Mengapa Kita Terobsesi Dengan Kiamat Zombie

Oleh Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com

Mereka meneror pusat perbelanjaan di “Dawn of the Dead”, dicatat dalam literatur klasik, dan bahkan membuat website Centers for Disease Control and Prevention (CDC) terpaksa tutup sementara.

Serius. Ada apa dengan zombie?

Gerombolan yang berjalan lambat (atau secepat kilat, tergantung versi pilihan Anda) hanya ada di dalam film horor, tapi mereka akhir-akhir ini meraih ketenaran dengan versi humor seperti dalam buku “Pride and Prejudice and Zombies” (Quirk Books, 2009) dan film “Shaun of the Dead” (2004), yang bercerita tentang salesman menyedihkan pada kiamat zombie.

Pada tahun 2011, CDC memanfaatkan demam zombie dengan posting blog yang didedikasikan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi zombie, yang menarik sejumlah besar pengguna internet sehingga server mereka kewalahan.

Alasan popularitas mungkin kembali ke sumber yang tak terduga, menurut sebuah analisis baru: Pada kenyataannya, zombie dapat membantu kita mengatasi keadaan setelah Perang Dunia II.

"Kita menggunakan narasi fiksi yang tidak hanya emosional untuk menghadapi kemungkinan kiamat yang akan datang, tetapi yang lebih penting adalah yang mungkin berfungsi melalui kerangka etika dan filsafat yang hancur di tengah Perang Dunia II," ujar sarjana sastra Stanford, Angela Becerra Vidergar, dalam sebuah pernyataan.

Membayangkan kiamat

Vidergar, seorang mahasiswa doktor dalam sastra bandingan, menganalisis kisah bencana massal dalam budaya pop untuk disertasinya. Dia menemukan bahwa bencana massal seperti Holocaust, Hiroshima dan Nagasaki membuka kesadaran baru tentang kapasitas manusia untuk kekerasan, yang menandakan keraguan pada masyarakat modern.

"Sebaliknya," ujar Vidergar, "Kita berada dalam fiksasi budaya yang memfiksikan kematian kita sendiri, yang sangat spesifik tentang kehancuran massal."

Prediksi tentang akhir zaman bukanlah hal yang baru. Orang yang percaya kiamat telah menjanjikan bahwa akhir zaman hanya tinggal beberapa abad, dengan "kiamat Maya" pada Desember 2012 hanyalah satu dari daftar panjang prediksi kiamat yang gagal.

Tapi Vidergar menemukan bahwa kepercayaan pada kiamat semakin bertambah. Peningkatan jumlah buku, film, acara televisi, dan novel grafis telah menggambarkan dunia setelah kiamat selama satu abad terakhir, dengan ledakan nuklir dan pandemi sebagai titik awal.

Sebagai buntut peristiwa traumatis seperti Perang Dunia II dan 11 September 2011, serangan teroris, minat publik sepertinya semakin bertambah, ujar Vidergar. Acara seperti “Doomsday Preppers” di kanal National Geographic Channel yang menampilkan orang-orang yang tidak hanya merenungkan akhir dunia, tapi mereka berbuat lebih dan mulai merencanakan untuk menghadapi kiamat.

Kiamat zombie
Meskipun beberapa prepper dunia nyata khawatir tentang zombie, fantasi tentang kiamat zombie menjadi bagian besar dari setelah kiamat budaya pop, ujar Vidergar.

Acara seperti “The Walking Dead” dari AMC dan film “28 Weeks Later” pada 2007, membantu orang memperkirakan bagaimana mereka akan bertindak untuk bertahan hidup, ujarnya.

"Zombies penting sebagai cerminan diri kita sendiri," ujar Vidergar. "Keputusan etis dari orang yang selamat, yang harus membuat di bawah tekanan dan tindakan yang mengikuti pilihan-pilihan yang tidak akan mereka lakukan dalam keadaan normal hidup mereka."

Terlebih lagi, Vidergar mengatakan, cerita kiamat zombie sebenarnya membuat harapan di tengah kehancuran dan kematian, saat orang yang selamat berjuang untuk hidup mereka.

"Bahkan jika masyarakat telah kehilangan banyak keyakinan pada masa depan yang positif dan menganggap sebuah bencana akan datang, kita masih berpikir bahwa kita akan selamat, kita masih ingin percaya bahwa kita akan bertahan hidup," ujar Vidergar.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.