Mengapa Wilayah Timur Ukraina Lebih Pro-Rusia?

·Bacaan 5 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Tujuh minggu setelah Wali Kota Kreminna yang pro Kremlin ditemukan tewas dengan luka tembak, pasukan Rusia merebut kota Ukraina itu pada Selasa sebagai bagian serangan baru di wilayah timur Ukraina.

Volodymyr Struk, sopir truk yang beralih menjadi pemilik pabrik bir, dulunya seorang anggota parlemen dari Partai Daerah, pasukan pro Rusia terbesar Ukraina, dari 2012 sampai 2014, di wilayah Luhansk di tenggara.

Setelah kelompok separatis mengubah sebagian wilayah itu menjadi "Republik Rakyat" yang didukung Moskow, Struk pindah ke sana dari Kreminna, kota yang dikuasai Ukraina berpenduduk 18.000 jiwa di dekat Luhansk.

Jaksa Ukraina mendakwa Struk dengan separatisme, tapi dia kembali ke Kreminna - dan terpilih sebagai wali kota pada November tahun lalu dengan hampir 52 persen suara.

Walaupun menghadapi dua perintah penangkapan, pria 57 tahun itu dengan bangganya memakai simbol Moskow yang dilarang - pita hitam dan jingga.

Hari-hari sebelum kematiannya, Struk mengatakan penjajah Rusia disambut di Kreminna. Lalu sekelompok pria tak dikenal yang menyamar menculik Struk dari rumahnya, dan pada 1 Maret, jasadnya ditemukan.

"Seluruh aparat negara Ukraina - SBU (badan intelijen), Kementerian Dalam Negeri, jaksa, pengadilan - tidak bisa melakukan apapun dengan Struk yang seorang separatis terbuka selama delapan tahun karena dia punya banyak uang. Kemungkinan besar dukungan dari Federasi Rusia," jelas Anton Heraschenko, ajudan menteri dalam negeri, di Telegram pada 2 Maret, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (21/4).

Heraschenko mengatakan, Struk "dieksekusi patriot tak dikenal sebagai seorang pengkhiat", disertai foto jasad Struk di unggahannya itu.

Siapa orang Ukraina yang pro Rusia di wilayah timur?

Antara 2014, ketika pemberontakan separatis pro Rusia mulai dan 24 Februari 2022, ketika Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina, lebih dari 13.000 orang terbunuh dalam konflik antara dua negara itu.

Jutaan orang mengungsi, dan wilayah Donetsk dan Luhanks yang dikuasai pemberontak, menjadi proto-negara totaliter, di mana ratusan orang dipenjara dan disiksa karena pro Ukraina.

Menurut pengamat, ada mentalitas dominan di rustbelt, wilayah tambang batu bara, pabrik baja, dan pabrik kimia berbahasa Rusia, "jenis paternalisme khusus yang muncul dari inti industri kawasan itu," kata analis yang berbasis di Kyiv, Aleksey Kushch kepada Al Jazeera.

Penduduknya terbiasa dengan manfaat era Soviet seperti perawatan kesehatan dan pendidikan gratis, dan sekarang merasa ditinggalkan oleh pemerintah pusat yang kekurangan uang.

Dia mengatakan partai-partai Ukraina "tengah" tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk dan kekuatan "oligarkis" seperti Partai Daerah dan keturunan politiknya mengisi ceruk.

"Pemilih kami pro-Rusia," kata Sergey Vaganov, pensiunan fotografer berusia 63 tahun dari Mariupol kepada Al Jazeera.

"Tidak ada partai besar Ukraina yang mencoba bekerja di sini, jujur saja. Tidak ada yang berjuang untuk para pemilih."

Mariupol, kota paling selatan di Donetsk, pernah diduduki separatis sebentar pada 2014 dan menjadi ibu kota administratif de-facto Donetsk ketika Ukraina mengambil alih kembali wilayah itu, tapi gagal memenangkan hati masyarakat.

Nostalgia era komunis

Mengingat sikap apatis yang meluas, jumlah pemilih umumnya rendah di seluruh Ukraina, dan warga Ukraina kelahiran Soviet yang berusia lanjut termasuk di antara pemilih yang paling rajin; suara mereka mendorong Struk memenangkan kursi wali kota.

Nostalgia masa muda era Komunis mereka, mereka menonton siaran televisi Rusia dan perbatasan Rusia hanya beberapa jam jauhnya dari hampir semua tempat di Donbas – di mana banyak yang memiliki kerabat dan teman di seberang sana.

Ihor Saldyha (38), seorang warga Kharkiv yang terletak 40 km dari perbatasan Rusia, mengatakan beberapa orang tua yang ia temui di jalan-jalan kota yang terkepung itu tetap pro-Rusia.

Saldyha mengatakan, hanya pengeboman Rusia yang mengubah pikiran mereka.

Sementara itu, di beberapa kota dan desa di timur Ukraina, "cuci otak" selama bertahun-tahun membuat banyak anak muda sangat anti-Ukraina, kata seorang pengungsi dari Donetsk.

"Seluruh generasi yang membenci Ukraina dengan setiap sel tubuh mereka tumbuh di sana dalam delapan tahun terakhir," kata Oksana Afenkina, yang melarikan diri ke Kyiv pada 2020 setelah menerima ancaman pembunuhan, kepada Al Jazeera.

Terkadang, tindakan prajurit Ukraina memicu simpati pro-Rusia.

Pada 2014, selama fase konflik terpanas, pasukan Ukraina memasuki desa Georgievka di luar Luhansk – dan menemukan Andrey Lubyanoi adalah satu-satunya pria yang mampu bertarung di sana.

Yang lain telah melarikan diri ke Rusia atau bergabung dengan separatis, tetapi pekerja konstruksi berusia 44 tahun itu tinggal di desa untuk menjaga ketiga putrinya yang masih kecil.

Prajurit Ukraina menyiksanya dan menembakkan peluru ke kakinya setelah dia menolak untuk mengaku, karena mengira dia sebagai mata-mata pemberontak.

"Bukan masalah besar, kaki saya sembuh," katanya dengan ekspresi optimisme putus asa.

Para prajurit juga melemparkan granat di ruang bawah tanahnya, menghancurkan stok kentang, potongan daging asap dan belasan toples acarnya - dan membuat keluarganya kekurangan gizi di musim dingin.

Dia mengatakan tak suka tinggal di Kiev, tapi tak bisa memboyong keluarganya ke Rusia karena salah satu putrinya tidak memiliki dokumen identitas.

Invasi Rusia yang berlangsung saat ini membuat kehidupan mereka yang pro-Rusia di tanah Ukraina menjadi semakin kompleks.

Selain Kreminna, empat wali kota lagi di bagian Luhansk yang dikuasai Ukraina menjadi pengkhianat, kata gubernur regional Serhiy Haidai pada 3 April.

Selama serangan baru Rusia di wilayah timur yang dijuluki Pertempuran Donbas, mereka dapat membocorkan informasi tentang keberadaan prajurit Ukraina, militer dan penyimpanan bahan bakar, serta mendesak orang lain untuk berkolaborasi.

Mereka juga ikut melontarkan tuduhan Kremlin terhadap pemerintah pro-Barat Presiden Volodymyr Zelenskiy, tentang upaya "genosida" terhadap warga Ukraina yang berbahasa Rusia.

"Saya syok dengan genosida terhadap kami oleh Nazisme Ukraina," kata Serhiy Khortiv, wali kota kota Rubizhne dalam video yang diunggah di YouTube pada awal April.

"Anda fasis, Eropa dan Amerika menelurkan Anda, dan Anda menari dan bernyanyi demi uang mereka atas darah kami," ujarnya kepada pemerintah Ukraina.

Kemudian, Kantor Kejaksaan Agung mengatakan Khortiv terancam hukuman 10 tahun penjara karena "konspirasi jahat" dengan separatis dan Rusia. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel