Mengapa Facebook Diblokir di Myanmar setelah Kudeta Militer?

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit
Pegawai Departemen Pertanian Myanmar
Pegawai Departemen Pertanian mengenakan pita merah sebagai protes menentang kudeta.

Penguasa militer Myanmar telah memblokir akses Facebook, hanya beberapa hari setelah menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis.

Kementerian Komunikasi dan Informasi mengatakan akses ke Facebook diblokir sampai 7 Februari.

Menurut pihak berwenang, pemblokiran dilakukan untuk menjaga "stabilitas".

Sekitar 50% total penduduk Myanmar sebanyak 54 juta orang biasanya menggunakan Facebook dan kalangan aktivis membuat laman untuk menggerakkan oposisi menentang kudeta.

Facebook mengatakan aplikasinya itu untuk saat ini digunakan tanpa biaya data di Myanmar agar pengguna tidak perlu membayar mahal.

Staf di rumah sakit di Yangon
Staf di rumah sakit di Yangon mengenakan pita merah, simbol untuk menentang kudeta.

Diakui pula layanannya mengalami gangguan di Myanmar seiring dengan pengumuman pemblokiran itu, dan mengatakan, "Kami menyerukan kepada pihak berwenang untuk menghidupkan kembali konektivitas sehingga rakyat Myanmar dapat berkomunikasi dengan keluarga dan teman mereka dan dapat mengakses informasi penting".

Perusahaan telekomunikasi Telenor Myanmar, bagian dari Telenor Group Norwegia, menyatakan akan mematuhi perintah pemblokiran Facebook, tetapi pada saat yang sama juga mengisyaratkan bahwa langkah itu melanggar hak asasi manusia.

`Kebebasan anak muda dibatasi`

Walaupun telah ada perintah pemblokiran, Facebook dilaporkan sempat bisa diakses secara sporadis.

Anthony Aung, yang menjalankan bisnis perjalanan di kota terbesar, Yangon, mengatakan kepada BBC bahwa ia sempat dapat mengakses Facebook dengan menggunakan internet nirkabel tetapi tidak menggunakan data seluler.

Dikatakannya "orang-orang di sekeliling saya buru-buru mengunduh aplikasi alternatif dan VPN" - jaringan privat virtual yang memungkinkan pengguna menyiasati pembatasan internet.

Tetapi beberapa jam kemudian, kata Aung, Facebook sama sekali tidak bisa diakses.

Protes pada Rabu malam di Yangon, 3 Februari 2021
Semakin banyak warga keluar rumah di Yangon untuk memprotes perebutan kekuasaan oleh militer.

Pemblokiran seperti itu semakin mempersulit warga menjalin komunikasi, seperti mahasiswa seperti, Min Htet di Yangon, sebab kegiatan kuliah tatap muka sudah dihentikan karena pandemi COVID-19.

"Dengan adanya pemblokiran Facebook hari ini maka kebebasan anak muda dibatasi mulai sekarang," ujarnya seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Kudeta pimpinan Panglima Angkatan Bersenjata, Min Aung Hlaing, dilancarkan pada Senin (01/02 dengan alasan pemilu November lalu yang dimenangkan oleh partai NLD pimpinan Aung San Suu Kyi diwarnai kecurangan.

Komisi Pemilihan Umum menegaskan tidak ditemukan bukti-bukti kecurangan.

Pemimpin Myanmar yang dipilih melalui pemilu, Aung San Suu Kyi, bersama Presiden Win Myint, ditangkap pada Senin.

Pada Rabu kemarin (03/02) Aung San Suu Kyi dikenai sejumlahh dakwaan, di antaranya dakwaan memiliki peralatan komunikasi tidak sah berupa walkie-talkie yang digunakan oleh staf keamanannya.

Adapun Presiden Myint didakwa melanggar protokol Covid ketika berkampanye dalam pemilu November lalu.

Semakin banyak warga menyuarakan penentangan termasuk dengan cara memukul-mukul panci pada malam hari di Yangon.

Demonstrasi skala kecil juga digelar di depan universitas di Mandalay, kota terbesar kedua. Empat orang dilaporkan ditangkap.

Protes di Nay Pyi Taw mendukung militer
Pawai pendukung militer berlangsung di ibu kota, Nay Pyi Taw.

Setidaknya 70 anggota parlemen dari NLD menolak meninggalkan wisma milik pemerintah di ibu kota, Nay Pyi Taw, dan menyatakan hal yang mereka sebut sidang parlemen baru, kata BBC Burma.

Pegawai di instansi pemerintah dan rumah sakit juga menunjukkan penentangan dengan mengenakan pita atau bahkan berhenti bekerja.

Namun muncul pula aksi tandingan oleh ribuan pendukung militer, yang di Myanmar dikenal dengan nama Tatmada.

Pawai tersebut diadakan di Nay Pyi Taw, dan sebagian peserta mengusung spanduk bertuliskan "Tatmadaw cinta rakyat".