap yang saya temukan tercatat dalam Alphabetisch register van de administratieve (bestuurs-) en adatrechtelijke indeeling van Nederlandsch-Indie? (1931)

Daftar abjad dari distrik / daerah administratif (administratif) hindia belanda.pikirsaya cara belanda menjalankan pembagian atau membentuk kampung baru terutama daerah gedangan dan yang menjadi legenda cerita sidoarjo yaitu sarep tambak oso yang menyinggung desa yang juga punya hubungan historis dengan desa kelahiran sang legenda robin hood dari sidoarjo di desa tambak sumur.penemuan saya tidak cukup sampai di situ.

Saat saya mengakses situs https://nla.gov.au .saya menemukan peta. Peta ini merupakan peta karya Pieter Baron Melvill van Carnbée yang berjudul Algemeene atlas van Nederlandsch Indië (atlas umum belanda) di cetak tahum 1872 dan terus mengalami perubahan. Karena penyempurnaan kertas dari Universiteitsbibliotheek Leiden.

Memang untuk masterpiece dari sang pembuat nya Melvill van Carnbee, P. (Pieter), Baron, 1815-1856 sudah cukup baik dalam mendalami kartografi yang di dukung dengan catatan pelancong yang tiba dusun di salah satu distrik djenggolo 1(sekarang kecamatan waru).

Disusul dengan bukti keagamaan seperti terdapat situs makam yang nampaknya telah banyak di pugar tapi untuk letak tetap sama.

Terdiri dari 2 kompleks makam,di peta tua itu ada 2 kolom yang terpisah dengan jalan menuju pematang sawah masing-masing kolong ada tanda bulan sabit tidur.

Untuk makamnya disesuaikan dengan aspek dualistik desa yang satu Tropodo Kulon kampungnya orang alim (kata kawan saya yang marga sikin) di mana ada makam K.H.Akhmad Hakim &KH.Nur Qomari bin sikin sedangkan untuk K.H.Akhmad Hakim yang merupakan keturunan dari Sunan Geseng

makam mbah ahmad hakim
makam mbah ahmad hakim

makam mbah ahmad hakim,makam islam desa Tropodo Rw.2 Kec.waru Sidoarjo.

atau Cokrojoyo I murid Sunan Kali Jaga yang mengemban tugas dakwah di Desa Tropodo saat itu membuat desa ini mayoritas memeluk agama islam,di mana beliau adalah ulama dan sesepuh yang beasal dari marga Sunan Geseng dari putranya bernama Sunan Tegal Arum terus nasabnya sampai ke Pangeran Jayalengkara, lalu Ki Joko Brondong, Ki Anggowoso (bupati dari Surabaya), terus ke Mas Ngabehi arya jaya barja atau ki ageng janggrana III barulah sampai ke beliau.sebagaimana yang

silsilah mbah ahmad hakim
silsilah mbah ahmad hakim

silsilah mbah ahmad hakim

Tak jauh dari makamnya terdapat di sebelah selatanya terdapat makam mbah K.H Nurkomari bin Sikin yang lahir pada tanggal12-04-1940 yang wafat pada 2009 silam. sedangkan makam Tropodo Wetan ada Mbah Punden yang menurut keterangan kawan saya yang Desa Kulon.

Bahwa Desa Wetan itu tempatnya orang-orang yang banyak abangannya. Kulon dan Wetan Pembagian dua bagian sering dipahami sebagai dualisme (keserba-duaan) umumnya di desa seringkali untuk menisbahkan kaum abangan- alim yang secara orientasi letak sisi barat dan timur sudah jadi budaya legitimasi suatu wilayah.

Biasanya menilai dari tokoh sesepuh desa sebagai simbol cerminan warganya.dugaan saya Mbah Punden ini dulu orang islam tapi juga punya aliran kebatinan.

makam Mbah punde,makam islam desa tropodo Rw.1 kec.Waru Sidoarjo
makam Mbah punde,makam islam desa tropodo Rw.1 kec.Waru Sidoarjo

makam Mbah punde,makam islam desa tropodo Rw.1 kec.Waru Sidoarjo.

Jadi setelah kita menemukan bukti-bukti fisik. Selanjutnya menuju langkah ketiga : coba mainkan intuisimu dan bayangkan apa yang bisa gali dari sumber sumber yang ada misalkan saya ingin mencari tahu adakah hubungan antara desa A dengan B, maka perlu di sini ada upaya untuk menuangkan pandangan ini berdasakan pengalaman temuan kita yang dibuat versinya oleh kita sendiri.

Bagi yang sudah ke tahap ke 3, Anda sudah memasuki tahap- demi tahap menjadi penulis sejarah, yang harapan saya sebagai penulis ingin mengajak pembaca untuk berpikir bagaimana sejarawan bekerja.

Tentu yang bisa membantu untuk kelengkapan sumber. Siapa lagi kalau bukan narasumber dan itu penting sebagai benang merah sejarah antara satu dengan yang lain bisa saling mengikat karena kita punya daya serap mulai dari menggolah sumber menuju step interpretasi sumber.

Saya mencoba memulai dari beberap tahapan versi yang ada di Desa Tropodo yang intinya saya coba buatkan rangkaian versi saya sendiri dan dukungan sumber untuk membuat sejarah Desa Tropodo Waru tampak hidup di tengah-tengah kemajuan zaman.

Takutnya akan terlindas roda zaman dan terlupakan. Kata Bung Karno salam Jas merah ( jangan sekali-sekali melupakan sejarah).

Misalnya kita buat versi Pertama, anggaplah jika benar Tropodo Waru adalah keluarga jauh dari Tropodo Krian. Di mana Desa Klagen Krian menemukan tempat untuk mengungsi dari banjir besar yang merendam pemukiman dan pertanian. Maka desa ini diberi nama Trah Podo yang artinya kerabat atau keturunan yang sama berarti setiap warga pendatang akan disambut layaknya penduduk asli.

ini saya dapatkan bahwa banyak warga maupun pengunjung desa ini yang mengatakan "Banggalah menjadi orang Tropodo, kalian terlahir dan hidup dalam keberkahan dan kemudahan".

Saya kira kalimat itu sejalan dengan dugaan warga Tropodo yang berdasarkan otak-atik gatuk.Tropodo berarti trah yang sama. Adapun toponim Tropodo diduga dari kata Jawa Kuno, yaitu tara dan pada.

Menurut Kamus Jawa Kuno, tara berarti bintang, sedangkan pada memiliki makna banyak, yaitu : 1. daerah, tempat, dunia, 2. bisa pula jalan/cara/sarana. 3. makna lainnya adalah sinar.

Jadi belum bisa dipastikan apakah bukti ini bisa mendekati bahwa antara desa A dan B ada hubunganya.maksud saya dengan Tropodo Kecamatan Krian. Karena pada tahun 1947 banjir terjadi saat perang kemerdekaan.

Di mana para pejuang melakuakn peledakkan pada bendungan di Sungai Brantas . Pejuang itu tergabung dalam satuan T.R.I (tentara republik indonesia) akibatnya mojokerto air sungainya meluap. membanjiri daerah sekitar surabaya (porong,delta).Saya menumakan foto ini di (http://www.maritiemdigital.nl/index.cfmevent=search.getdetail&id=120093753)

weg bij krian!(menjauhlah dari krian)
weg bij krian!(menjauhlah dari krian)

weg bij krian!(menjauhlah dari krian)

Jadi sudah lama sekali Tropodo terdampak banjir.bahkan sejak air laut pasang dalam banjir masif di sungai brantas abad ke 11.menurut prasasti kamalagyan , yang di keluarkan oleh raja airlanggs pada bulan marggasira tahun 959 saka (11 november 1037) dan desa klagen tropodo bersorak memperingati jadinya bendungan waringin sapta.

Tapi seringkali tanggul jebol. Sehingga banyak desa, daerah, perdikan, hunian para biksu di buduran. Akibat banjir Oktober 1037 yang air laut selalu datang mengenanggi air sawah-sawah sehingga gagal panen.

Dan untung saja Tropodo yang saat itu diduga bernama Dusun Doyong. Berada di Wilayah Waharu zaman kuno tentunya tidak dapat disamakan dengan wilayah kecamatan Waru, Sidoarjo sekarang.

Selanjutnya versi Kedua, maka Tropodo akan dikenal lewat kisah makam Mbah Kertoyoso di tambak sumur yang saat itu desa Tropodo disebut dengan desa Doyong Tropodo.

Pada waktu itu seluruh masyarakat Tropodo digegerkan dengan adanya tiang milik bangsal Mbah Rejopalwono beliau saat itu pembuat Bangsalmenciptakan Bangsal ( semacam Sendratari / tempat pewayangan ) yang berada di area Yayasan Roudlotul Ilmi ( MINU-SMP ), dan sekali ucap “ jadi “ maka jadilah, konon saking tergesah-gesahnya pembuatan Bangsal yang entah diambil dari mana.

Walhasil bangunan Bangsal tersebut pembuatannya dibungkus dengan kain ( di bangkel ) dan salah satu tiang penyangga Bangsal tersebut jatuh di desa Doyong Tropodo.

Di sini saya menduga bahwa Tropodo adalah nama pendatang sedangkan yang aslinya disebut Dusun Doyong beserta sawahnya sampai daerah apa yang sekarang disebut sebagai perumahan Wisma Tropodo.

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur Kec.Waru Sidoarjo
Makam Sesepuh Desa Tambaksumur Kec.Waru Sidoarjo

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur Kec.Waru Sidoarjo

Untuk versi ketiga mencoba untuk meganalisa Prasasti KANCANA / BUNGUR 782 çaka dan prasasti Waharu kuti, 762 çaka 2a.dalam beberapa prasati itu menyebutkan bahwa bungur di bagi menjadi dua yaitu bungur lor dan bungur asana termasuk nama waharu kuti dan hujung galuh.

Penyebutan itu ada pada isi prasasti waharu kuti bertajuk tahun 840M.Prasasti gedangan/kencana/bungur bertajuk tahun 860M

Prasasti kaficana Kern – Verspreide Geschriften Volume 7
Prasasti kaficana Kern – Verspreide Geschriften Volume 7

Prasasti kaficana Kern – Verspreide Geschriften Volume 7

Dari penjelasan prasasti tersebut bahwa nama bungur dan waharu kuti termasuk hujung Galuh sudah ada sejak zaman Mataram kuno tahun 840 masehi jauh sebelum empu sendok dan Airlangga ada. Nama prasasti dinamakan sesuai tempat ditemukanya sebuah prasasti tersebut ataupun karena isi dari prasasti itu.

Dapat disimpulkan bahwa prasasti bungur berada di desa/ i bungur sendiri atau yang sekarang bungurasih juga sesuai isi dari prasasti sebelum dicopy ulang pada zaman Majapahit kemudian lempengan copyan tersebut tersebar di sekitar desa Bungur seperti i betro..i kebonpasar.. joho..gedangan.

Karena nama prasasti ada dua sebutan prasasti gedangan atau prasasti bungur namun bila merujuk nama wilayah Gedangan maka wilayah zaman Belanda yaitu Gedangan sendiri sudah meliputi bungur ..waru ..kutisari ..Betro..Tropodo dan sekitarnya masuk wilayah Gedangan.

Sedang prasasti waharukuti ditemukan di daerah waharukuti yang zaman Belanda termasuk wilayah Gedangan yang sekarang berubah nama waharukuti menjadi waru dan kutisari, Waru adalah desa sedang Kuti adalah tempat ibadah seperti candi.

Sedikit tambahan bahwa berikannya anugerah swatantra warga desa Waharu adalah dalam hal ini Dyah Jngok beserta para warga Waharu sangat setia, patuh, serta ikhlas melaksanakan perintah raja dengan menjaga, merawat dan membuat sesaji setiap waktu yang ditentukan tidak pernah putus terhadap bangunan suci milik raja di Waharu, dalam prasasti disebut ‘sang hyang puja haji parajakaryya’.

Ketetapan tersebut secara yuridis formal dimulai pada tanggal 13 paro terang bulan Jyesta tahun 851 ?aka (24 Mei 929)

Karena taat melaksanakan ‘parajakaryya’ itulah, maka Dyah Jngok dan para warga Waharu sebagai penerima perintah raja telah berhasil melaksanakan tugas kewajibannya (Siddhakaryya).

Demikianlah, tentunya nama Sidokare (Siddhakaryya) tersebut berasal dari nama suatu moment penting atas keberhasilan warga Waharu yang setia, taat melaksanakan perintah raja terhadap bangunan suci milik raja.

Sehingga mendapat status tanah swatantra untuk melaksanakan pemerintahan sendiri secara administratif di bawah kerajaan Medang.

Sebetulnya kecamatan ini sendiri punya andil besar dengan penamaan Kota Sidoarjo abad 18 yang bernama sidokare termasuk di dalamnya Desa Tropodo Waru yang dulunya juga bagian dari anugerah sawah seluas 38 jung milik Dyah Jngok. Pertanyaan selanjutnya siapa itu Dyah Jngok? Pertanyaan ini mungkin bisa dilanjutkan di tulisan saya yang berikutnya.

Tapi selama kita melakukan pencarian dengan sumber Belanda, ada yang perlu saya ingatkan ke pembaca sekalian.

"jangan sampai mau terjebak dengan skema historical colonial. penelusuran demi penelusuran haruslah berdasarkan pengamatan langsung. bukan penelusuran yang sekali duduk buka laptop lalu jadi. diperlukan jiwa pembolang di sini."