Mengapa Rusia Ingin Kuasai Wilayah Donbas di Ukraina Timur?

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Rusia menarik pasukannya menjauh dari Kiev, ibu kota Ukraina dan mengalihkan fokusnya ke Donbas di Ukraina timur, setelah mengalami serangkaian kekalahan di ibu kota. Pindahnya pasukan Rusia ke Donbas dinilai bakal membuat konflik ini berlarut-larut.

Apakah Vladimir Putin bisa merebut daerah tersebut?

Pasukan Rusia telah menyebabkan bencana kemanusiaan di timur, meluluhlantakkan Mariupol, tapi mereka gagal mengalahkan militer Ukraina.

Pasukan Ukraina yang terlatih itu telah ditempatkan di timur karena di sana telah berlangsung perang delapan tahun dengan separatis yang didukung Rusia. Mereka diperkirakan telah menderita kekalahan besar, tetapi masih menjadi tantangan yang signifikan bagi pasukan Rusia.

Ketika Presiden Putin membahas Donbas, dia mengacu pada wilayah batu bara dan penghasil baja di Ukraina. Yang dimaksud Putin sesungguhnya adalah keseluruhan dua wilayah besar di timur Ukraina; Luhansk dan Donetsk, yang membentang dari luar Mariupol di selatan sampai ke perbatasan di utara.

NATO juga memperkirakan pasukan Rusia berusaha membangun jembatan darat, membentang sepanjang Donetsk sampai Krimea.

"Intinya adalah wilayah itu telah diidentifikasi Kremlin sebagai bagian Ukraina berbahasa Rusia yang lebih Rusia daripada Ukraina," jelas Sam Cranny-Evans dari Royal United Services Institute (RUSI), dikutip dari BBC, Selasa (19/4).

Wilayah-wilayah ini mungkin sebagian besar berbahasa Rusia, tapi mereka tidak lagi pro Rusia.

Sebulan perang, Rusia mengklaim mengambil alih 93 persen wilayah Luhansk dan 54 persen wilayah Donetsk. Putin masih belum bisa menaklukkan seluruh wilayah, walaupun dia mengklaim kemenangan, ini wilayah yang sangat besar untuk dikendalikan.

Mengapa Putin ingin merebut Donbas?

Putin berulang kali melontarkan tuduhan bahwa Ukraina melakukan genosida di wilayah timur. Ketika perang mulai, hampir dua pertiga wilayah timur berada di tangan Ukraina. Sisanya dikendalikan separatis pro Rusia.

Tak lama sebelum perang, Putin mengakui Donetsk dan Luhansk merdeka dari Ukraina.

Jika Rusia menaklukkan dua wilayah besar itu, itu akan menjadi pencapaian bagi Putin dalam perang Rusia. Langkah selanjutnya adalah menganeksasi Donbas, seperti yang dia lakukan dengan Krimea pada 2014.

Dan jika Rusia bisa menaklukkan Donbas sebelum 9 Mei, Putin akan bisa merayakannya pada Hari Kemenangan, untuk mengenang keberhasilan militer Rusia mengalahkan Nazi Jerman pada 1945.

Pemimpin boneka Rusia di Luhansk juga telah membicarakan soal referendum dalam waktu dekat, meskipun gagasan pemungutan suara tipuan di zona perang tampaknya tidak masuk akal.

Strategi Putin

Pasukan Rusia berusaha mengepung tentara Ukraina di timur, bergerak dari utara, timur, dan selatan.

"Ini adalah kawasan yang besar untuk dikendalikan, dan saya pikir kita tidak seharusnya meremehkan kompleksitas geografis wilayah ini," kata Tracey German, profesor konflik dan keamanan King's College London.

Setelah tujuh minggu pertempuran, mereka gagal merebut kota Kharkiv di selatan yang berbatasan dengan Rusia, tapi pasukan Rusia mengambil alih Izyum, daerah strategis di ujung jalan raya utama menuju timur yang dikuasai separatis.

"Jika Anda melihat apa yang mereka lakukan di sekitar Izyum, itu mengikuti jalur utama jalan raya dan itu masuk akal, mengingat mereka memindahkan sebagian besar peralatan mereka melalui jalan darat dan kereta api," jelas Profesor German.

Target besar selanjutnya adalah Slovyansk, kota berpenduduk 125.000 jiwa yang direbut pasukan yang didukung Rusia pada 2014 sebelum direbut kembali Ukraina. Merebut Kramatorsk, di selatan, juga menjadi sasaran besar Rusia.

Pasukan Rusia telah menyerang kota-kota yang dikuasai Ukraina lebih jauh ke timur di daerah Luhansk. Mereka mengklaim telah merebut Rubizhne dekat Severodonetsk dan menghancurkan daerah Lysychansk dan Popasna, membunuh warga sipil di rumah-rumah mereka.

Kota-kota ini penting karena menguasainya akan memudahkan Rusia bergerak ke barat dan bergabung dengan pasukan Rusia yang berencana untuk bergerak ke tenggara Izyum.

Pasukan Rusia perlu mengendalikan jalur pasokan darat dan memblokir akses pasukan Ukraina ke rute kereta api dari barat. Kereta api merupakan transportasi paling efektif bagi pasukan Ukraina dan persenjataan berat dan rute tercepat bagi warga sipil yang melarikan diri.

Menguasai jaringan kereta api juga memudahkan pasukan Rusia memindahkan tentara dan pasokan mereka.

Kereta api masih melaju dari Slovyansk, tapi jalur menuju Izyum di utara dan Mariupol juga Melitopol di selatan telah terputus. Dan tidak ada layanan yang beroperasi dari Kramatorsk di selatan Slovyansk, setelah serangan roket menewaskan 57 orang saat menunggu kereta. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel