Mengapa penghitungan suara pemilu AS begitu lama?

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Tiga hari setelah pemungutan suara ditutup, Amerika Serikat dan dunia masih belum mendapatkan hasil akhir dari pemilihan presiden ini, meskipun calon presiden dari Demokrat Joe Biden di ambang melengserkan Donald Trump.

Penantian tersebut telah memicu ketegangan di seluruh negara yang sudah terpolarisasi itu di mana Trump menuduh tanpa disertai bukti bahwa Demokrat tengah merekayasa kecurangan.

Tetapi penundaan itu sendiri sudah luas diperkirakan, seringkali karena alasan khusus masing-masing negara bagian yang di bawah sistem AS masing-masing menggelar pemungutan suaranya sendiri:

California, negara bagian terpadat di negara itu, dengan cepat menyatakan Biden pemenang pemilu setelah pemungutan suara ditutup Selasa. Namun, kesimpulan semacam itu sebenarnya merupakan proyeksi media massa daripada hasil resmi yang artinya butuh waktu lebih lama untuk mendapatkan gambaran akurat di negara bagian-negara bagian yang selisih suaranya tipis.

"Semakin dekat ke pertarungan, semakin lama waktu yang dibutuhkan," jelas Kathy Boockvar, sekretaris negara bagian yang penting sekali, Pennsylvania, kepada wartawan.

Negara bagian-negara bagian juga memiliki tenggat waktu berbeda-beda saat menerima surat suara yang tidak hadir, terutama yang berasal dari militer atau warga negara lain yang tinggal di luar negeri.

North Carolina telah menunda penghitungan setidaknya 171.000 surat suara -yang bisa menciptakan perbedaan karena berdasarkan undang-undang negara bagian ini menerima suara yang datang melalui pos sampai 12 November asalkan dicap posnya pada Hari Pemilu.

Demikian pula, Nevada, yang juga menjadi pertarungan yang ketat, akan menghitung surat suara yang bercap pos Hari Pemilu asalkan tiba pada 10 November.

Yang juga menyebabkan keterlambatan adalah surat suara sementara yang dikeluarkan untuk pemilih jika ada kebingungan tentang pendaftarannya dan perlu verifikasi.

Karena mengkhawatirkan pandemi Covid-19, negara bagian-negara bagian yang terbiasa dengan jumlah suara absen yang terbatas telah dibanjiri dengan surat suara yang dikirimkan oleh warga yang tidak mau mengambil risiko dengan memberikan suara secara langsung di TPS.

Sekitar 65,2 juta dari 160 juta warga Amerika yang memiliki hal pilih tahun ini melakukannya melalui surat, menurut perkiraan US Elections Project.

Di Pennsylvania, badan legislatif yang dikuasai Partai Republik menolak upaya membiarkan pihak berwenang menghitung sebelum Hari Pemilu yang menyumbangkan kepada skenario di mana kota terbesarnya Philadelphia yang merupakan benteng suara Demokrat terakhir mengembalikan surat suara.

Beberapa tempat memiliki faktor-faktornya sendiri yang menunda penghitungan suara seperti Chatham County di Georgia yang diperebutkan dengan ketat, di mana sebuah divisi pemilu dan badan pendaftaran secara terpisah melihat surat suara.

Tim kampanye Trump memanfaatkan penundaan ini untuk menuntut penghentian penghitungan di negara bagian-negara bagian di mana mereka tengah tertinggal, terutama Pennsylvania yang Partai Republiknya telah menghubungi Mahkamah Agung AS.

Kubu Republik selama berbulan-bulan berjuang menentang izin untuk Pennsylvania dalam menghitung surat suara via pos pada Hari Pemilu jika surat suara baru tiba Jumat.

Di Wisconsin, tempat Biden meraih kemenangan tipis dalam hasil yang diumumkan Rabu pagi, Mahkamah Agung memutuskan bahwa hanya suara yang diterima pada Hari Pemilu yang akan dihitung.

Sebagian besar negara bagian membolehkan pihak-pihak bersengketa untuk mengamati penghitungan tetapi tantangan terhadap aturan memakan waktu, dengan para pendukung Trump menyoroti masalah khusus pada aturan Philadelphia bahwa pengamat harus berjarak paling tidak 15 kaki (4,5 meter) karena risiko terpapar Covid.


sct/acb