Meneropong Peluang Trading Saham pada 2021

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah pelaku pasar modal mengaku cukup optimistis dengan pergerakan pasar saham dalam negeri sepanjang 2021. Seorang full time scalper, Bekti Sutikna mengaku sempat menikmati manisnya pergerakan market dalam negeri di awal tahun ini.

"Tahun ini cukup bagus buat saya. Saya membukukan return yang cukup luar biasa sampai ratusan persen. Januari sampai Maret itu didominasi oleh saham farmasi, trio ANTM-TINS-INCO, kemudian bank-bank mini yang mau ke digital bank. Itu saya cukup merasakan manisnya dari sana,” kata dia dalam diskusi daring Indonesia Investment Education - Rahasia Cuan Scalper vs Swing Traders, Sabtu (21/8/2021).

Namun begitu, Bekti mulai mengamati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak sideways pada akhir Maret hingga Mei. Namun, secara garis besar, sepanjang tahun ini berjalan, Bekti mengaku telah meraup cuan dengan besaran yang lumayan.

“Sekitar Maret akhir, April, Mei itu agak sideways IHSG kita. Saya juga merasakan loss di sana cukup lumayan. Tapi selama perjalanan Januari sampai saat ini masih kategori plus yang menurut saya itu luar biasa,"

“Seperti Juni-Agustus ini kalau lihat IHSG flat, tapi bagi saya pribadi selalu ada. Jadi peluang di market selalu ada saham kecil yang menarik untuk trading dan bisa diambil cuannya,” Bekti menambahkan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Reli Sejumlah Saham

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam kesempatan yang sama, trader Daniel Halim, yang juga jebolan HOTS Championship Season 4 Mirae Asset Sekuritas Indonesia bersama dengan Bekti, mengatakan hal serupa.

"2021 masih sangat bagus. Walaupun IHSG sideways, yang sideways saham-saham big cap yang alami penurunan. Tapi di sisi lain ada saham teknologi yang menopang IHSG sehngga tetap satabil,” kata dia.

Di sisi lain, Daniel melihat banyak saham rally di tahun ini. Rally adalah masa di mana terjadi peningkatan secara tajam akan saham, surat berharga maupun indeks.

"2021 banyak saham yang rally-nya dalam jangka panjang seperti AGRO, MARI, ABBA itu sampai ribuan persen. Terus ada juga bank mini dan digital, sama saham teknologi,”

"Saya kalau persentase profit sekitar 50-60 persen equity sampai saat ini. Cukup lumayan," kata Daniel.

Dampak Prospek mengejEkonomi

Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Tak jauh berbeda, seorang personal swing trader, Michael Yeoh mengatakan, pasar saham cukup mengejutkan karena outlook ekonomi berubah pesat pada 2021.

Sebelumnya, ekonomi Indonesia diperkirakan mengalami fase pulih atau reopening dengan bangkitnya sejumlah sektor. Namun, hingga saat ini, Michael Yeoh menilai pemulihan tersebut cenderung berjalan lambat siring dengan varian baru covid-19.

"Di 2020 banyak outlook yang mengatakan kita reopening ekonomi, jadi hampir semua sektor bakal oke. Tapi ternyata terhambat, mulai vaksinasi, datangnya varian delta membuat saham normal atau old school tertahan. Jadi dananya pindah ke spesifik sektor, seperti teknologi," ujar Daniel.

Hal ini juga yang menjadikan sejumlah saham, utamanya di sektor teknologi mengalami reli yang cukup tinggi karena likuiditasnya cenderung lebih rendah dibandingkan saham big cap. Michael mengatakan ,ini adalah saat bagi trader untuk mulai melirik sektor yang sedang populer, dan tidak terpaku pada sektor tertentu.

"Untuk trader, inilah saatnya untuk dinamis. Jangan punya mindset kaku, cinta sama satu saham dan nggak mau pindah-pindah. Ini kesempatan bagi kalian di 2021 untuk tunjukan kalau kalian bisa. Karena kalau masuk di 2020 saya yakin banyak yang K.O. Tapi kalau masuk di 2021 dengan market yang seperti ini, I guess di tahun-tahun mendatang akan lebih bisa jauh lebih survive," ujar dia.

Prediksi IHSG

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Chartis Indonesia Investment Education (IIE) Yudi Chen mengatakan, pola pergerakan IHSG tahun ini hampir menyerupai 2019. Pasar saham didominasi pergerakan sideways. Namun, kali ini lebih banyak saham yang prospek dibandingkan 2019 lalu.

"IHSG 2021 secar pattern mirip 2019. secara overall marketnya didominasi pergerakan sideways. Ini agak tricky. Tapi kalau lihat momentum di 2021 jauh lebih banyak saham yang bagus dibandingkan pergerakan di 2019," kata Yudi.

Adapun tahun ini, Yudi menilai pasar cenderung mengikuti apa yang sedang tren atau populer. Seperti tren perusahaan yang mengusung ESG, maka akan susah untuk mendapati perusahaan non-ESG. Ibarat mencari mangga di musim durian, kata Yudi.

"2021 storynya kemana, kita iku. Karena sekarang boomingnya teknologi, kita harus ikut teknologi,” kata dia.

Sementara itu, Yudi melihat masih ada peluang IHSG untuk upside. Hal itu merujuk pada crash yang sempat terjadi tahun lalu. Menurut hematnya, dua hingga tiga tahun usai crash, IHSG akan upside dan masuk fase bullish.

"Untuk 2021 peluangnya masih banyak upside karena kita baru crash di tahun kemarin. 2-3 tahun dari crash itu biasanya upside, dan kita akan masuk ke fase bullish. Sedangkan sekarang 2021 sama sekali belum masuk bullish, masih sideways. Jadi kemungkinan akhir 2021 atau awal 2022 market bullish,” ujar Yudi.

"Jadi itu salah satu kesempatan, harus ada di dalam market. Jangan sampai waktu bullish enggak ada, waktu crash ikutan. Itu sayang banget,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel