Mengapa Tinja Manusia Ada yang Mengambang dan Tenggelam?

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketika manusia buang air besar, terkadang ada beberapa kotoran yang mengambang di air dan ada juga yang tenggelam.

Meski mengambang atau tidaknya kotoran bukan hal penting, namun apa sebenarnya yang menyebabkan kotoran-kotoran itu ada yang mengambang dan tenggelam?

Sebelumnya sebuah penelitian yang dilakukan pada 1972 oleh Michael Levitt, ahli gastroenterologi dari University of Minnesota Hospitals dan muridnya, William Duane menjelaskan mengapung atau tenggelamnya kotoran manusia dapat terjadi karena jenis bakteri yang berada di usus dan berapa banyak gas yang dihasilkan.

Penelitian Levitt juga menunjukkan mengapung atau tenggelamnya kotoran terkait dengan kandungan gas dari kotoran dan bukan kandungan lemak.

Untuk membuktikan temuannya, Levitt dan Duane mengumpulkan kotoran mengambang dari 13 orang dan setelah Levitt dan Duane menghilangkan gas pada kotoran itu, semua kotoran itu tenggelam.

Levitt kala itu juga membuktikan penemuannya melalui kotoran muridnya, Duane.

"Sekitar 2 jam setelah diskusi kami, dia buang air besar, kami memasukkannya ke dalam gelas, memberi tekanan pada gelas dan melihat tinja tenggelam, menunjukkan tinja membengkak karena kandungan gasnya," jelas Levitt.

Levitt dan Duane yakin gas yang terkandung berasal dari bakteri usus yang tergabung dengan kotoran. Adanya gas metana di dalam kotoran juga menunjukkan bakteri yang memfermentasi karbohidrat saat melewati usus besar. Namun kala itu mereka tidak dapat memastikan temuan itu.

Karena itu, penelitian Levitt dan Duane dilanjutkan Nagarajan Kannan di Mayo Clinic Rochester, Minnesota bersama dengan rekan-rekannya.

Dalam penelitian, Nagarajan dan rekan-rekannya berusaha mengembangbiakkan tikus laboratorium yang tidak memiliki bakteri usus. Tikus-tikus yang tidak memiliki bakteri selalu menghasilkan kotoran yang tenggelam sedangkan hampir setengah tikus umum lainnya selalu menghasilkan kotoran yang mengambang.

Berdasarkan penelitian Nagarajan dan rekan-rekannya, temuan Levitt dan Duane adalah benar.

Bahkan Nagarajan dan rekan-rekannya menyuntikkan bakteri usus dari kotoran tikus umum ke dalam perut tikus bebas kuman. Suntikan itu menyebabkan kotoran tikus bebas kuman mulai mengambang.

"Sekarang, tidak ada kebingungan tentang apa yang membuat kotoran mengambang, itu adalah gas dari mikroba usus, bukan dari udara atau sumber lain," jelas Nagarajan, dikutip dari New Scientist, Jumat (18/11).

Analisis lanjut dari kotoran tikus yang mengambang memperlihatkan kalau kotoran itu mengandung banyak bakteri penghasil gas, seperti Bacteroides ovatus dan Bacteroides uniformis yang dapat meningkatkan produksi metana dan frekuensi perut kembung pada manusia.

Kini Nagarajan ungkap dia dan rekan-rekannya akan melanjutkan penelitian pada tikus-tikus itu.

Sebelumnya kotoran mengambang atau tenggelam yang dihasilkan manusia sangat dipengaruhi dari makanan, genetika, dan lingkungan saat lahir. Semua itu menjadi faktor pengaruh campuran bakteri dalam usus.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]