Mengapa di Acara Penghargaan Film, Produser yang Naik ke Podium?

Dian Lestari Ningsih, raisaadzraah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Secara sederhana, jawaban dari pertanyaan di atas karena produser adalah pemilik film. Produser yang memiliki visi dan mengatur segalanya dalam proses pembuatan film. Jadi, menurut Salman Aristo produser Film Dua Garis Biru, kalau nonton film jelek salahin produsernya, karena produser yang paling bertanggungjawab dalam pembuatan film.

Dalam memproduseri suatu naskah untuk menjadi film, produser harus mencari keseimbangan seni dan bisnis. Ia harus tahu bagaimana menceritakan suatu plot cerita dengan berbagai macam cara, lalu memikirkan siapa pasar utamanya dan bagaimana cara memasarkannya.

Produser adalah seorang kompas.
Sebagai pemilik film, produser juga yang bertanggung jawab membuat alur kerja. Ketika membuat alur kerja, produser harus menjadi kompas, dengan selalu mempertanyakan sudah sampai mana? Di titik apa? Mencapai apa? Harus ada apa? Argumennya bagaimana? Plotnya sudah sesuai? dan lain-lain. Intinya, apakah pekerjaan masih on track?

Selain itu, produser harus tahu bagaimana stafnya bekerja, hal ini bisa dilakukan dengan titling atau memberikan jabatan kepada orang yang sesuai untuk sebuah pertanggungjawaban dan kelayakan. Agar jika ada sesuatu yang salah, bisa langsung tahu orang yang harus bertanggung jawab. Di sini produser juga bertindak sebagai pemecah masalah dan pencari solusi.

Bagaimana Cara Kerja Produser dan Tim?
Produser, sutradara, dan penulis skenario merupakan elemen paduan, pondasi, dan kolaborasi untuk menulis skenario bersama tim lengkap setidaknya ada admin, story developer, head of story development, dan tim riset. Mereka bekerja bersama di dalam development room.

Orang yang mengatur development room ini adalah produser. Development room harus menjadi ruang yang aman untuk mengeluarkan pendapat tanpa harus dihakimi. Oleh karena itu produser harus membentuk mereka menjadi super team dengan membangun ruang development yang sehat, dan orang-orang harus merasa ia dihargai.

Ketika produser tidak mampu mengontrol development room, maka akan menjadi development hell. Cirinya adalah ketika skenario tidak berkembang, produser tidak bisa menjadi partner menulis skenario, tidak tahu komen siapa yang harus didengar, dan komen seperti apa yang bisa mengembangkan skenario.

Saat Salman Aristo menjadi produser dan development roomnya berpotensi menjadi development hell, maka proyeknya bisa berhenti, bubar, atau Aris keluar. Saat masalahnya mentok tidak berkembang, maka proyeknya berhenti.

Namun, development hell bisa diselamatkan. Caranya dengan taking a break. Berhenti atau direm. Intinya harus ada langkah untuk berhenti, diajak bicara dan dicari ada masalah apa dan di mana. Istirahat ini juga sangat berpengaruh pada budget, makanya proses ini harus dianalisis, apakah worth dengan budget yang dikeluarkan?

Nah, untuk menghasilkan lingkungan kerja yang sehat, tim harus membangun empati. Tidak mencurangi rekan kerja, objektif dalam memberikan kritik, mengukur kapan being right vs being kind, mengakui jika terjadi kesalahan, tidak memelihara inkompetensi dan jangan melakukan pembiaran jika ada yang salah.

Kira-kira seperti itu proses bekerja sebagai produser yang diceritakan oleh Salman Aristo di Wahana Kreator Nusantara. Terakhir, untuk membangun super team, ia menyarankan untuk menyamakan ekspektasi dengan semua orang, dan mengatur kekecewaan. Agar jika suatu saat ada masalah dalam pembuatan film, super team ini dapat mengatasi dan mencari solusi atas permasalahannya.