Mengapa Seseorang Bisa Sangat Berani dan Mayoritas Takut Mengambil Risiko?

·Bacaan 2 menit

VIVA - Mayoritas pendapat orang adalah hati hati, Anda jangan sampai salah. Sebab akibatnya bisa jatuh!

Sejak kecil anak-anak bisa jatuh, ada yang kemungkinan dia hati-hati, ada juga yang karena belum pernah jatuh, dia berani. Tapi mayoritas kita orang dewasa tidak berani.

Sehingga asumsinya, bila ada orang berani mati, dianggap tidak waras. Setengah cari mati.

Kenapa seseorang berani?

Pertama, seseorang berani karena pengalaman. Misalnya, pada saat saya digodok oleh seorang mentor Meta coach (meta artinya berada di atas), saya pun takut-takut. Bertemu seorang Profesor pun takut, kemudian saya dikenalkan kepada Dekan fakultas bisnis & ekonomi. Beliau disuruh komentar tentang saya. Sambil saya ngomong 30 menit.

Tentu komentar beliau negatif. Beliau S3 dengan tulisan 30 buah buku, pengalaman 30 tahun tentu beliau sebagai Dosen memiliki pikiran baku. Sedangkan saya street rat.

Tapi karena ada seorang ketua yayasan universitas bersama-sama saya, ya saya pun tidak takut. Tentu saja.

Demikian saya dikenalkan dengan cucunya Jacob oetama, saya pun gak peduli saya ngomong sesuai pendapat saya. Walaupun orang orang kok takut kepada anaknya boss.

Kedua, ada asumsi yaitu siapapun dia, memiliki blind spot. Tiap orang tidak bisa melihat titik di belakang. Itu blind spot. Sehingga dia butuh pandangan orang lain.

Saya pernah ketemu konglomerat dengan assets terbanyak nomor 8 di Indonesia, ternyata beliau mengaku masalahnya dia adalah sekarang sulit meyakinkan anaknya. Anak singa, adalah singa juga!

Ketiga, seseorang berani bukan berarti dia lebih bagus, lebih tinggi daripada orang-orang lain. Seseorang tidak perlu bergelar 4-5 gelar. Tidak.

Yang dia butuh adalah sebuah celah koridor terbatas sehingga dia bisa melampaui batas impossible.

Misalnya, ada batas orang miskin dan kaya, bilamana Anda tidak punya koridor celah sempit tertentu Anda pun tidak akan tahu, karena takut melewati batas impossible.

Keempat, seseorang berani bukan berarti dia nekad berani mati. Itu khusus tentara pilot pesawat perang! Kalau seseorang berani, kemungkinan dia telah diuji.

Mengapa kok kita sulit melihat masa depan?

Karena ibarat di depan mata kita ada gunung yang menutup pandangan. Oleh karena itu, kita pun butuh mendaki melampaui gunung tersebut. Gunung itu adalah ego dirinya sendiri. Bilamana anda melampaui ego pikiran tentang dirinya sendiri, akan cukup tinggi untuk melihat pandangan dengan benar.

Saya menulis buku "Melacak Jejak BLBI" sudah setahun saya tulis. Telah diuji dengan sahabat mentor Meta coach saya. Juga diuji oleh tokoh komisaris grup konglomerat.

Saya pun menguji bersama ketua organisasi Jokowers, dan para Jendral beberapa angkatan TNI. Sampai kemudian saya berteman dengan guru lama, seorang Menteri kabinet Gus Dur.

Akhirnya saya pun disuruh paparan kepada konglomerat nomor satu di Indonesia, tentu didampingi sahabat saya pak Menteri.

Akibatnya, para sahabat saya pun berkomentar, "Kamu kok sangat berani, mau memberi nasehat pak konglomerat?" (Goenardjoadi Goenawan MM, Penulis Buku Melacak Jejak BLBI)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel