Mengabaikan Perempuan Bisa Bahayakan Ekonomi Indonesia, Ini Buktinya!

Aulia Akbar

Percaya gak percaya, menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund, jumlah perempuan yang ada diIndonesia mencapai 132 juta dari total 256 juta penduduk di tahun 2018. Walaupun jumlahnya beda tipis sama lelaki, terkadang mereka justru dipandang sebelah mata dalam hal apapun.

Lewat ajang Unite for Education (UFE) Sustainability Forum, PermataBank berkolaborasi dengan fintech P2P lending Amartha menggelar Perempuan Pencipta Perubahan Awards.

Asal kamu tahu, UFE merupakan bagian dari program tanggung jawab korporat dari bank dengan kode emiten BNLI ini, yang sudah berjalan selama sembilan tahun. Tema Perempuan Pencipta Perubahan sengaja dipilih untuk menggarisbawahi pentingnya perempuan untuk menggerakkan perekonomian bangsa.

Dalam ajang ini, dijelaskan pula sejumlah fakta tentang besarnya peranan perempuan untuk Indonesia. Mau tahu lebih lanjut? Berikut ulasannya.

Baca juga: Sempat Mau Dibeli Bank Mandiri, Untung PermataBank Meroket 121 Persen

1. Perempuan lebih jago dalam manajemen keuangan

Dirut PermataBank Ridha D.M. Wirakusumah, Deputi Komisioner dan Edukasi Perlindungan Konsumen OJK Sarjito, dan CEO Amartha, dan Andi Taufan Garuda Putra. (MoneySmart.id/Aulia Akbar)

“Akses perempuan terhadap peluang pasar di Indonesia masih terbilang minim. Padahal, jika mereka diberdayakan, maka dia bisa menjadi penggerak ekonomi Bangsa,” ujar Direktur Utama PermataBank Ridha D.M. Wirakusumah, dalam sambutannya di forum UFE, 7 November 2019 di Gandaria City Hall, Jakarta.

Hal itulah yang membuat PermataBank menggandeng startup P2P lending ini dan memilih tema Perempuan Pencipta Perubahan.

Bersamaan dengan itu, Deputi Komisioner dan Edukasi Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito juga mengatakan bahwa dalam urusan manajemen keuangan, perempuan memang lebih ahli ketimbang lelaki.

“Ibu-ibu itu memang lebih handal dalam urusan keuangan. Namun hasil dari survei kami (OJK), para perempuan ibu-ibu memang masih berada di bawah laki-laki dalam hal pemahaman keuangan (secara umum),” tegas Sarjito.

Jadi kesimpulannya, sebenarnya perempuan memang lebih jago dan piawai dalam urusan ini. Namun mereka sendiri minim bekal berupa pemahaman yang meluas terkait finansial, hal ini yang seharusnya diperhatikan secara khusus. 

Baca juga: Pengin Dapat Banyak Cashback dan Diskon? Pakai Aja Kartu Kredit Permata Ini

2. Tanpa pemberdayaan perempuan, kita sama saja membunuh 50 persen kehidupan sendiri

Dirut PermataBank Ridha D.M. Wirakusumah. (MoneySmart.id/Aulia Akbar)

Semua orang yang sukses tentu merupakan “produk” dari seorang ibu yang luar biasa. Latar belakang ekonomi bisa berbeda-beda, namun didikan ibu memang menentukan sekali di masa depan.

Hal itu diutarakan langsung oleh Sarjito serta CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra. Rida juga menambahkan, masa depan kemajuan perekonomian di sebuah pedesaan justru bergantung di tangan para perempuan.

“Kalau mau memajukan negara, jangan pernah tinggalkan perempuan. Meninggalkan perempuan sama saja dengan membunuh 50 persen dari kehidupan Anda di masa depan,” ujar Rida.

Rida pun menegaskan kembali, salah satu alasan menggandeng Amartha adalah karena PermataBank ingin membantu penyaluran pinjaman modal usaha ke wilayah-wilayah terpencil. Nah Amartha sendiri, hanya memberikan pinjaman modal usaha ke perempuan yang sudah berkeluarga atau janda. 

Mengapa demikian? Simak poin selanjutnya.

Baca juga: Kantongi Izin OJK, Perhatikan 4 Hal Ini Sebelum Pinjam Uang ke Amartha

3. Perempuan selalu sukses menggandakan penghasilan

Dirut PermataBank Ridha D.M. Wirakusumah, Deputi Komisioner dan Edukasi Perlindungan Konsumen OJK Sarjito, dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra bersama perempuan pengusaha kecil. (MoneySmart.id/Aulia Akbar)

“Mereka (para perempuan di pedesaan) tidak menyerah meski dengan segala keterbatasan. Dengan akses modal dan pengetahuan dari fintech seperti Amartha, bisa membuka usaha baru yang menjadi penggerak ekonomi desa, sekaligus sumber penghidupan keluarga,” ucap Taufan. 

Taufan juga menegaskan kembali bahwa dalam ekonomi akar rumput ini, perempuan memang punya semangat yang cukup menginspirasi. Rasa cintanya dengan keluarga, tentu membuatnya makin semangat dalam menjalankan bisnisnya.

Dalam siaran pers yang dikirim Amartha kepada MoneySmart 6 November 2019, salah satu temuan riset yang dilakukan Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada terhadap 80 responden yaitu perempuan mitra Amartha (nasabah) di Jawa, 76 persen dari responden mengaku bahwa mereka sukses menggandakan penghasilan lewat bisnis. 

Salah satu faktor penunjang bisnis itu ya apalagi kalau bukan pinjaman modal usaha.

“94 persen mitra Amartha merasa lebih sejahtera setelah bergabung dengan Amartha. Penghasilan mereka naik jadi Rp 5-10 Juta per bulan dari yang awalnya hanya sekitar Rp 1-2 Juta per bulan. Kenaikan tertinggi dirasakan oleh salah satu mitra Amartha di Klaten yang mengalami lonjakan pendapatan dari Rp 1,4 Juta menjadi Rp 10 Juta per bulan, jauh melampaui UMR Klaten senilai Rp 1.795.061”. Ujar Sekretaris Eksekutif CfDS UGM, Dewa Ayu Diah Angendari, dalam siaran persnya.

Intinya adalah, tanpa perempuan, mustahil Indonesia bisa maju. Selain itu, perekonomian akar rumput alias atau UMKM juga berkontribusi pada perkembangan ekonomi negara lho.

Kalau perempuan bisa sukses menggerakkan itu, pengangguran bisa ditekan dan Indonesia bisa maju. Begitu pula sebaliknya, jika mereka gak diberdayakan, maka ekonomi Indonesia yang jadi taruhannya. Setuju gak? (Editor: Ruben Setiawan)