Mengapa Keluarga Marcos Pernah Sangat Dibenci Rakyat Filipina?

Merdeka.com - Merdeka.com - Pada 1986, dalam pemberontakan rakyat Filipina, Ferdinand Marcos terguling dari kekuasaannya setelah dia menjabat sebagai presiden sejak 1965. Dia terkenal karena kediktatoran dan kekejamannya.

Kini, putra Marcos satu-satunya, Ferdinand Marcos Jr atau yang dikenal dengan nama Bongbong Marcos, terpilih menjadi presiden dalam pemilihan yang berlangsung pada Senin (9/5). Kemenangan Bongbong akan membawa kembali nama Marcos ke dalam kekuasaan, tapi mengapa keluarga ini begitu dibenci?

Dikutip dari laman BBC, Rabu (11/5), keluarga Marcos identik dengan kisah-kisah dramatis seputar pembunuhan, unjuk rasa, pengasingan, dan ribuan pasang sepatu desainer ternama dunia.

Walaupun Marcos pertama kali menjadi presiden pada 1965, dia mengambil alih kekuasaan penuh di Filipina pada 1972, setahun sebelum masa jabatan periode keduanya sebagai presiden habis. Alih-alih berhenti menjabat, Marcos malam mengumumkan undang-undang darurat militer.

Dalam praktiknya, parlemen dibubarkan, politikus oposisi ditangkap, dan penyensoran total diberlakukan. Marcos, yang mantan pengacara sukses, mengambil kendali penuh atas pengadilan. Polisi dan tentara menyiksa dan membunuh lawan-lawannya, dan ini terus berlanjut sepanjang kekuasaannya.

Pelanggaran HAM dan korupsi merajalela. Tahun-tahun kekuasaan Marcos dikenang sebagai periode paling kelam dalam sejarah nasional Filipina. Jutaan orang hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara utang negara semakin membengkak.

Kejatuhan Marcos berawal setelah pembunuhan pemimpin oposisi Benigno Aquino pada Agustus 1983. Benigno mengasingkan diri ke Amerika Serikat, menjauh dari rezim Marcos. Berniat memperjuangkan demokrasi di negaranya, dia terbang ke Manila, tapi ditembak setelah mendarat.

Puluhan ribu orang menangisi kematian Benigno dan menjadi awal munculnya gerakan pro demokrasi. Massa mendukung istri mendiang Benigno, Cory Aquino ketika dia menyerukan pemilu segera pada 1986 untuk menenangkan kemarahan masyarakat atas kematian Benigno.

Pemilu 1986 digelar. Marcos mengklaim menang walaupun terjadi kecurangan masif. Ini memicu demo di seluruh negeri, jutaan orang turun ke jalan-jalan di seluruh Filipina. Demonstrasi ini disebut Revolusi Kekuatan Rakyat, yang kemudian menginspirasi gerakan yang sama di seluruh dunia.

Pemberontakan rakyat yang dilakukan dengan damai ini didukung Gereja Katolik dan mendapat dukungan petinggi angkatan darat. Tentara membelot dan menolak perintah Marcos untuk menembak massa.

Setelah empat hari kerusuhan massal, keluarga Marcos terbang ke Hawaii. Bongbong yang saat itu berusia 28 tahun dan baru memulai karier politiknya, ikut melarikan diri bersama keluarganya. Menurut catatan bea cukai Amerika Serikat, keluarga Marcos membawa berbagai macam barang berharga seperti perhiasan, pakaian bermerek, dan uang tunai.

Tiga tahun kemudian, pada 1989, Ferdinand Marcos meninggal di pengasingannya di Hawaii.

Jarah uang rakyat

Istri Marcos, Imelda dan kroninya menjarah uang rakyat senilai USD 10 miliar atau sekitar Rp 145 triliun saat suaminya berkuasa, sementara jutaan orang Filipina hidup dalam kemiskinan parah. Dari ratusan triliun tersebut, hanya Rp 58 triliun yang ditemukan atau dikembalikan ke kas negara.

Imelda Marcos, mantan ratu kecantikan yang terkenal karena berbagai koleksi barang mewahnya. Dia terkenal karena sering keliling dunia untuk membeli sepatu karya para desainer. Lebih dari 3.000 pasang sepatu ditemukan di istana kepresidenan Filipinan setelah keluarga Marcos kabur ke luar negeri.

Setelah mereka kembali dari pengasingan pada 1990-an. Bongbong Marcos memanfaatkan kekayaan dan relasi keluarganya untuk membangkitkan kembali ambisi politik mereka. Bongbong berhasil menjabat sebagai gubernur, anggota kongres, dan senator.

Ibunya yang kini berusia 92 tahun menjadi anggota kongres dan saudaranya, Imee menjadi senator dan mantan gubernur.

Bongbong Marcos yang berusia 64 tahun, sangat populer di kalangan anak muda Filipina. Dia membantah kritik atas kediktatoran rezim ayahnya, berdalih dengan pertumbuhan ekonomi saat itu, dan meremehkan pelanggaran HAM. Dia juga mengatakan dia saat itu masih terlalu muda untuk bertanggungjawab atas kejahatan yang dilakukan rezim ayahnya.

Upayanya untuk membangun kembali pengaruh politik keluarganya tampak berhasil dengan kemenangannya. Hasil pemilu, yang datang 50 tahun setelah ayahnya mengumumkan undang-undang darurat militer, akan menandai kembalinya Marcos dari pengasingan Hawaii menuju istana presiden. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel