Mengamankan daging di tengah wabah

Pada Mei 2022, industri peternakan ruminansia Indonesia kembali digegerkan oleh kabar tak mengenakan mengenai situasi buruk yang pernah dialami Indonesia, bahkan sejak era kolonial Belanda tahun 1800-an, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK).

PMK pertama kali muncul di Indonesia pada 1887, yang kemudian akhirnya bisa terbebas dari virus yang menyerang hewan ternak itu pada 1990. Namun, setelah 30 tahun lebih Indonesia terbebas dari penyakit yang merugikan itu, PMK datang lagi pada Mei 2022.

Sejak kemunculan pertamanya yang terkonfirmasi di Provinsi Jawa Timur dan Aceh pada Mei, kini menjelang berakhirnya Juli penyebaran PMK sudah terjadi di 268 kabupaten-kota pada 22 provinsi Indonesia.

Virus PMK memiliki kemampuan menular yang sama seperti COVID-19, yakni melalui udara ataupun secara tidak langsung melalui media yang terkontaminasi. Tak heran penyebaran begitu cepat.

Bahkan, virus yang sangat merugikan ini bisa bertahan selama tiga bulan pada sumsum tulang, jeroan, dan tetesan darah. Oleh karena itu, penting memastikan bahwa penyembelihan dilakukan dengan benar-benar sesuai prosedur agar wabah ini tidak semakin meluas di Indonesia.

Kementerian Pertanian memperhitungkan bahwa wabah PMK memiliki potensi membawa kerugian mencapai Rp9,9 triliun dalam setahun. Utamanya pada pasokan daging ruminansia dan susu sapi.

Meskipun sebenarnya PMK tidak memiliki potensi bahaya kesehatan terhadap manusia, di samping juga dagingnya tetap aman dikonsumsi dengan syarat minimal suhu dalam memasak, pemerintah tetap menaruh fokus pada pasokan daging nasional yang terganggu akibat wabah ini.

Sebelum adanya wabah PMK, Indonesia sejatinya masih membutuhkan pasokan daging atau sapi bakalan hidup dari luar negeri, alias belum swasembada.

Dengan adanya wabah PMK di Indonesia, dapat dipastikan produksi dan pasokan dalam negeri semakin menurun akibat adanya hewan ternak yang mati ataupun dipotong paksa.

Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi sebelumnya menyampaikan bahwa pasokan daging nasional masih akan tetap aman hingga akhir tahun 2022. Di samping Badan Pangan Nasional telah memobilisasi sejumlah sapi potong dari beberapa wilayah yang masih berstatus zona hijau PMK sejak awal Juli, Arief meyakini stok daging masih akan aman dengan adanya penugasan daging impor pada BUMN.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor 100 ribu ton daging kerbau dari India dan PT Berdikari sebanyak 20 ribu ton daging sapi dan kerbau asal Brasil.

Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita menyebutkan bahwa Bulog telah mengimpor sebanyak 48 ribu ton daging kerbau beku dari India. Bulog juga sedang memproses impor sebanyak 12 ribu ton daging kerbau beku dalam waktu dekat.

Sedangkan sekitar 40 ribu sisa kuota daging kerbau beku yang akan diimpor dari India disesuaikan waktu kedatangannya lantaran dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan daging hingga Desember 2022.

Febby menyebut bahwa pihaknya berupaya menjaga pasokan dan permintaan di pasar dan tidak menginginkan terjadinya kelebihan pasokan daging kerbau di pasaran.
Baca juga: Direktur Bulog: Daging kerbau beku selalu sold out

Edukasi

Di Indonesia, daging kerbau kalah popularitas dibandingkan dengan daging sapi untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih daging sapi segar untuk konsumsi ketimbang daging beku, apalagi daging beku tersebut adalah daging kerbau.

Padahal cita rasa dari daging kerbau dan daging sapi tidaklah berbeda. Perbedaan tipis yang ada pada kedua daging tersebut adalah serat daging kerbau yang lebih tebal dan lebar, dibandingkan serat daging sapi yang lebih halus.

Tidak sedikit rumah makan padang yang menggunakan daging kerbau sebagai bahan baku menu rendang ataupun dendeng. Pengunjung rumah makan tidak ada yang protes karena cita rasa kedua daging tersebut memang tak ada bedanya.

Menurut Febby, Bulog secara terus menerus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mulai mengonsumsi daging kerbau sebagai substitusi dari daging sapi. Keuntungan lain memilih daging kerbau ketimbang daging sapi adalah harga jualnya yang lebih rendah.

Bulog mematok daging kerbau seharga Rp80 ribu per kg, bandingkan dengan harga daging sapi di pasaran yang bisa mencapai Rp140 ribu per kg. Bulog pun tak menampik, lebih rendahnya harga daging kerbau yang dijualnya menjadi salah satu alasan stok daging kerbau yang diimpor selalu ludes.

Pada tahun 2021, Bulog ditugaskan untuk mengimpor 80 ribu ton daging kerbau dari India. Febby mengatakan keseluruhan 80 ribu ton daging tersebut terjual di pasaran.

Perlahan, masyarakat mulai menerima daging kerbau sebagai alternatif lain daging sapi di saat harganya melambung tinggi.
Baca juga: Bulog pastikan daging kerbau impor bebas PMK

Cadangan daging

Mewabahnya PMK di Indonesia membuat peternak hewan ruminansia merugi. Pemotongan bersyarat hewan ternak karena terserang PMK adalah di luar rencana usaha yang tak seharusnya terjadi.

Pemerintah sedang menggodok skema ganti rugi kepada peternak yang hewan ternaknya mati akibat PMK. Namun hal itu masih dalam pembahasan dan peternak pun masih harus menunggu.

Di luar itu, kalangan pelaku usaha peternakan berharap agar daging hewan ternak yang dipotong bersyarat dapat dijadikan sebagai cadangan daging nasional. Apalagi diketahui, daging hewan yang terkena PMK tetap aman dikonsumsi selama menjaga PH daging di bawah 6, dibekukan saat penyimpanan, serta dimasak di atas suhu di atas 50 derajat celcius.

Menanggapi wacana tersebut, Koordinator Substansi Zoonosis Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan Tjahjani Widiastuti menegaskan bahwa stok daging nasional bukanlah berasal dari hewan yang positif PMK, melainkan hewan yang sehat.

Hewan ternak sehat yang berada di wilayah zona merah PMK akan dilakukan pemotongan untuk mencegah penyebaran PMK semakin meluas dan menambah kerugian yang ditimbulkan. Hewan ternak sehat yang disembelih tersebut akan dijadikan cadangan daging nasional sebagaimana Bulog telah memiliki cadangan beras pemerintah (CBP) selama ini.

Tjhajani menjelaskan langkah tersebut bukan bentuk kompensasi ganti rugi, melainkan upaya mengamankan stok daging nasional agar tidak semakin menipis karena terserang wabah PMK.

Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita pun menyatakan pihaknya siap melaksanakan tugas apabila pemerintah menghendaki adanya cadangan daging nasional, dalam rangka mengamankan stok daging di Tanah Air.

Baca juga: Bulog tegaskan produk daging bekunya aman di tengah wabah PMK
Baca juga: Pakar tanggapi usulan daging hewan PMK jadi stok nasional

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel