Menengok Tradisi Urunan dalam Perayaan Maulid Nabi di Madura

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bangkalan - Nabi Muhammad SAW selalu mengenang hari ketika ia dilahirkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qotadah Al Anshori, Muhammad Rosulullah mengenang hari lahirnya dengan cara yang sangat bersahaja: berpuasa sunah tiap hari senin.

Bagi Halimah, riwayat itu menjadi penangkal bimbang yang kerap muncul usai menonton cuplikan ceramah pendek yang menyebut perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah.

Maka, tiap bulan Robi'ul Awal, perempuan 32 tahun ini selalu menyisihkan uang untuk dibelikan beberapa bingkisan.

Di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, tempat tinggal Halimah, bingkisan itu disebut bherkat. Tiap bherkat ia isi dengan aneka jajan dan minuman ringan yang mudah dibeli di toko klontong.

Kamis pagi (29/10) lalu, yang bertepatan tanggal 12 Robiul Awal dalam kalender Hijriyah. Halimah membawa bherkat itu ke masjid desa dibantu kedua anaknya. Ratusan warga lain juga melakukan hal serupa pagi itu. Sebagian lagi membawa tumpeng buah.

Bherkat itu dikumpulkan di rumah 'ibu nyai'. Sementara tumpeng buah dijejer di teras masjid, di tengah-tengah kerumunan anak-anak dan kaum pria yang bersiap merayakan Maulid Nabi.

"Ini urunan bherkat. Agar tetap bisa merayakan maulid Nabi, tanpa harus terbebani keuangan," tutur Halimah.

Keutamaan mMmbaca Selawat

Suasana Maulid Nabi keliling Desa di Kecamatan Klampis Bangkalan. Tradisi ini biasanya disebut sabellesan karena dilaksanakan pada tanggal 11 Rabiul Awal.
Suasana Maulid Nabi keliling Desa di Kecamatan Klampis Bangkalan. Tradisi ini biasanya disebut sabellesan karena dilaksanakan pada tanggal 11 Rabiul Awal.

Setelah semua warga berkumpul. Aba Jauhari, kiai di kampung itu, mengawali acara maulidan dengan sebuah prolog singkat yang menguras air mata.

"Tumbuhkan rasa cinta kepada nabi dengan memperbanyak bacaan selawat. Baca selawat bukan hanya dengan lisan, tapi hadirkan Rasulullah dalam hati. Agar kita mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak," katanya.

Tetabuhan hadrah Dung Dungan, hadrah tardisional Bangkalan yang masih lestari di desa itu, menjadi penanda dimulainya Maulid Nabi Akbar yang digelar tepat tanggal 12 Robiul Awal, tanggal di mana Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun Gajah di Kota Mekkah.

Orang-orang pun berdiri. Mereka larut dalam lantunan selawat dari kitab barzanji. Bait-bait syair yang indah ini ditulis oleh Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim.

Syekh Ja'far al-Barzanji adalah keturunan dari ulama kelahiran Irak yang kemudian menetap dan menjadi Mufti Mazhab Syafi'iyah di Kota Madinah, Syekh Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid al-Alawi al-Husain al-Musawi al-Shaharzuri al-Barzanji.

Menjelang akhir acara, ratusan bingkisan bherkat yang terkumpul dari sumbangan warga tadi, dibagikan satu-satu ke jamaah yang hadir. Sementara tumpeng buah jadi rebutan anak-anak kecil.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: