Meneropong Prospek IPO pada 2022

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penggalangan dana di pasar modal melalui Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) di pasar modal RI pada 2022 disebut masih akan ramai.

Keyakinan tersebut merujuk pada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan pencatatan saham baru, meski masih dalam situasi pandemi COVID-19. Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 68 pencatatan efek baru pada 2022.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, angka itu terdiri dari pencatatan saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), serta Efek Beragun Aset (EBA).

Khusus untuk IPO, Nyoman menuturkan, Bursa tidak memberikan perlakuan khusus terhadap sektor tertentu untuk melantai. Bursa akan berupaya akomodasi seluruh perusahaan dari berbagai sektor yang berencana mencari pendanaan di pasar modal RI.

Namun demikian, Nyoman mengatakan, investor memiliki preferensinya sendiri. Sehingga ada beberapa sektor yang tampak unggul sepanjang tahun ini dibanding sektor lainnya.

“Kita mengakomodasi semua sektor untuk dapat tercatat. Tentu ada preferensi dari investor ke depan. Jadi kalau kita lihat di tahun 2021, terlihat di sektor teknologi, infrastruktur, basic material. Selain financial dan consumer good,” ujarnya.

Dari sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan POJK 22/POJK.04/2021) tentang penerapan klasifikasi saham dengan hak suara multipel oleh emiten. Penerbitan beleid ini untuk meningkatkan jumlah supply di pasar modal.

Secara garis besar, aturan tersebut dimaksudkan untuk akomodasi perusahaan new economy, termasuk perusahaan rintisan (startup) untuk melakukan penawaran umum efek bersifat ekuitas berupa saham dan mencatatkan efeknya di BEI. MVS juga didesain untuk dapat melindungi visi dan misi perusahaan sesuai dengan tujuan para founders.

Adapun saat ini, masih ada 26 perusahaan di pipeline Bursa yang tengah dalam proses penawaran umum.

Analis PT Sucor Sekuritas, Hendriko Gani menuturkan, penggalangan dana dari pasar modal pada 2022 tidak akan sebesar 2021. Hal ini seiring sejumlah kebijakan bank sentral untuk memperketat likuiditas dan inflasi.

"2022 tidak sebesar tahun ini. Karena 2022 inflasi mulai ada pengetatatan likuiditas,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Hingga 30 Desember 2021, terdapat 54 perusahaan tercatat yang melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di BEI. Sehingga sebanyak 766 perusahaan telah mencatatkan saham di BEI.

Total fund raised IPO saham mencapai Rp 62,61 triliun, naik sebesar 1.022,35 persen dibandingkan dengan 2020 dan merupakan nilai penggalangan dana tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Indonesia pun masih menjadi Bursa dengan jumlah IPO terbanyak di Kawasan ASEAN selama 3 tahun berturut – turut sejak 2019.

Penggalangan Dana di Pasar Modal pada 2021

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Per 29 Desember 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan surat Pernyataan Efektif atas Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum untuk 192 emisi.

Emisi itu antara lain 52 Penawaran Umum Perdana Saham, 6 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk, 44 Penawaran Umum Terbatas, 37 Penawaran Umum Berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk Tahap I, dan 53 Penawaran Umum Berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk Tahap II, dengan total nilai penghimpunan dana hasil Penawaran Umum sebesar Rp358,43 triliun.

Dari 192 aktivitas Penawaran Umum selama tahun 2021 tersebut, tercatat 55 diantaranya merupakan Emiten baru Hendriko menuturkan, penggalangan dana pasar modal ramai pada 2021 seiring likuiditas cenderung besar karena pemerintah dan Bank Indonesia keluarkan stimulus.

"Likuiditas tinggi, investasi berdampak positif. Pendanaan banyak tahun ini karena regulasi. Bank harus tingkatkan modal jadi Rp 3 triliun secara bertahap sehingga banyak rights issue,” kata dia.

Komitmen Pemerintah

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, dalam rangka mendukung pengembangan pasar modal, pemerintah telah menurunkan tarif PPh Badan menjadi sebesar 22 persen sepanjang tahun 2021. Pemerintah juga telah memberikan insentif tarif PPh Badan yang lebih rendah, yakni sebesar 19 persen bagi Wajib Pajak Badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka.

"Hal itu dilakukan untuk mendorong peningkatan jumlah IPO di pasar modal Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Pemerintah juga terus berkomitmen untuk memperbaiki iklim investasi Indonesia, salah satunya melalui implementasi UU Cipta Kerja melalui terbentuknya Indonesia Investment Authority (INA).

"Dalam sejarah Indonesia, kita akhirnya punya engine untuk long term investment yaitu Indonesia Investment Authority, yang akan bisa mulai kerja di 2022,” ucap Airlangga.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel