Mengapa pelangi tidak punya warna hitam, coklat, dan putih?

Mengapa pelangi tidak memiliki warna seperti hitam, coklat, dan abu-abu? –– Ivy, umur empat, Kent, Inggris

Banyak dari kita pernah melihat pelangi di langit saat matahari mulai kembali bersinar setelah hujan. Untuk melihat pelangi, kondisinya harus tepat.

Kita membutuhkan tetesan air di udara –seperti hujan atau bahkan kabut – dan Matahari di belakang kita dan cukup bersinar rendah ke tanah. Ini karena pelangi tercipta karena adanya cahaya yang melewati tetesan air.

Cahaya yang berasal dari matahari terlihat putih bagi kita. Akan tetapi, cahaya putih yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya terdiri dari campuran warna yang berbeda. Saat cahaya melewati rintik hujan, warna-warna ini dapat terpisah.

Gelombang cahaya

Kita tidak akan mengetahuinya untuk melihatnya, tetapi cahaya bergerak dalam gelombang, seperti gelombang yang bergerak melintasi lautan. Setiap warna dalam pelangi memiliki apa yang kita sebut “panjang gelombang” yang berbeda.

Ini berarti jarak antara puncak gelombang memiliki panjang yang berbeda untuk setiap warna. Warna-warna ini, dari ungu dengan panjang gelombang terpendek hingga merah dengan terpanjang, disebut “spektrum kasatmata.”

Kita mungkin sering menggambar tetesan hujan dengan bentuk air mata, tetapi sebenarnya tetesan hujan lebih terlihat seperti bola kecil. Saat cahaya mengenai salah satu bola kecil air ini, cahaya dapat berubah arah. Ini disebut “refraksi.”

Setiap panjang gelombang yang berbeda dibiaskan dengan jumlah yang sedikit berbeda. Jika cahaya mengenai tetesan hujan pada sudut yang tepat, pembiasan akan memisahkan panjang gelombang menjadi warna yang berbeda. Karena banyak cahaya dibiaskan melalui banyak tetesan air hujan, kita melihat warna-warna ini sebagai pelangi di langit. Urutan warna yang masuk ditentukan oleh berapa panjang panjang gelombangnya.