Mengapa Pembalap Veteran Masih Menarik di F1?

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 2 menit

Tes untuk pembalap muda sehari setelah GP Abu Dhabi 2020, Senin (14/12/2020) pekan lalu, menarik perhatian. Maklum, salah satu pembalap yang menjajal mobil adalah Fernando Alonso, juara dunia 2005 dan 2006.

Alonso diberikan izin karena – sesuai aturan FIA – tidak turun minimal enam balapan F1 dalam dua tahun terakhir. Tes tersebut dirasa wajar, utamanya bagi Renault – tahun depan berganti nama menjadi Alpine – yang akan mengontraknya F1 2021.

Selain Alonso, 39 tahun, nama pembalap veteran lain yang menarik perhatian adalah Kimi Raikkonen. Juara dunia 2007 yang saat ini sudah berusia 41 tahun itu masih dipertahankan Tim Alfa Romeo Racing untuk musim depan.

Praktis, Kejuaraan Dunia Formula 1 2021 akan diramaikan oleh tiga juara dunia. Selain Alonso dan Raikkonen, masih ada Lewis Hamilton, juara dunia tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020), milik Tim Mercedes-AMG Petronas.

Jumlah kemenangan Alonso di F1 11 lebih banyak ketimbang Raikkonen. Namun, Raikkonen unggul dari sisi total podium (103, termasuk 21 kemenangan).

Jumlah lap tercepat (fastest lap) Alonso hanya separuh dari Raikkonen (46). Tetapi, total poin keduanya nyaris menyentuh 1.900. Alonso mengoleksi 1.899 poin dari 17 musim turun di F1 (2001, 2003-2018). Sementara, Raikkonen 1.863 dalam 18 tahun (2001-2009, 2012-sekarang).

Di balik pembawaannya yang dingin, Kimi Raikkonen (kiri) ternyata selalu memperhatikan hal-hal detail. Tampak ia membantu seorang mekanik Tim Alfa Romeo memperbaiki mobil di paddock.

Di balik pembawaannya yang dingin, Kimi Raikkonen (kiri) ternyata selalu memperhatikan hal-hal detail. Tampak ia membantu seorang mekanik Tim Alfa Romeo memperbaiki mobil di paddock. <span class="copyright">Charles Coates / Motorsport Images</span>
Di balik pembawaannya yang dingin, Kimi Raikkonen (kiri) ternyata selalu memperhatikan hal-hal detail. Tampak ia membantu seorang mekanik Tim Alfa Romeo memperbaiki mobil di paddock. Charles Coates / Motorsport Images

Charles Coates / Motorsport Images

“Saat bicara hal-hal detail, mereka banyak bertanya dan ingin langsung mendapatkan jawaban karena pembalap sekelas Alonso dan Raikkonen ingin tahu apakah masukan mereka didengar atau tidak,” ujar Boullier.

“Pembalap sekaliber mereka suka menarik perhatian karena bisa mengarahkan dan memberi pengaruh pada desain mobil agar sesuai dengan keinginan mereka.”

Boullier mengisahkan, Raikkonen pernah tidak senang dengan sistem power steering mobil Lotus. Pembalap asal Finlandia itu memang salah satu yang sangat sensitif dengan setir.

“Akhirnya kami harus mengulang desain poros kemudi (steering rack) agar sesuai dengan keinginan dan karakter mengemudinya. Kami menurutinya bukan seperti memberikan mainan untuk anak kecil. Ia langsung membuktikan lewat hasil di trek,” ucap Boullier.

Raikkonen memperkuat Lotus pada 2012 dan 2013 dengan masing-masing menempati posisi ketiga dan kelima klasemen akhir pembalap. Ia membantu Lotus finis di posisi keempat klasemen akhir konstruktor F1 2012 dan 2013, di bawah kepemimpinan Boullier.

Sebelum menjadi bos Lotus, Eric Boullier menjalankan Gravity Management yang fokus pada pengembangan pembalap muda. Salah satu pembalap binaan mereka adalah Esteban Ocon.

Ocon sudah cukup berpengalaman dengan memperkuat Force India dan kini Renault. Tetapi, ia masih harus mengejar kemampuan pembalap seperti Fernando Alonso dan Kimi Raikkonen dalam hal-hal detail, seperti pengenalan terhadap mobil.